Rully Shabara adalah seorang vokalis yang lahir di Palu, 1982. Ia tinggal dan berkarya di Yogyakarta, Indonesia.[1] Proyek musik pertamanya Zoo, sebuah band math rock/eksperimental yang memadukan vokal dengan bass dan dua drum. Rully dengan kemampuan vokalnya yang unik berkolaborasi dengan musisi tradisional Wukir Suryadi, meskipun awalnya dipertemukan secara spontan oleh Wok The Rock, duo ini dikenal dengan nama Senyawa band dan merilis mini album pertama mereka tahun 2010 lalu, menghasilkan musik etnis kotemporer bernuansa rock dalam pengaruh avant garde.
Baik di Zoo maupun Senyawa, Rully selalu menulis sendiri lagu-lagunya serta menjalani tur di Asia, Australia, Eropa dan Amerika, sehingga ia pernah bekerja sama dengan banyak musisi dan artis internasional terkemuka seperti Keiji Haino, Stephen O’Malley, Otomo Yoshihide, Rabih Beaini, Damo Suzuki, Bob Ostertag, Yoshida Tatsuya, Trevor Dunn, dan Greg Fox.[2] Tidak puas dengan itu, ia pun membuat berbagai proyek baru sebagai komposer yaitu Raung Jagat dan Gaung Jagat, dan yang terbaru Setabuhan.[3]
Latar Belakang
Rully menempuh studi di Sekolah Tinggi Bahasa Asing LIA Yogyakarta, jurusan Sastra Inggris pada tahun 2000-2005. Setelah itu, ia bekerja sebagai interpreter dan penerjemah, sebelum banting setir menjadi seniman yang mengeksplor suara dan musik.
Karier
Memulai karier di musik bersama Zoo pada tahun 2005, dengan anggota Bhakti Prasetyo, Dimas Budi Satya, dan Ramberto Agozalie. Karier di dunia internasional dimulai ketika bertemu Wukir Suryadi dan membentuk duo Senyawa pada tahun 2010, dengan manajer Kristi Monfries juga terlibat dalam The Volcanic Winds Project, yayasan yang fokus pada pengembangan musik dan budaya kontemporer Indonesia untuk kancah global. Pada tahun 2018, ia meluncurkan Setabuhan bersama Ramberto Agozalie dan Daniel Caesar Kushardiono, sebuah proyek perkusi yang dilengkapi dengan pertunjukan seni bela diri.[4] Selain itu juga menelurkan beberapa album kolaborasi seperti Wirok bersama Rudy Wuryoko, Seroja bersama Soni Irawan, dan Mahanyawa bersama Kazuhisa Uchihashi.
Rully sering memrakarsai beberapa proyek yang bersifat inklusif, seperti metode pengolahan vokal Raung Jagat, yang kemudian berkembang menjadi sistem Gaung Jagat yang juga mencakup instrumen musik. Pada tahun 2014 bersama Satya Prapanca memulai Kombo, yang merupakan wadah untuk mengembangkan skena musik improvisasi,[5] juga Kebun Binatang Film, rumah produksi film yang memfokuskan pada pendokumentasian proyek dan kegiatan musik.[6] Di kota asalnya, Palu, bersama masyarakat lokal Kota Palu, Rully membuat Banue Dade, sebuah kelas tradisional untuk mempelajari lagu rakyat suku Kaili.[7]
Dalam hal berkolaborasi lintas disiplin, Rully bersama Senyawa pernah bekerjasama dengan kelompok tari kontemporer Australia Dancenorth,[8] koreografer Lucy Guerin, Gideon Obarzanek, juga koreografer Taiwan Su Wenchi,[9] hingga perupa asal Jepang Tsuyoshi Ozawa.[10]
Rully kerap melakukan lokakarya di berbagai belahan dunia, umumnya dengan metode ciptaannya, yaitu Raung Jagat. Hal menarik dari metode ini, peserta yang mengikuti lokakarya tidak terbatas untuk kalangan musisi saja, tetapi masyarakat awam bisa ikut serta juga.