Lulus dari Sekolah Dokter Djawa pada 1905, Abdoel Hakim pertama kali ditempatkan di Padang Sidempuan, kampung kelahirannya. Pada 1910, ia dipindahkan ke Binjai lalu, ia sempat bertugas di Tanjung Pura. Kariernya di Sumatera Barat dimulai pada tahun 1919. Ia ditugaskan untuk mengepalai dinas kesehatan setempat. Lalu pada tahun 1921, ia terpilih sebagai anggota Dewan Kota (Gemeenteraad) Padang. Ia terus terpilih sebagai anggota dewan hingga 1942 (kecuali dari tahun 1934 sampai 1938 karena cuti).
Freek Colombijn mencatat perannya sangat penting karena kepribadiannya disukai oleh para anggota dewan dari kalangan orang Eropa sehingga mereka menjadi lebih bersedia untuk mendengar anggota dewan pribumi.[7] Pada tahun 1923, ia sempat dipindahkan ke Boyolali dan Labuhan Deli. Setahun berikutnya, ia kembali ditugaskan ke Padang sebagai kepala dinas kesehatan Padangsche Benedenlanden. Selanjutnya pada tahun 1931, ia diangkat sebagai Wakil Wali Kota (Vervangend Eerste Burgemeester) Padang menggantikan M. Passer. Ia memegang jabatan ini sampai tahun 1942, ketika Jepang menduduki Sumatera Barat.
Saat Agresi Militer Belanda I, Abdoel Hakim dilantik oleh Belanda pada September 1947 untuk menjadi Wali Kota Padang[6] mengisi kekosongan pimpinan setelah tertembaknya Wali Kota Bagindo Aziz Chan pada 19 Juli 1947. Sebagai wali kota, ia mendukung negara Indonesia federal.[7] Sebenarnya walikota sah yang resmi oleh pihak republik telah ditunjuk sejak 20 Juli 1947 yakni Said Rasjad dengan menjalankan pemerintahan dalam pengasingan di Padang Panjang hingga masa menjabat berakhir secara de facto saat Abdoel Hakim menggantikan posisi sebagai wali kota.[6]
↑326 tahun Padang kota tercinta, 7 Agustus 1669-7 Agustus 1995: gerbang pariwisata Indonesia kawasan barat. Padang: Pemda Tingkat II Kotamadya Padang bekerja sama dengan PT Buana Lestari. 1995.
↑Nasution, Abdul Haris (1991). Sekitar perang kemerdekaan Indonesia: Periode Renville. DISJARAH-AD, dan Penerbit Angkasa.
↑Hasan, Teuku Moehammad (1991). Meester Teuku Moehammad Hasan memoir gubenur Sumatra dari Aceh ke pemersatu bangsa. Papas Sinar Sinanti. ISBN 979-9314-00-3.