Di dalam kawasan hutan wisata ini terdapat altar yang diperuntukkan sebagai tempat meletakkan sesaji bagi " penjaga" pulau Kembang yang dilambangkan dengan dua buah arca berwujud kera berwarna putih (Hanoman), oleh masyarakat dari etnis Tionghoa-Indonesia yang mempunyai kaul atau nazar tertentu. Seekor kambingjantan yang tanduknya dilapisi emas biasanya dilepaskan ke dalam hutan pulau Kembang apabila sebuah permohonan berhasil atau terkabul.[butuh rujukan]
Etimologi
Monyet-monyet yang sedang berendam di perairan Barito dekat pulau Kembang (difoto antara tahun 1910-1940).
Secara etimologi, nama "kembang" diambil dari kata dalam bahasa Jawa:ꦏꦼꦩ꧀ꦧꦁcode: jv is deprecated , translit.kêmbang yang memiliki arti "bunga". Istilah "kembang" juga dapat bermakna sebagai "bentang" atau "hamparan".[1]
Potensi kawasan
Flora: Taman Wisata Alam Pulau Kembang merupakan salah satu perwakilan tipe ekosistem hutan rawa mangrove. Di dalam kawasan ini, terdapat berbagai jenis flora yang tumbuh, antara lain rambai (Sonneratia alba), panggang (Ficus sp), jambu (Eugenia sp), tancang (Bruguiera sp), rengas (Gluta renghas), nipah (Nypa fructicans), pandan (Pandanus sp), bakung (Crinum asiaticum), jeruju (Acanthus ilicifolius), dungun (Heritiera littoralis), dan berbagai jenis lainnya.[butuh rujukan]
Fauna: kawasan ini dihuni oleh berbagai spesies, di antaranya bekantan (Nasalis larvatus), elang laut perut putih (Haliaeetus leucoryphus), elang bondol (Haliastur indus), elang hitam (Ictinaetus malayensis), elang tikus (Elanus caeruleus), elang (Spilornis cheela), raja udang biru (Halcyon chloris), burung madu (Antheranthera malaccensis), burung madu (Nectarinia jugularis), serta berbagai spesies lainnya.[2]
Galeri
Kera-kera di Pulau Kembang
Referensi
↑"Kembang". kbbi.kemendikdasmen.go.id. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.