Dr. Ir. H. Sambari Halim Radianto, S.T., M.Si. (lahir 7 Agustus 1959) adalah Bupati Gresik pada periode 2010-2015 dan periode 2016-2021. Ia dilantik pada 27 September2010 oleh Gubernur Jawa Timur, Soekarwo di Ruang Mandala Bhakti Praja Lantai IV Gedung Kantor Bupati Jalan Dr Wahidin Sudirohusodo, Kabupaten Gresik.[1][2]
Sebelum menjadi bupati, Sambari pernah menjabat sebagai wakil bupati Gresik pada periode 2000-2005 pada masa kepemimpinan bupati Robbach Masum. Kemudian, ia bersama pasangannya Mohammad Qosim memenangi pilkada dan mengalahkan lima pasangan lainnya yaitu Husnul Khuluq-Musyafak Noer, Sastro Suwito-M Samwil, Bambang Suhartono-Abdullah Qoni' (Bani), Mujitabah-Suwarno, Mohammad Nashihan-Syamsul Maarif pada tahun 2010. Pada tahun 2016, ia kembali dan Moh Qosim kembali memenangkan pilkada kedua kalinya dan mengalahkan dua pasangan lainnya yakni Husnul Khuluq-Achmad Rubaie, Achmad Nur Hamim-Junaedi.[3]
Sambari lahir dan besar dari keluarga miskin di Desa lowayu, Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik. Orang tuanya bekerja sebagai buruh tani. Pada usianya yang ke-14 hari, ia ditinggal wafat oleh ayahnya. Sambari pernah terlambat masuk sekolah karena ketiadaan biaya. Dia menempuh pendidikan sekolah dasar (SD) pada usia 11 tahun. Kendati kendala ekonomi, Sambari aktif mengikuti berbagai kegiatan di sekolah seperti pramuka, OSIS, sampai organisasi kepemudaan seperti karang taruna. Bahkan, ia pernah menjabat ketua AMPI dan KNPI di Kabupaten Gresik.[4]
Karier
Sebelum menjadi bupati, Sambari memulai karier politiknya sebagai anggota DPRD Kabupaten Gresik dari partai Golkar pada tahun 1997. Selama menjabat sebagai bupati, Sambari telah membangun banyak infrastruktur di Kabupaen Gresik. Pembangunan itu meliputi Stadion Gelora Joko Samudro (Gejos), monumen atau landmark di sejumlah jalur protokol, gedung Wahana Ekspresi Poesponegoro (WEP), rumah sakit, dan lainnya. Pembangunan itu berasal dari dana APBD Kabupaten Gresik.[4][5] Dibandingkan dengan tahun 2010 yaitu Rp923 miliar, dana APBD Kabupaten Gresik berhasil meningkat tiga kali lipat menjadi Rp3,42 triliun. Kemudian, pendapatan asli daerah (PAD) awal yang sebesar Rp160,9 miliar meningkat lima kali lipat menjadi Rp799,8 miliar.[4]
Karya
Sambari aktif menulis makalah dan buku yang jumlahnya lebih dari sepuluh buah, di antaranya yaitu:
Gusurlah Kemiskinan, Jangan Menggusur Orang Miskin
Prospektif, Implementasi Otonomi Daerah Dalam Anggaran Pendapatan Belanja Daerah
Prospek Pemulihan Ekonomi Secara Restrukturisasi Kebijaksanaan, Sektoral Dan Perwilayahan Dalam Rangka Menyongsong Milenium III