Pterocarpus cambodianus var. glaucinus (Pierre) Gagnep.
Pterocarpus cambodianus var. gracilis (Pierre) Gagnep.
Pterocarpus cambodianus var. oblongus (Pierre) Gagnep.
Pterocarpus cambodianus var. parvifolius (Pierre) Gagnep.
Pterocarpus glaucinus (Pierre) Dyer
Pterocarpus gracilis (Pierre) Dyer
Pterocarpus gracilis var. brevipes Craib
Pterocarpus gracilis var. nitidus Craib
Pterocarpus macrocarpus var. oblongus (Pierre) Gagnep.
Pterocarpus oblongus (Pierre) Dyer
Pterocarpus parvifolius (Pierre) Dyer
Pterocarpus pedatus (Pierre) Dyer
Pterocarpus macrocarpus merupakan sebuah spesies pohon dari famili Fabaceae. Tumbuhan ini berasal dari kawasan hutan tropis musiman di Asia Tenggara, meliputi Myanmar, Laos, Kamboja, Thailand, dan Vietnam. Spesies tersebut juga telah dinaturalisasi di sejumlah wilayah lain, termasuk India dan kawasan Karibia.[4][3][5][6]
Pterocarpus macrocarpus tumbuh paling baik pada tanah dengan drainase baik, misalnya tanah lempung yang ringan hingga laterit berpasir dan kurang mampu bertahan di lingkungan yang selalu basah atau mudah tergenang. Spesies ini umumnya dijumpai di hutan dipterokarpa terbuka yang mengalami periode kering musiman, biasanya pada ketinggian hingga sekitar 700 meter, dengan curah hujan tahunan berkisar antara 1.000 hingga 2.000 milimeter.[7]
Taksonomi
Pterocarpus macrocarpus pertama kali dideskripsikan secara sah oleh Wilhelm Sulpiz Kurz pada tahun 1874 melalui Journal of the Asiatic Society of Bengal. Nama genus Pterocarpus berasal dari bahasa Yunanipteron (sayap) dan karpos (buah), merujuk pada polong bijinya yang bersayap, sedangkan epitet spesifik macrocarpus berasal dari makros (besar) dan karpos (buah), menyoroti ukuran polongnya yang relatif besar. Dalam literatur taksonomi, spesies ini pernah memiliki sejumlah sinonim, termasuk Pterocarpus oblongus yang dikaitkan dengan Pierre. Kajian dari lembaga seperti International Institute of Tropical Forestry mencatat bahwa kayu P. macrocarpus, sering dikenal sebagai padauk burma, memiliki teras kayu berwarna kuning-merah hingga bata yang berkontribusi pada pentingnya spesies ini dalam perdagangan kayu tropis.[8][9][10]
Deskripsi
Pterocarpus macrocarpus merupakan pohon berukuran sedang yang umumnya mencapai tinggi 10–30 meter, meskipun dalam kasus jarang dapat tumbuh hingga sekitar 39 meter, dengan batang berdiameter hingga 1,7 meter. Spesies ini bersifat gugur pada musim kemarau dan memiliki kulit kayu bersisik berwarna abu-abu kecoklatan yang mengeluarkan getah merah ketika terpotong. Daunnya menyirip sepanjang 200–350 mm dengan 9–11 selebaran, sementara bunganya berwarna kuning dan tersusun dalam tandan sepanjang 50–90 mm. Buahnya berupa polong bersayap membulat berdiameter 45–70 mm yang biasanya mengandung dua atau tiga biji.[11]
Kayunya terkenal tahan lama serta resisten terhadap rayap, sehingga banyak dimanfaatkan untuk furnitur, konstruksi, roda gerobak, pegangan alat, dan tiang. Walaupun bukan sonokeling sejati, kayu ini kadang diperdagangkan seolah-olah berasal dari sonokeling. Bunga padauk dari spesies ini mekar setiap tahun sekitar waktu Thingyan (April) dan dianggap sebagai salah satu simbol nasional Myanmar.[12]