Prunus serotina atau yang dikenal sebagai ceri hitam, adalah pohon gugur atau semak dari famili mawar (Rosaceae). Meskipun namanya mengandung kata "ceri", spesies ini tidak terlalu terkait dengan ceri yang biasa dibudidayakan. Pohon ini berasal dari benua Amerika.
Deskripsi
Prunus serotina adalah pohon hutan berukuran sedang yang tumbuh cepat, dengan tinggi mencapai 15–24 meter. Daunnya berbentuk bulat telur-lanset, panjang 5–13 cm, dengan tepi bergerigi halus, dan berubah warna menjadi kuning hingga merah pada musim gugur. Bunga kecilnya berwarna putih, memiliki lima kelopak, tersusun sepanjang 10–15 cm yang memuat beberapa lusin bunga. Setelah mekar, bunga ini menghasilkan buah beri hitam kemerahan berdiameter 5–10 mm yang menjadi makanan bagi burung.[3] Selama sekitar sepuluh tahun pertama pertumbuhannya, kulit pohon ceri hitam tipis, halus, dan memiliki pita, mirip dengan kulit pohon betula. Pada pohon dewasa, kulitnya menjadi sangat retak dan berwarna abu-abu gelap hingga hitam. Daunnya panjang, mengkilap, dan mirip dengan daun ceri masam. Ketika ranting muda digores dan didekatkan ke hidung, tercium aroma seperti almon, yang berasal dari senyawa sianida dalam jumlah kecil yang diproduksi dan disimpan pohon sebagai mekanisme pertahanan terhadap herbivora.[4] Daun pohon ini, terutama yang sudah layu, mengandung glikosida sianogenik yang dapat berubah menjadi hidrogen sianida jika dikonsumsi hewan. Petani disarankan untuk menyingkirkan pohon tumbang dari lahan ternak, karena daun layu berpotensi meracuni hewan. Namun, pemindahan sering sulit dilakukan karena pohon ceri hitam dapat tumbuh sangat banyak di lahan pertanian, memanfaatkan cahaya yang muncul akibat penebangan atau penggembalaan.[5]
Kegunaan
Prunus serotina subsp. capuli telah dibudidayakan di Amerika Tengah dan Amerika Selatan jauh sebelum kedatangan orang Eropa. Dikenal dalam bahasa Nahuatl sebagai capolcuahuitl, yang menjadi asal nama “capuli”, buah ini merupakan makanan penting di Meksiko pra-Columbus dan dikonsumsi oleh penduduk asli Amerika. Buahnya bisa dimakan mentah, diolah menjadi jeli, atau digunakan sebagai bahan tambahan minuman. Selain itu, kayu Prunus serotina sangat bernilai dan sering menjadi kayu utama untuk kabinet di Amerika Serikat, dipasarkan dengan nama “cherry”. Kayu cherry berkualitas tinggi memiliki warna oranye pekat, serat padat, dan harga tinggi, sementara kayu berkualitas rendah atau kayu getah cenderung lebih cokelat, dengan kepadatan kayu kering sekitar 560 kg/m³.[6]