Kehidupan
Yiren merupakan putra kedua dari Lord Anguo, putra kedua dan ahli waris Raja Zhaoxiang, dan Nyonya Xia (夏姬). Ia diutus ke negara Zhao sebagai seorang sandera politik. Ia dan ibunya awalnya tidak disukai oleh Lord Anguo dan ia sendiri memiliki lebih dari 20 anak. Setelah Pertempuran Changping dimana pasukan Qin pimpinan Bai Qi mengubur 400,000 pasukan Zhao secara hidup-hidup, hubungan Qin dan Zhao semakin memburuk. Yiren menetap di Liaocheng pada saat itu dan pemerintah Zhao memperlakukannya dengan sangat buruk. Ia tidak mendapatkan kebutuhan pokok maupun kereta, hidup seperti orang miskin dibawah siksaan negara Zhao dan menjadi sangat depresi.[2][3]
Di Handan, ia bertemu seorang pedagang bernama Lu Buwei yang melihat Yiren sebagai "komoditas langka". Lu Buwei bertemu dengan Yiren yang sangat gusar akibat siksaan negara Zhao dan memercayai bahwa asalkan ia membawa Yiren kembali ke Qin dan memahkotainya, ia akan menjadi sangat kaya. Lü Buwei kemudian pergi membujuk Yiren agar menyetujui rencananya untuk kembali ke negeri asal dan naik takhta. Yiren pun setuju untuk memerintah Qin bersama Lü Buwei setelah rencana tersebut berhasil dilaksanakan.[4] Lu Buwei kemudian menjaga Yiren dengan baik dan mempersembahkan selirnya, Zhao Ji untuk dinikahkan dengan Yiren. Zhao Ji kemudian melahirkan seorang anak yang bernama Ying Zheng.[5]
Lu Buwei juga memberikan uang saku kepada Yiren untuk keperluan sehari-hari dan juga menjamu tamu, sementara ia sendiri juga melakukan manuver politik serta penyogokan terhadap politikus Qin. Lu Buwei juga akhirnya membawa Yiren kembali ke Qin, dimana Lu Buwei kemudian bertemu dengan Lord Yangquan untuk meminta pertemuan dengan kakaknya, istri utama Lord Anguo, Nyonya Huayang yang tidak mempunyai anak kandung. Sementara memuji Yiren dihadapan Nyonya Huayang, ia beserta kerabat permaisuri membujuk Nyonya Huayang untuk mengadopsi Yiren sebagai anak kandungnya. Nyonya Huayang kemudian membujuk Lord Anguo untuk membuat Yiren sebagai putra mahkotanya, dimana Lord Anguo kemudian membuat sebuah prasasti giok untuknya, berjanji akan membuat Yiren sebagai penerusnya. Kedua orang tua kemudian menunjuk Lu Buwei sebagai gurunya dan mengirimkan hadiah kepada Yiren, membuatnya langsung menjadi orang terkenal.[6][7]
Pulang ke Qin dan Pengangkatan
Pada 257 SM, Raja Zhaoxiang dari Qin mengirim Wang He untuk menyerang Handan dan sebagai balasannya, Raja Xiaocheng dari Zhao membalas dengan berniat untuk membunuh Yiren untuk menenangkan amarahnya. Lu Buwei dan Yiren kemudian berencana untuk menyogok penjaga kota dengan 600 koin emas dan kabur ke Qin melalui pasukan Wang He yang bergerak menuju Handan.[8] Yiren kemudian berhadapan langsung dengan Nyonya Huayang. Karena ia berasal dari Chu, Nyonya Huayang meminta Yiren untuk memakai busana Chu untuk menemuinya. Yiren mematuhi dan memakai busana tersebut. Nyonya Huayang menjadi sangat terkesan terhadapnya dan kemudian mengadopsi Yiren sebagai putranya sendiri dan menggantikan namanya sebagai Ying Zichu (子楚; secara harafiah "Putra Chu").[9] Raja Xiaocheng juga mengambil inisiatif untuk memperbaiki hubungan dengan Qin dengan mengirimkan Zhao Ji dan Ying Zheng kembali ke Qin.[10] Pada 251 SM, Raja Zhaoxiang meninggal dan digantikan oleh Lord Anguo sebagai Raja Xiaowen. Zichu kemudian menjadi pangeran mahkota. Tetapi tiga hari kemudian, Raja Xiaowen meninggal dunia dan Zichu naik takhta sebagai Raja Zhuangxiang.
Setelah naik tahta raja, Raja Zhuangxiang memberlakukan amnesti, memberi penghargaan kepada para pejabat yang berjasa selama masa pemerintah kakek dan ayahnya, memperlakukan keluarga kerajaan dengan baik, memberikan bantuan kepada rakyat miskin, serta mengangkat ibu kandungnya, Nyonya Xia dan ibu angkatnya, Permaisuri Huayang menjadi Janda Permaisuri. Ia juga mengangkat Lu Buwei sebagai kanselir dan memberikan gelar bangsawan Marquis Wenxin.[11]
Meninggal dunia
Pada 6 Juli 247 SM, Raja Zhuangxiang meninggal dunia setelah 3 tahun berkuasa. Ia dikuburkan di Zhiyang.[12] Makamnya dikenal sebagai Mausoleum Zichu tetapi makamnya juga dikenal sebagai Mausoleum Jianzi karena berdekatan dengan Mausoleum Qin Shi Huang di utara. Ia digantikan oleh Ying Zheng.[13][14] Ying Zheng kemudian menyatukan Tiongkok dan mendirikan Dinasti Qin pada 221 SM dan dikenal dalam sejarah sebagai Qin Shi Huang.
Setelah menyatukan seluruh kerajaan di Tiongkok, Qin Shi Huang menghormati ayahnya dengan gelar Taishang Huang.[15]