Saifuddin Jaqmaq (bahasa Arab:الظاهر سيف الدين جقمقcode: ar is deprecated ; lahir 1373 – 13 Februari 1453) adalah sultan Mamluk Mesir yang memerintah dari 9 September 1438 hingga 1 Februari 1453.[1][2]
Karier awal
Jaqmaq berasal dari keturunan Sirkasia. Ia dibawa ke Mesir oleh kakaknya dan dijual kepada atabeg Inal al-Yusufi pada masa pemerintahan Sultan Barquq. Ia kemudian dilatih di Benteng Kairo untuk bergabung dengan Khasikiya (Pengawal Sultan). Setelah itu ia bekerja sebagai pembawa minuman bagi Sultan An-Nasir Faraj.[3]
Kemudian ia menjadi mamluk yang menjabat sebagai na'ibDamaskus pada masa pemerintahan Al-Mu'ayyad Shaykh pada 1418–1420, ketika ia membangun Khan Jaqmaq. Setelah itu ia menjadi na'ib Benteng Kairo di bawah Sultan Saifuddin Tatar. Selanjutnya ia menjadi atabeg pada masa Sultan Barsbay, ketika ia memimpin sebuah kampanye untuk menekan pemberontakan Beylik Dulkadir di Anatolia. Ia memperoleh kepercayaan Barsbay hingga diangkat sebagai wali bagi putranya, Al-Aziz Jamaluddin Yusuf.[4]
Pada 1438, Sultan Barsbay meninggal dan meninggalkan takhta kepada putranya Yusuf yang baru berusia lima belas tahun. Jaqmaq kemudian mengatur sebuah rencana yang membuatnya berhasil menyingkirkan Yusuf dan menjadi sultan baru pada usia enam puluh lima tahun.[4]
Pemerintahan
Setelah menjadi sultan baru, sebuah pemberontakan meletus yang dipimpin oleh emir Korkmaz al-Sha'abani. Namun, Jaqmaq membagikan emas baik kepada para pendukungnya maupun kepada para pendukung Korkmaz, sehingga Korkmaz akhirnya ditinggalkan oleh semua pengikutnya. Jaqmaq kemudian menangkapnya dan mengeksekusinya di Aleksandria.[5]
Jaqmaq kemudian harus menghadapi pemberontakan para emir di Suriah. Para gubernur Damaskus, Inal al-Jakmi, dan Aleppo, Tagri Barmash, berpihak kepada Yusuf yang berhasil melarikan diri dari Kairo. Yusuf akhirnya ditangkap kembali dan Jaqmaq mengasingkannya ke Aleksandria. Jaqmaq mengirim pasukan yang dipimpin oleh Akabgha al-Tamrazi untuk melawan para emir pemberontak, yang akhirnya dikalahkan dan ditangkap.[5]
Setelah itu, Jaqmaq juga harus menghadapi pembajakan dari Kerajaan Kristen Siprus dan Ordo Hospitaller di Rhodes. Pada 1439, Jaqmaq melancarkan sebuah kampanye terhadap kedua pulau tersebut, tetapi tanpa banyak keberhasilan. Kegagalan kedua pada 1442 mendorongnya membangun armada yang mampu melancarkan serangan besar terhadap Rhodes. Pada Juli 1444, armadanya berangkat dari Mesir untuk menyerang Rhodes; desa-desa di pulau itu dihancurkan, tetapi bentengnya bertahan hingga akhirnya komandan armada menghentikan pengepungan.[6] Setelah kegagalan tersebut, Jaqmaq hidup dalam keadaan damai dengan para tetangganya.
Shahrukh Mirza, putra sekaligus penerus Timur, mengirim sebuah kedutaan ke Kairo. Ia meminta izin kepada Jaqmaq untuk menyediakan Kiswah bagi Ka'bah. Jaqmaq awalnya menolak, kemudian menerima tawaran itu meskipun menghadapi penentangan publik. Ketika duta Shah Rukh—seorang janda Timur—tiba di Kairo dengan membawa Kiswah, ia disambut dengan lemparan batu.[7] Jaqmaq menekan kerusuhan tersebut dan mengizinkan sang duta pergi ke Mekkah. Namun, Kiswah yang dibawanya hanya menutupi Ka'bah selama satu hari.[8]
Pada 1453, Jaqmaq yang telah berusia delapan puluh tahun meninggal setelah menunjuk putranya, Fakhruddin Utsman—yang dinamai menurut bangsa Utsmaniyah—sebagai penerusnya.[9]
Keluarga
Istri pertama Jaqmaq adalah Khawand Mughul. Ia lahir pada 1403.[10] Ia merupakan putri hakim sekaligus sekretaris kepercayaan Nasiruddin bin al-Birizi,[11] dan sebelumnya telah menikah tiga kali,[10] salah satunya dengan seorang hakim.[11] Pernikahan keduanya diatur oleh Sultan Al-Mu'ayyad Shaykh meskipun ditentang oleh ayahnya.[12] Ia memiliki seorang saudara laki-laki bernama Kamaluddin Muhammad[13] dan seorang saudara perempuan bernama Zaynab (meninggal 10 Juli 1470).[14] Dari pernikahan ini lahir seorang putri bernama Khadijah (1433–34[15] – 30 Januari 1463[16]), yang menikah dengan Atabag Azbak pada 13 Maret 1450.[17] Jaqmaq menceraikannya pada September–Oktober 1438[17] setelah beredar rumor bahwa ia telah mengutuk budak perempuan kesayangan Jaqmaq, Surbay, sehingga menyebabkan kematiannya sebulan sebelumnya.[18] Setelah perceraian itu, ia pindah dari al-Qa'a al-Kubra ke Qa'at al-Barbariyya sebelum akhirnya meninggalkan benteng dan tinggal di rumah saudaranya.[19] Ia meninggal pada 14 Mei 1472 dan dimakamkan di halaman makam Imam al-Syafi'i.[11]
Pada Desember 1438, Jaqmaq menikahi Khawand Zaynab, putri Amir Jarbash al-Karimi.[17] Ibunya adalah Fatima Umm Khawand (meninggal 26 April 1487),[20][21] putri Qani Bay,[22] yang merupakan putra saudari Sultan Barquq.[23] Ia meninggal pada 1459[17] dan dimakamkan di madrasah Sultan Barquq di Bayn al-Qasrayn.[23] Istri lainnya adalah Khawand Nafisa, juga dikenal sebagai Khawand at-Turkmaniya. Ia adalah putri penguasa Dulkadir, Nasireddin Mehmed Bey, dan sebelumnya pernah menikah dengan Janibek as-Sufi. Mereka menikah pada 1440. Ia memiliki seorang putri dan meninggal akibat wabah pada 15 April 1449.[17][7]
Istri lainnya adalah Khawand Jansuwar, putri Giritbay, seorang amir Sirkasia. Mereka menikah pada Desember 1449–Januari 1450. Istri lainnya adalah Khawand Shahzada.[17] Ia merupakan putri Pangeran Utsmaniyah Orhan Çelebi, putra Süleyman Çelebi, yang sendiri merupakan putra Sultan Bayezid I. Ia memiliki seorang adik laki-laki bernama Süleyman Çelebi.[24] Ia sebelumnya pernah menikah dengan Sultan Barsbay.[25] Dari pernikahan itu lahir empat orang putra, tetapi semuanya meninggal akibat wabah di Kairo pada 26 Maret 1449; yang tertua bernama Ahmed berusia tujuh tahun. Jaqmaq menceraikannya pada 25 Desember 1450.[24] Istri lainnya adalah putri Naziru'l-Jaysh Kadi Abdulbasit, yang dinikahinya pada April 1451.[17] Istri lainnya adalah putri Süleyman Bey, penguasa Dulkadir. Setelah kematian Jaqmaq, ia menikah dengan Sultan Al-Mu'ayyad Shihabuddin Ahmad. Ia meninggal pada 27 April 1460.[26]
Salah satu selirnya adalah Surbay, seorang Sirkasia yang merupakan selir kesayangannya. Ia meninggal pada 1438 dan dimakamkan di mausoleum Qanibay al-Jarkasi.[27][17] Beberapa selir lainnya adalah Jawhar al-Handar dan Khawand Jolban. Dengan salah satu dari mereka, ia memiliki seorang putra bernama Muhammad, dan dengan yang lainnya ia memiliki seorang putri bernama Fatima.[28] Selir lainnya adalah Dolaybay. Jaqmaq menikahkannya dengan wakil penguasa Damaskus, Barquq, dan dari pernikahan itu lahir seorang anak bernama Alaybay. Putranya, Sultan al-Mansur Fakhruddin Utsman, lahir dari seorang selir Yunani bernama Khawand Zahra.[28] Ia dimakamkan di sebuah madrasah yang dibangun oleh putranya di Bab al-Bahr.[27] Ia juga memiliki seorang putri lain yang lahir dari seorang selir Sirkasia. Putranya, Muhammad, menikah dengan Khadija, putri Aqtuwah, seorang Sirkasia dan kerabat Sultan Barsbay.[26] Putri lainnya bernama Sitti Sara.[29]
Referensi
12Chisholm, Hugh, ed. (1911). "Egypt/3 History". Encyclopædia Britannica. Vol.09 (Edisi 11). Cambridge University Press. hlm.80–130, see page 102. (7) Period of Burjī Mamelukes
12Morgenstern, M.; Tietz, C.; Boudignon, C.; Anteby-Yemini, L.; Balog, P.Y.; Chaumont, É.; Frenkel, Y.; Frenkel, M.; Giorda, M.C.C.; Großhans, H.P. (2011). männlich und weiblich schuf Er sie: Studien zur Genderkonstruktion und zum Eherecht in den Mittelmeerreligionen. Vandenhoeck & Ruprecht. hlm.244. ISBN978-3-647-54009-2.
123Keddie, N.R.; Baron, B. (2008). Women in Middle Eastern History: Shifting Boundaries in Sex and Gender. Yale University Press. hlm.133. ISBN978-0-300-15746-8.
↑Brunschvig, R. (1999). Studia islamica. G.-P. Maisonneuve-Larose. hlm.112. ISSN0585-5292.
↑University of California, Berkeley (1960). University of California Publications in Semitic Philology. History of Egypt, 1382-1469 A.D. University of California Press. hlm.92.
↑Taghrībirdī, A.M.Y.I.; Popper, W. (1976). History of Egypt, 1382-1469 A.D.: 1399-1411 A.D. AMS Press. hlm.178. ISBN978-0-404-58814-4.
12Berkey, J.P. (2014). The Transmission of Knowledge in Medieval Cairo: A Social History of Islamic Education. Princeton Studies on the Near East. Princeton University Press. hlm.144. ISBN978-1-4008-6258-0.
12Belleten, Volume 17, Issues 65-68. Türk Tarih Kurumu Basımevi. 1953. hlm.524–25, 527.
↑Shai Har-El (1995). Struggle for Domination in the Middle East: The Ottoman-Mamluk War, 1485-91. BRILL. hlm.73–74. ISBN978-9-004-10180-7.