Perjalanan karier mantan Dosen Seskoad, Paban IV/Faskon Slogad dan Sesditziad serta Danpusdikzi Kodiklatad ini juga malang melintang di Kopassus dan di Kodam VII/Wirabuana (sekarang Kodam XIV/Hasanuddin) sebagai Kazidam VII/Wirabuana dan Aslog Kasdam VII/Wirabuana serta Danrem 143/Halu Oleo. Ayah 3 orang putri yang salah satunya menjadi perwira TNI AU (Wara) ini, sebelum masuk menjadi taruna Akmil pada tahun 1989 merupakan salah satu peraih beasiswa dari Alm Prof. Dr. Ing B.J. Habibie ke Jerman.
Rido merupakan anak ke-3 dari 6 bersaudara juga melepas kesempatannya untuk menjadi dokter setelah dirinya memilih menjadi Taruna Akmil meski lulus ujian Sipenmaru di salah satu PTN. Namun berkat keteguhan dan keyakinannya anak dari pasangan Alm W. Endar Haryanto dan R. Arum Sari berhasil menjadi orang pertama dari sebuah kecamatan yang berbatasan dengan Cirebon yang menjadi Pati berpangkat Mayjen. Sebelum mengikuti Dik Lemhanas, karena dinilai sebagai pejabat Danrem yang berhasil, Rido Hermawan sempat menduduki jabatan di (Pusterad) yaitu sebagai Dirbinsismet Pusterad (2017).
Tidak saja di dalam penugasan, prestasi dan kepercayaan juga diterimanya ketika didaulat sebagai satu-satunya peserta yang mempresentasikan Taskap Lemhanasnya kepada Wakil Presiden RIDr. Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla. Selain pendidikan tertinggi di TNI AD yaitu Seskoad dan Lemhanas, pria dari kecabangan Zeni dan pasukan elit Kopassus ini juga berhasil menuntaskan pendidikan Pasca Sarjana S2 di UGM (2010). Bekerja dengan tulus, ikhlas serta doa orang tua dan keluarga adalah kunci utama sukses itu prinsip dari suami dari Etty Susilowati, S.Pd.