Sejak tahun 1970-an, para sarjana telah berupaya menempatkan Rasul Paulus dalam konteks sejarahnya di dalam Yudaisme Bait Suci Kedua.[2] Hubungan Paulus dengan Yudaisme mencakup topik-topik termasuk status Perjanjian Israel dengan Allah dan peran perbuatan baik sebagai sarana untuk memperoleh atau mempertahankan perjanjian tersebut.[3]
Dimasukkannya orang-orang bukan Yahudi ke dalam gerakan Kristen awal memicu kontroversi antara Paulus dan para Rasul lainnya mengenai apakah iman orang-orang bukan Yahudi kepada Kristus membebaskan mereka dari sunat.[3][4] Paulus tidak menganggap sunat perlu bagi orang bukan Yahudi, karena ia berpikir bahwa Allah memasukkan mereka ke dalam Perjanjian Baru melalui iman kepada Kristus.[3][4][5][6] Hal ini membuatnya berkonflik dengan kaum Yudaiser, sebuah faksi dari Yahudi Kristen yang percaya bahwa Hukum Musa memang mewajibkan sunat bagi orang-orang non-Yahudi yang masuk agama Kristen.[3][4][5][6][7] Pada akhirnya, pengikut pandangan Paulus menjadi lebih banyak, dan hal ini, di antara perkembangan terkait lainnya, menyebabkan terciptanya Kekristenan Paulus sebagai agama yang berbeda dari Yudaisme.[3][4]