Ruth Williams Khama, Lady Khama (née Williams; 9 Desember 1923–22 Mei 2002) adalah istri dari presiden pertama BotswanaSeretse Khama, Kepala Suku dari suku Bamangwato. Ia menjabat sebagai Ibu Negara Botswana pertama dari tahun 1966 hingga 1980.[1]
Masa kecil
Khama lahir di Meadowcourt Road, Blackheath, di London Selatan,[2] putri dari George dan Dorothy Williams.[3] Ayahnya pernah bertugas sebagai kapten dalam Angkatan Darat Inggris di India, dan kemudian bekerja di bidang perdagangan teh.[4] Ia memiliki seorang saudari bernama Muriel (yang kemudian dikenal sebagai Muriel Sanderson), mereka berdua tetap menjalin hubungan yang dekat.[5]
Ia menempuh pendidikan di Eltham Hill Grammar School, kemudian bertugas sebagai pengemudi ambulans di berbagai pangkalan udara di selatan Inggris sebagai anggota WAAF selama Perang Dunia Kedua.[6] Setelah perang berakhir, ia bekerja sebagai pegawai administrasi untuk Cuthbert Heath, sebuah perusahaan penjamin asuransi di Lloyd's of London.[7]
Pernikahan
Pada Juni 1947, dalam sebuah acara dansa di Nutford House yang diselenggarakan oleh London Missionary Society, saudara perempuannya memperkenalkannya kepada Pangeran Seretse Khama. Ia merupakan putra Kgosi (gelar dalam masyarakat Bamangwato yang setara dengan "raja", meskipun pemerintah Inggris lebih menyukai istilah " kepala suku tertinggi"), Sekgoma II, pemimpin bangsa Bamangwato. Saat itu Seretse Khama sedang menempuh studi hukum di Inner Temple di London setelah sebelumnya belajar selama satu tahun di Balliol College, Oxford. Keduanya sama-sama menyukai musik jazz, khususnya grup The Ink Spots, dan dengan cepat saling jatuh cinta.[8]Seretse Khama adalah pria kulit hitam pertama yang pernah diajaknya berbicara.[9] Rencana mereka untuk menikah menimbulkan kontroversi di kalangan para tetua di Bechuanaland serta pemerintah Afrika Selatan, yang baru saja menerapkan sistem pemisahan ras yang dikenal sebagai apartheid.[10]
Pada masa itu Inggris sedang mengembangkan bom atom, yang dianggap penting untuk mempertahankan klaim Inggris sebagai kekuatan besar dunia. Karena itu, dianggap sangat penting agar pasokan uranium berasal dari dalam wilayah Persemakmuran. Afrika Selatan kebetulan memiliki cadangan uranium yang melimpah, yang dapat ditambang dengan biaya murah melalui metode tambang terbuka di padang veld oleh para pekerja kulit hitam Afrika Selatan yang menerima upah jauh lebih rendah dibandingkan para penambang kulit putih. Uranium juga dapat diperoleh dari wilayah Persemakmuran lain seperti Kanada, tetapi uranium Kanada ditambang melalui tambang poros dalam di wilayah utara yang terpencil oleh para pekerja dengan upah tinggi, sehingga biayanya jauh lebih mahal dibandingkan uranium dari Afrika Selatan. Oleh karena pertimbangan biaya tersebut, pemerintah Inggris jauh lebih memilih membeli uranium Afrika Selatan untuk program bom atomnya.[11]
Pemerintah Afrika Selatan dengan sangat jelas menyatakan bahwa kesediaannya memasok uranium bagi program nuklir Inggris bergantung pada dihentikannya rencana pernikahan tersebut.[12] Pemerintah Inggris pun campur tangan untuk mencegah pernikahan itu. Baik Ruth maupun Seretse adalah penganut Anglikan yang ingin menikah di dalam Gereja Inggris, tetapi mereka tidak dapat menemukan seorang pendeta pun yang bersedia menikahkan mereka.[9]Uskup London, William Wand, menyatakan bahwa ia hanya akan mengizinkan pernikahan gerejawi apabila pemerintah menyetujuinya.[13]
Pasangan tersebut akhirnya menikah di Kantor Catatan Sipil Kensington pada 29 September 1948.[14] Pernikahan mereka menarik perhatian besar dari media. Jurnalis Kanada Mackenzie Porter menulis pada tahun 1952: "Pers memperlakukan pernikahan mereka sebagai berita utama halaman depan. Di sini, menentang segala bahaya yang ia ketahui melekat pada pernikahan antar-ras, berdiri seorang keturunan dari Wangsa Khama yang kuno dan termasyhur. Dan di sini pula, yang ingin menjadi ratu Afrika, adalah seorang gadis pekerja Inggris yang dibesarkan dengan harapan hidup yang tidak lebih luar biasa daripada sebuah rumah semi-terpisah di salah satu kawasan permukiman besar London, serta seorang suami yang setiap pagi mengenakan topi bowler, membawa payungnya, dan menaiki bus tingkat merah menuju kota."[9]D. F. Malan, yang saat itu menjabat sebagai Perdana Menteri Afrika Selatan, menyebut pernikahan mereka sebagai "menjijikkan".[13][15] Sementara itu Julius Nyerere, yang ketika itu masih seorang guru magang dan kelak menjadi Presiden Tanzania, menyatakan bahwa kisah mereka merupakan "salah satu kisah cinta terbesar di dunia." [14]
Tiba di Bechuanaland
Mereka kemudian kembali ke Protektorat Bechuanaland, sebuah protektorat Inggris, tempat paman Seretse, Tshekedi Khama, bertindak sebagai wali raja. Bagi masyarakat Bamangwato, istri raja dipandang sebagai ibu bagi seluruh rakyat Bamangwato. Karena itu, bagi Pangeran Tshekedi, sama sekali tidak terpikirkan bahwa seorang perempuan kulit putih dapat menjalankan peran tersebut. Ia pun melobi Kantor Kolonial Inggris agar memaksa Seretse untuk memilih: melepaskan istrinya atau melepaskan haknya atas takhta.[13]
Dalam pemilihan umum Afrika Selatan tahun 1948, Partai Nasional yang berhaluan nasionalis Afrikaner dan memiliki kecenderungan republikan serta anti-Inggris meraih kemenangan. Kekhawatiran bahwa Perdana Menteri D. F. Malan mungkin akan menyatakan Afrika Selatan sebagai republik membuat pemerintah Inggris pada masa itu berusaha menenangkan Malan, yang secara terbuka menyatakan ketidaksetujuannya terhadap pernikahan keluarga Khama.[9] Malan melarang kedua pasangan Khama memasuki Afrika Selatan.[9] Sebuah surat kabar di Cape Town bahkan menyebut Ruth sebagai "gadis bodoh yang tidak tahu apa-apa".[9] Kehadiran "Ratu Putih", sebagaimana surat kabar Afrika Selatan menyebut Ruth yang dipandang sebagai ancaman terhadap sistem Apartheid, dan beberapa surat kabar di Afrika Selatan bahkan menganjurkan agar Bechuanaland diserbu jika "Ratu Putih" itu diizinkan tetap tinggal.[9]
Kedatangan Ruth di Bechuanaland pada Agustus 1949 bertepatan dengan musim hujan terbaik dalam beberapa dasawarsa, yang oleh masyarakat Bamangwato dianggap sebagai pertanda baik. Mereka pun menjulukinya "Ratu Hujan".[9] Ruth turut serta dalam sebuah upacara Bamangwato ketika sekelompok besar perempuan mengelilinginya sambil menyanyikan lagu-lagu, membawa ember berisi air atau jagung. Mereka kemudian berlutut dan mempersembahkan air serta jagung kepadanya sambil menyatakan, "Engkau adalah ibu bagi kami semua!"[9] Akibat pemberitaan yang kurang bersahabat, Ruth Khama tidak menyukai berbicara dengan para wartawan dan cenderung menghindari mereka. Banyak laporan surat kabar menggambarkan dirinya dan suaminya secara tidak menguntungkan, yang sangat melukai perasaannya. Salah satu hal yang paling membuatnya kesal adalah berbagai ketidakakuratan dalam berita, misalnya klaim bahwa nilai akademik suaminya di Inner Temple menurun setelah ia mulai berpacaran dengannya.[16]
Selain itu, ia juga terganggu oleh tulisan-tulisan di pers Inggris dan Amerika yang dibuat oleh wartawan yang belum pernah mengunjungi Bechuanaland, tetapi menggambarkannya seolah-olah sebagai wilayah lembap yang dipenuhi hutan lebat seperti Afrika Tengah, atau sebagai sabana khas Afrika Timur. Padahal Bechuanaland memiliki iklim panas dan kering, dan sebagian besar wilayah protektorat tertutup oleh Gurun Kalahari. Salah satu dari sedikit wartawan yang mau ia temui adalah jurnalis Amerika bernama Margaret Bourke-White, yang berhasil memperoleh kepercayaannya dan membuat sebuah esai foto tentang dirinya untuk majalah Life.[16]
Bourke-White kemudian menjadi sahabat dekatnya dan banyak membantu menguatkan semangatnya. Mengetahui bahwa Ruth Khama sangat menyukai kucing, Bourke-White menghadiahkan dua anak kucing kepadanya, Seretse menamai kedua kucing tersebut Pride dan Prejudice, mengikuti judul novel favorit istrinya, Pride and Prejudice.[17]
Pengasingan di London
Setelah memperoleh dukungan rakyat di Protektorat Bechuanaland, Seretse Khama dipanggil ke London pada Maret 1950 untuk melakukan pembicaraan dengan para pejabat Inggris. Ruth menasihati suaminya agar tidak pergi ke London. Belakangan ia berkata, "Aku mempunyai firasat bahwa mereka akan menahannya di sana."[9] Pada saat itu ia sedang hamil, dan jika anak yang dikandungnya laki-laki, ia ingin melahirkannya di Bechuanaland karena menurut adat Bamangwato seorang calon raja harus dilahirkan di tanah mereka.[9]
Seperti yang ia khawatirkan, pemanggilan itu ternyata sebuah tipu muslihat. Seretse dicegah untuk kembali ke tanah airnya dan diberi tahu bahwa ia harus tetap berada dalam pengasingan. Pemerintah Inggris, yang ingin tetap menjaga hubungan baik dengan pemerintah Afrika Selatan, menawarkan kepada Seretse uang sebesar 1.000 pound sterling jika ia bersedia melepaskan haknya atas takhta. Ketika ia menolak, ia diberitahu bahwa ia diasingkan dari Bechuanaland selama lima tahun. Dalam sebuah telegram kepada istrinya ia menulis, "Suku dan diriku ditipu oleh pemerintah Inggris. Aku dilarang kembali ke seluruh protektorat. Salam cinta, Seretse." Karena Ruth tidak dapat berbicara dalam bahasa Setswana dan sebagian besar orang kulit putih di Bechuanaland menghindarinya, setelah berpisah dari suaminya ia mengalami kesepian yang mendalam. Teman utamanya pada masa itu hanyalah dua ekor kucingnya dan bayi perempuannya.[18]
Pecahnya Perang Korea pada 25 Juni 1950 semakin meningkatkan pentingnya uranium Afrika Selatan. Pemerintahan Clement Attlee khawatir bahwa Amerika Serikat akan semakin memusatkan perhatian pada Asia dan mengabaikan Eropa, yang dikhawatirkan akan melemahkan "payung nuklir" Amerika.[19] Pemerintah Attlee bahkan meyakini ada kemungkinan bahwa Joseph Stalin memerintahkan invasi Korea Utara terhadap Korea Selatan dengan tujuan melibatkan Amerika Serikat di Asia Timur sehingga membuka peluang bagi Uni Soviet untuk menyerang Eropa Barat. Oleh karena itu dianggap sangat penting bagi Inggris untuk segera memiliki senjata nuklir sendiri, yang pada gilirannya semakin meningkatkan arti penting uranium dari Afrika Selatan.[19]
Menurut hukum Inggris, perkawinan antar-ras adalah sah. Oleh sebab itu, upaya untuk pada dasarnya menerapkan hukum Afrika Selatan yang melarang perkawinan antar-ras di sebuah protektorat Inggris melalui pengasingan keluarga Khama dipandang sangat kontroversial. Pada saat itu jelas bahwa tekanan dari Afrika Selatan merupakan faktor yang menentukan.[9] Di Afrika Selatan, surat kabar nasionalis Die Transvaaler menulis dalam tajuk rencananya: "Sementara pemerintah Inggris berusaha mempertahankan façade liberalisme yang diputihkan dengan kata-kata, dalam praktiknya mereka harus mengalah pada tuntutan apartheid."[13] Dalam tajuk rencana, surat kabar The Times menulis bahwa pemerintah tidak akan mudah meyakinkan opini publik yang telah bangkit dengan penuh kemarahan bahwa perbedaan sikap rasial antara Uni Afrika Selatan dan wilayah-wilayah Inggris dapat diselesaikan dengan cara menenangkan pihak lain dengan mengorbankan keadilan pribadi. Pemerintah harus membuktikan bahwa pengasingan Seretse tidak akan menimbulkan kerusakan yang lebih besar daripada pengakuan terhadapnya".[9] Opini publik Inggris pada umumnya berpihak kepada keluarga Khama dan menentang pemerintah.[20]
Pada masa ini pula terjadi rekonsiliasi dengan ayah Ruth, yang akhirnya menerima keputusan putrinya menikah dengan seorang pria kulit hitam. Ruth kemudian bergabung dengan Seretse di Inggris, dan sejak 1951 mereka hidup sebagai orang buangan di Croydon.[13]
Sebagai pemimpin oposisi resmi, Winston Churchill sebelumnya mengkritik larangan terhadap Seretse Khama yang diberlakukan oleh pemerintahan Attlee dan menyebutnya sebagai "tindakan yang sangat tercela". Namun setelah memenangkan pemilihan umum tahun 1951, Churchill justru memutuskan untuk mempertahankan larangan tersebut secara permanen dengan alasan bahwa kembalinya Seretse akan membahayakan ketertiban umum. Meskipun demikian, kerusuhan justru pecah di Bechuanaland ketika diketahui bahwa keluarga Khama tidak diizinkan pulang.[13] Dalam pemungutan suara di Dewan Rakyat Britania Raya pada tahun 1951, sebanyak 308 anggota parlemen memilih agar keluarga Khama tetap diasingkan, sedangkan 286 anggota lainnya memilih agar mereka diizinkan kembali.[9] Menariknya, Perdana Menteri Churchill yang sebelumnya membela keluarga Khama ketika masih menjadi pemimpin oposisi tidak mengatakan sepatah kata pun selama pemungutan suara tersebut.[9] Selama masa pengasingannya, Pangeran Seretse sering mengalami depresi. Pada tahun 1952 Ruth mengatakan kepada Porter bahwa, "Kadang-kadang ia hanya duduk di depan perapian sambil menghangatkan tangan dan tenggelam dalam pikirannya. Ia menderita lumbago karena iklim di sini. Betapapun aku mencintainya—bahkan lebih daripada pada hari kami menikah aku tidak dapat menggerakkannya ketika ia sedang berada dalam suasana hati yang gelap. Tidak ada apa pun yang dapat mengeluarkannya dari kemurungan itu."[9]
Ruth Khama dan suaminya memiliki empat orang anak. Anak pertama mereka, Jacqueline, lahir di Bechuanaland Protectorate pada tahun 1951[butuh rujukan], lahir di Protektorat Bechuanaland pada tahun 1951, tidak lama setelah Seretse diasingkan. Putra pertama mereka Ian lahir di Inggris pada tahun 1953, sedangkan anak kembar mereka, Anthony dan Tshekedi lahir di Bechuanaland pada tahun 1958. Anthony dinamai berdasarkan Tony Benn, yang saat itu dikenal sebagai Anthony Wedgwood Benn, yang mendukung kepulangan mereka dari pengasingan pada awal 1950-an.[15]
Ia tetap tinggal di Botswana setelah suaminya wafat saat masih menjabat pada tahun 1980, dan menerima penghormatan sebagai "Mohumagadi Mma Kgosi" (ibu raja atau ratu ibu). Meskipun pernikahan mereka sempat menimbulkan kontroversi nasional pada tahun 1940-an dan 1950-an, mereka berdua tetap tidak terpisahkan hingga Seretse meninggal dunia akibat kanker pada tahun 1980.[21]
Setelah kematian suaminya, ia tinggal di sebuah peternakan besar di Botswana, mengabdikan waktu dan tenaganya untuk kegiatan amal, serta menghabiskan waktu bersama anak-anak dan cucu-cucunya.[butuh rujukan]
Dua putra mereka, Ian dan Tshekedi, kemudian menjadi tokoh politik terkemuka di Botswana. Ian Khama bahkan terpilih sebagai Presiden Botswana pada tahun 2008.[22]
Kematian
Ruth Khama meninggal karena kanker tenggorokan di Gaborone pada tahun 2002 pada usia 78 tahun, meninggalkan empat anak. Ia dimakamkan di Botswana di samping suaminya.[15][13]