Tercatat, sekolah ini didirikan pada zaman pemerintahan Hindia Belanda sebagai satu-satunya Sekolah Menengah Tingkat Permulaan (Pertama) di wilayah Karesidenan Madiun dengan nama MULO, singkatan dari Meer Uitgebreid Lagere Onderwijs.
Sekolah ini hanya menampung siswa dalam jumlah terbatas dengan persyaratan dan seleksi yang sangat ketat. Kemudian, pada zaman Jepang sekolah ini diganti nama Madiun Syuu Shuto Chugako yang artinya Sekolah Menengah Tingkat Permulaan di Madiun. Pada tahun 1948, Masa Pemberontakan PKI atau dikenal dengan Peristiwa PKI Madiun, sekolah ini dianggap sebagai tempat para pelajar dan rakyat membahas strategi untuk menentang tipu muslihat komunis dengan gerakan Front Demokrasi Rakyat. Oleh karena itulah, sekolah ini akhirnya menjadi sasaran teror dari komunis. Hal ini terbukti dari spanduk-spanduk PKI ang dipasang di depan sekolah ini. Sekaligus sekolah ini menjadi saksi, diproklamirkannya Republik Soviet Komunis di Madiun yang bertempat di Gedung Karesidenan Madiun. Data yang berkaitan dengan peristiwa ini dapat kita lihat di dalam diorama Musium Lubang Buaya di Jakarta.
Sayangnya, data-data fisik yang berkaitan dengan berdirinya sekolah ini kurang lengkap. Penetapan tanggal 18 September 1942 sebagai hari jadi atau kelahiran sekolah ini didasarkan pada dokumen/arsip Buku Induk Siswa yang pertama pada masa kepemimpinan Bpk. Puro Martodipuro sebagai kepala sekolah pada tahun 1942 s.d. 1943. Sejak saat itu sampai sekarang ini diyakini bahwa “Hari Ulang Tahun SMP Negeri 1 Madiun” diperingati dan dirayakan oleh warga sekolah setiap tahun pada tanggal 18 bulan September. Peringatan Hari Ulang Tahun SMP Negeri 1 Madiun selalu dirayakan dengan menyelenggarakan Porseni (Pekan Olahraga dan Seni) antarkelas, yang kemudian sejak tahun pelajaran 2002/2003 diagendakan menjadi program tahunan dalam kegiatan tengah semester pertama (KTS I) OSIS SMP Negeri 1 Madiun.
Sekarang, sekolah ini tetap berlanjut dan menjadi salah satu sekolah favorit di Madiun, SMPN 1 Madiun telah mencetak generasi cemerlang. Untuk info lebih lanjut mengenai SMPN 1 Madiun, bisa dilihat ke kita juga mempunyai laman facebook yaitu dan twitter
Alumni
Setelah sekian lama, dari zaman MULO hingga kini, sekolah itu telah melahirkan banyak alumni. Beberapa di antaranya memiliki peranan yang penting dalam berbagai bidang. Yang bisa kita sebut pertama adalah Sjafruddin Prawiranegara, pimpinan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Bukittinggi Sumatera Barat. Ketika ayahnya ditugaskan di Pengadilan di Ngawi, Sjafrudin bersekolah di MULO Madiun, melanjutkan pendidikan Europeesche Lagere School (ELS) sebelumnya di Serang Banten.
Alumni MULO Madiun lainnya adalah Roosseno Soerjohadikoesoemo, ahli teknik sipil yang dikenal sebagai Bapak Beton Indonesia. Dia bersekolah di MULO Madiun pada tahun 1922-1925, setelah sebelumnya menyelesaikan pendidikan ELS di Yogyakarta. Setelah lulus dari MULO dia melanjutkan pendidikannya di AMS B fogyakarta (1928), Civil Engineering (Mei 1932), dan Technische Hoogeschool Bandung.
Dalam bidang pemerintahan, Roosseno pernah menjabat sebagai Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga (1953), Menteri Perhubungan (1954), dan Menteri Perekonomian (1955). Sebagai ahli teknik sipil beberapa karyanya adalah Pelabuhan Bitung Manado, Pelabuhan Tanjung Priok, Gedung Bak Indonesia, Gedung Pola dan Kubah Masjid Istiqlal, Kompek Asian Games Senayan, Jembatan Semanggi dan banyak gedung lainnya.[2]