Samosir (Surat Batak:ᯇᯮᯞᯬ ᯘᯔᯬᯘᯒᯪ᯲code: bbc is deprecated , translit.Pulo Samosir) adalah sebuah pulauvulkanik buatan pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1906 setelah selesainya proyek Tano Ponggol. Samosir yang terletak di tengah-tengah Danau Toba di Kabupaten Samosir, Provinsi Sumatera Utara yang baru dimekarkan pada tahun 2003 dari bekas Kabupaten Toba Samosir.[1] Sebuah pulau buatan dalam pulau dengan ketinggian 950-1.685 meter di atas permukaan laut menjadikan pulau ini menjadi sebuah pulau yang menarik perhatian bagi semua orang. Pulau Samosir memiliki luas 640km persegi hampir identik dengan luas satu provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta 664,01km persegi dan juga luas satu Negara Singapura 722,5km persegi.[1]
Kabupaten Samosir dihuni dominiasi oleh masyarakat Suku Batak Toba dan memiliki 9 kecamatan dan 121 Desa. Jumlah desa per kecamatan sebagai berikut:
Kecamatan Harian: 13 Desa
Kecamatan Nainggolan: 2 Kelurahan, 13 Desa
Kecamatan Onanrunggu: 12 Desa
Kecamatan Palipi: 17 Desa
Kecamatan Pangururan: 3 Kelurahan, 25 Desa
Kecamatan RonggurniHuta: 8 Desa
Kecamatan Sianjur Mula Mula: 12 Desa
Kecamatan Simanindo: 1 Kelurahan, 20 Desa
Kecamatan Si Tio Tio: 8 Desa
Semboyan Kabupaten Samosir adalah "Sa tahi, Sa Oloan" yang memiliki arti "Seiya, Sekata".
Pulau Samosir memiliki banyak Desa Wisata yang dapat dikunjungi untuk berlibur dan menambah pengalaman wisata budaya dan alam Danau Toba. Beberapa desa wisata di Pulau Samosir adalah: Desa Wisata Tomok, Desa Wisat Tuktuk Siadong, Desa Wisata Ambarita, Desa Wisata Simanindo, Desa Wisata Huta Tinggi, Desa Wisata Sosor Dolok, Desa Wisata Sarimarrihit, Desa Wisata Hariara Pohan, Desa Wisata Situngkir, Desa Wisata Martoba, Desa Wisata Lumban Suhi Suhi Toruan dan masih banyak lainnya.
Di atas pulau Samosir juga terdapat beberapa danau kecil sehingga Danau tersebut dijuluki Danau di Atas Danau, yaitu:
Letusan Supervolcano Toba: Sejarah Pulau Samosir tak lepas dari peristiwa geologis yang sangat dahsyat, yaitu letusan supervolcano Toba. Diperkirakan sekitar 74.000 tahun yang lalu, letusan ini merupakan salah satu yang terbesar dalam sejarah Bumi. Akibat letusan ini, terbentuklah kaldera raksasa yang kemudian terisi air dan menjadi Danau Toba.
Geografis
Wilayah Pulau Samosir terletak pada terletak pada 20 24‘ – 20 25‘ Lintang Utara dan 980 21‘ – 990 55‘ BT. Pulau Samosir diapit oleh Tujuh Kabupaten yaitu:
Sebagai daerah pertanian dan sebagian penduduknya hidup dan menggantungkan dengan pertanian, curah hujan merupakan salah satu faktor eksternal yang menentukankeberhasialn pertanian penduduk. Rata-rata curah hujan yang terjadi di Kabupaten Samosir pada tahun 2003 berdasarkan hasil pengamatan dari 7 (tujuh) stasiun pengamatan adalah sebesar 177mm / bulan dengan jumlah hari hujan sebanyak 11 hari.
Temperatur Kabupaten Samosir berkisar antara 17°C – 29°C dengan kelembapan udara rata-rata 85 persen dan tergolong dengan beriklim tropis. Curah hujan tertinggi terjadi bulan November dengan rata-rata 440mm dengan jumlah hari hujan sebanyak 15 hari. Curah hujan terendah terjadi pada bulan Juni s/d Agustus berkisar dari 31 s/d 56mm per bulan, dengan hari hujan 5 s/d 7 hari. Kecamatan yang tertinggi rata-rata curah hujannya adalah Harian sebesar 302mm, sedangkan yang terendah adalah Nainggolan rata-rata sebesar 120mm.
Sifat Permukaan dan Kemiringan Kabupaten Samosir terletak pada wilayah dataran tinggi, dengan ketinggian antara 700 – 1.700 m di atas permukaan Laut, dengan komposisi;
700 m s/d 1.000 m dpl = ± 10%
1.000 m s/d 1.500 m dpl = ± 25%
> 1.500 m dpl = ± 65 %Dengan Komposisi kemiringan sebagai berikut:
0 – 20 (datar) = ± 10%
2 – 150 (landai) = ± 20%
15 – 400 (miring) = ± 55%
> 400 (terjal) = ± 15% Jenis Tanah Topografi dan kontur tanah di Kabupaten Samosir pada umumnya berbukit dan bergelombang.
Penggunaan Lahan Kabupaten Samosir memiliki 10 buah sungai yang keseluruhannya bermuara ke Danau Toba. Sebagian dari sungai tersebut telah dimanfaatkan untuk mengairi lahan sawah seluas 3.987 ha, lahan sawah yang beririgasi setengah teknis (62,13% dari luas yang ada). Panjang saluran irigasi di Kabupaten Samosir mencapai 74,77km, terdiri dari irigasi setengah teknis 70,63km (21,53km saluran primer dan 49,10km saluran sekunder) dan irigasi sederhana 4,14km.Luas lahan produktif di Kabupaten Samosir (2002) mencapai 69.798 ha, terdiri dari lahan sawah 7.247 ha (10,4%), dan lahan kering 62.551 ha (89,6%). Terbatasnya sarana irigasi, modal dan tenaga kerja kasar mengakibatkan hanya 14.110 ha (22,56%) lahan kering yang dikelola. Selebihnya merupakan lahan tidur seluas 48.441 ha atau 77,44% dari lahan kering yang dapat dikelola.[2]
Untuk menuju Pulau Samosir dari Bandar Udara Internasional Kualanamu, Bandar Udara Silangit, Bandar Udara Dr Ferdinand Lumban Tobing, Bandar Udara Sibisa, Bandar Udara Soewondo dan Bandara Aek Godang bisa melalui: