Said Rasad lahir di Padang pada 1 Juli 1920 dari pasangan Sutan Muhammad Said gelar Sutan Bagindo dan Siti Air. Tamat MULO di Padang, ia melanjutkan pendidikan ke Algemeene Middelbare School (AMS) di Batavia dan Universitas Gadjah Mada.[6] Kembali ke Padang, ia bekerja sebagai guru di Sekolah Teknik Simpang Haru(Kageo Gakko, bekas Ambacht School, sekarang SMK).
Peristiwa Padang Area
Pada 27 November 1945 di Sekolah Teknik Simpang Haru terjadi Peristiwa Padang Area atau Insiden Simpang Haru. Insiden berawal dari pendudukan sekolah oleh serdadu KNIL secara paksa. Hal ini menyebabkan protes dari Said Rasad yang menjadi seorang guru sekaligus kepala sekolah di sana. Para serdadu KNIL memukul Said Rasad hingga pingsan. Hal ini memicu perlawanan dari pihak Republik sehingga pada malam harinya sekelompok pemuda menyerang para serdadu di sekolah yang telah mereka duduki.[7][8][9]
Karier
Said Rasjad diangkat menjadi Wali Kota Padang pada 1947 setelah wali kota sebelumnya Bagindo Azizchan tewas terbunuh oleh serangan militer Belanda.[10] Semasa kepemimpinannya, ia memindahkan pusat pemerintahan dari Padang ke Padang Panjang.[11] Sementara itu, Belanda dalam upaya mempertahankan pengaruhnya menunjuk dr. A. Hakim, untuk menjadi Wali Kota Padang.[12]
Kariernya merosot setelah ia memutuskan mendukung Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Pada periode pertama kepemimpinan Gubernur Sumatera Barat Harun Zain (1966-1971), ia bersama Djamhur Djamin dan Agus Thaib ditunjuk sebagai penasihat gubernur dalam Badan Pemerintahan Harian (BPH).[14]
↑Penerangan, Indonesia Departemen; Penerangan, Indonesia Kementerian (1959). Propinsi Sumatera Tengah. Kementerian Penerangan.
↑Safwan, Mardanas, (1987), Sejarah kota Padang, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional.