Ia adalah Ketua Diplomatik RI pertama yang mengikuti utusan diplomat Mesir yang berkunjung ke Ibu kota Yogyakarta pada tahun 1947. Saat Blokade Agresi Militer Belanda diperketat, rombongan diplomat Indonesia menembus dengan mengikuti pesawat diplomat Mesir yang berangkat menuju negara-negara Arab. Maka lahirlah perjanjian-perjanjian dengan Belanda Konferensi Meja Bundar yang diakui oleh dunia Internasional.
Rasjidi menegaskan bahwa berdirinya Kementerian Agama bertujuan merealisasikan pasal 28 UUD 1945 tentang asas inklusivitas dan mengakhiri pemecahbelahan umat beragama di Indonesia pada masa Belanda (Het Kantoor voor Indlandsche Zaken, Kantor urusan pribumi Islam) dan Jepang (Shumubu).[2]
Pendidikan
Prof. Dr. H. Mohammad Rasjidi menempuh pendidikan di Fakultas Filsafat, Universitas Kairo, Mesir pada tahun 1938. Kemudian ia melanjutkan pendidikan Doktor di Universitas Sorbonne, Paris pada tahun 1956.
Anak kedua dari lima bersaudara ini menghabiskan masa kecilnya di Kotagede, Yogyakarta. Memasuki usia sekolah, Rasjidi belajar di Ongko Loro. Tak lama di Ongko Loro, putra Atmosudigdo ini pindah ke sekolah Muhammadiyah. Tamat dari Muhammadiyah, ia melanjutkan di Kweekschool Muhammadiyah Ngabean, Sleman.[3]
Belum sempat menyelesaikan sekolahnya, ia pindah ke perguruan Al-Irsyad di Lawang. Dari sini Syaikh Surkati mengetahui kecerdasan Rasjidi. Ia sudah hafal kitab Alfiah karya Ibnu Malik, kitab tata bahasa Arab yang berisi seribu bait syair.
Karena kecerdasannya yang menonjol, Rasjidi sering diajak diskusi oleh Syaikh Surkati di rumahnya. Bahkan, menunjuknya sebagai asisten pelajaran gramatika Bahasa Arab. Selama belajar dengan Surkati, Rasjidi banyak mendalami kitab-kitab klasik karangan para ulama Islam. Dua tahun belajar di perguruan ini, ia memperoleh gelar diploma.
Karier
Guru pada Islamitische Middelbaare School (Pesantren Luhur), Surakarta (1939-1941)