Positivitas beracunPositivitas beracun melibatkan kemampuan terbatas untuk mengakui kemarahan atau kesedihan diri sendiri.
Positivitas beracun (bahasa Inggris:toxic positivitycode: en is deprecated ) adalah kecenderungan memaksakan diri sendiri atau orang lain untuk selalu berpikir dan bersikap positif hingga menekan pengakuan terhadap stres dan emosi negatif. Individu yang terjebak dalam positivitas beracun meyakini bahwa seberat apa pun kesulitan yang dialami, mereka harus tetap berpikir positif, alih-alih mengakui, memproses, dan menghadapinya secara sehat. Dengan kata lain, ciri utama positivitas beracun adalah adanya penolakan atau ketidakmauan untuk mengakui dan menerima emosi negatif.[1]
Definisi
Positivitas beracun adalah "tekanan untuk tetap bersemangat tidak peduli seberapa buruk keadaan seseorang", yang dapat menghalangi koping emosional dengan merasakan emosi yang sebenarnya alami.[2] Positivitas beracun terjadi ketika orang-orang percaya bahwa pikiran negatif tentang apa pun harus dihindari. Bahkan sebagai respons terhadap peristiwa yang biasanya menimbulkan kesedihan seperti kehilangan atau kesulitan, positivitas tetap didorong sebagai sarana koping, tetapi hal ini cenderung mengabaikan dan menolak ekspresi yang jujur.[3]
Konsep mengenai optimisme yang tidak realistis telah dieksplorasi oleh para psikolog setidaknya sejak tahun 1980 dan istilah toxic positivity pertama kali muncul dalam buku karya J. Halberstam tahun 2011 yang berjudul The Queer Art of Failure dengan kutipan "[...] untuk menemukan celah dalam positivitas beracun dari kehidupan kontemporer".[4]
Positivitas beracun berbeda dari sanjungan beracun (toxic flattery), yaitu pujian atau sanjungan berlebihan atau bersifat menjilat yang ditujukan kepada orang lain.[5]
Psikologi
Dalam satu sisi, positivitas beracun adalah sebuah konstruksi dalam psikologi tentang cara mengelola emosi yang dibangun berdasarkan asumsi bahwa emosi positif dan negatif harus sesuai dengan situasi yang tepat.[3] Hal ini dipandang sehat secara psikologis. Namun, positivitas beracun dikritik karena tuntutannya untuk selalu merasa positif setiap saat, bahkan ketika kenyataannya negatif.[3] Menurut Dr. Jamie Zuckerman, "Masalah mendasar dari konsep ini adalah kita mengasumsikan bahwa jika seseorang tidak berada dalam suasana hati yang positif (atau apa pun yang kita pikirkan tentang bagaimana orang positif seharusnya terlihat atau bertindak), maka mereka entah bagaimana dianggap salah, buruk, atau tidak memadai. Masalahnya adalah, ketika kita tidak memvalidasi kondisi emosional orang lain—atau dalam hal ini, ketika kita memberi tahu seseorang bahwa merasa sedih, marah, atau emosi apa pun yang kita anggap 'negatif' itu buruk—kita akhirnya memicu emosi sekunder di dalam diri mereka seperti rasa malu, rasa bersalah, dan perasaan canggung."[6]
Dalam bukunya yang terbit pada tahun 2022, Bittersweet: How Sorrow and Longing Make Us Whole, penulis Susan Cain menggambarkan "tirani positivitas" (tyranny of positivity) atau "positivitas beracun" (toxic positivity) sebagai arahan budaya yang menyatakan, "Apa pun yang kamu lakukan, jangan katakan kebenaran tentang bagaimana rasanya hidup".[7]
Cain menyatakan bahwa secara historis dan khususnya pada abad ke-19,[8] siklus pasang-surut ekonomi tidak hanya menyebabkan pemujaan terhadap pebisnis yang sukses, melainkan juga pengaitan kegagalan bukan pada keadaan eksternal, melainkan pada kegagalan karakter, yang merupakan suatu bentuk menyalahkan korban. Cain mendokumentasikan anggapan kegagalan karakter ini sebagaimana tercermin dalam evolusi definisi istilah pecundang. Hasilnya adalah sebuah budaya dengan "mandat positivitas"—sebuah keharusan untuk bertindak "selalu ceria dan positif, ... seperti seorang pemenang".[9]
Mulai sekitar tahun 2019, istilah pencarian internet toxic positivity menjadi lebih populer.
Positivitas umumnya dipandang sebagai sikap yang baik dan bermanfaat untuk sebagian besar situasi karena hal itu mencerminkan optimisme serta rasa syukur dan dapat membantu menceriakan suasana hati.[10] Positivitas yang sehat berbeda dari positivitas beracun karena positivitas yang sehat mengakui emosi negatif berupa kesedihan, kemarahan, dan kecemburuan serta mendorong pertumbuhan dan pembelajaran melalui rintangan dan konflik. Di sisi lain, positivitas beracun muncul dari ekspektasi tidak realistis untuk memiliki kehidupan yang sepenuhnya bahagia setiap saat. Ketika hal itu tidak terjadi, orang-orang "dapat merasa malu atau bersalah" karena tidak mampu mencapai kesempurnaan yang diinginkan.[11] Oleh karena itu, positivitas menjadi beracun ketika seseorang menolak perasaan negatif bahkan ketika perasaan tersebut sebenarnya tepat.[10][12] Ada kepercayaan bahwa seseorang harus bahagia dalam segala jenis situasi dengan mengabaikan emosi lainnya. Sebagai akibat dari penyangkalan terhadap perasaan-perasaan ini, hal tersebut sering kali dapat menyebabkan ketidakbahagiaan yang lebih mendalam dalam jangka panjang.
Orang-orang yang terus-menerus menuntut pengalaman positif mungkin secara tidak sengaja memberikan stigma pada emosi negatif mereka sendiri seperti depresi atau menekan respons emosional yang alami seperti kesedihan, penyesalan, atau stres.[3] Menerima emosi negatif dapat membuat seseorang menjadi lebih bahagia dan lebih sehat secara keseluruhan.[12][10] Beberapa penulis seperti Kimberley Harrington memandang positivitas beracun sebagai salah satu bentuk manipulasi psikologis emosional pribadi. Harrington percaya bahwa tidak apa-apa untuk merasa "sedih ketika kamu sedih dan marah ketika kamu marah" serta merasakan sepenuhnya "pelangi perasaan" seseorang.[3]
Situasi yang dapat dikendalikan dan yang tidak dapat dikendalikan merupakan faktor penentu yang penting dari positivitas. Jika situasinya dapat dikendalikan, berpikir positif secara semu dapat menghalangi kemampuan seseorang untuk memperbaiki situasi negatif tersebut.[10] Faktor penentu lainnya adalah sikap seseorang terhadap kebahagiaan yang dapat mencegah respons optimal terhadap pengalaman negatif yang tidak dapat dihindari dalam hidup.[12] Positivitas menjadi beracun akibat ketidakmampuan untuk memeriksa dan memperbaiki kesalahan masa lalu. Menutupi kesalahan yang tidak dapat dihindari dengan rasa percaya diri yang berlebihan tidaklah bermanfaat karena hal itu mencegah seseorang belajar dari kesalahan tersebut.[13]
Positivitas beracun dapat mempertahankan pernikahan yang tidak bahagia, tetapi penelitian menunjukkan bahwa pasangan dengan pernikahan yang tidak bahagia memiliki risiko 3 hingga 25 kali lebih besar untuk mengalami depresi klinis.[14][15][16]
Para pengkritik psikologi positif berpendapat bahwa perhatian yang terlalu besar diberikan pada "pemikiran yang selalu bersemangat, sembari mengesampingkan pengalaman yang menantang dan sulit".[17][18][19] Akhirnya, dengan tidak mengizinkan adanya emosi negatif, positivitas beracun dapat berdampak pada konsekuensi fisik seperti penyakit kardiovaskular dan pernapasan.[20][21][22]
Konsep "optimisme tragis" (tragic optimism)—sebuah istilah yang dicetuskan oleh psikolog eksistensial-humanistik sekaligus penyintas HolocaustViktor Frankl—telah disarankan sebagai penawar bagi positivitas beracun. Optimisme tragis melibatkan cara tragedi diproses dengan mencari makna selama dan setelah tragedi tersebut terjadi.[23]
Media sosial
Media sosial seperti LinkedIn, Instagram, atau Facebook dapat memperburuk masalah ini karena sering kali menekankan pengalaman positif dan menghalangi upaya koping terhadap sisi buruk yang tidak dapat dihindari.[24] Sebuah penelitian berjudul "Toxic positivity on social media: The drawbacks and benefits of sharing positive (but potentially platitudinous) messages online" menemukan bahwa menampilkan positivitas secara daring dapat "bermanfaat bagi pengirim pesan hanya jika pengirim pesan memiliki harga diri yang lebih tinggi (daripada lebih rendah) atau jika mereka mengalami lebih sedikit (vs. lebih banyak) toksisitas".[25] Efek dari menampilkan positivitas bagi pengirim pesan dapat dianggap negatif jika pesan tersebut menekan aspek-aspek negatif dari realitas yang dirasakan.
Media sosial merupakan platform bagi individu untuk mengunggah konten atau media apa pun yang mereka inginkan. Dalam beberapa kasus, seseorang mungkin menampilkan pandangan positif di media sosial untuk menghindari kenyataan. Tanda-tanda positivitas beracun yang berlebihan tersebut pada akhirnya dapat menyebabkan pergeseran identitas menuju "proses transformasi diri yang merupakan hasil dari presentasi diri yang disengaja dalam konteks yang dimediasi".[26] Platform media sosial menjadi sarana yang mudah untuk saling membandingkan satu sama lain, sehingga memberikan tekanan tambahan pada individu untuk menjadi atau tetap positif. Hal ini dapat menciptakan sudut pandang yang berbeda dan persepsi realitas yang bertentangan.[27]
Gender
Sebuah penelitian berjudul "Gender differences in levels of toxic positivity in adolescents: a quantitative study" menunjukkan perbedaan yang signifikan antara remaja laki-laki dan perempuan. Survei dan wawancara menunjukkan bahwa remaja perempuan biasanya menunjukkan tingkat positivitas beracun yang lebih rendah dibandingkan dengan remaja laki-laki. Hasil ini menunjukkan bahwa remaja perempuan kemungkinan lebih baik dalam mengakui dan mengekspresikan emosi negatif mereka daripada remaja laki-laki.[28]
Klaim ini didukung lebih lanjut oleh penelitian lain berjudul "Acceptability and Suppression of Negative Emotion in Anxiety and Mood Disorders" ketika 60 partisipan dengan gangguan kecemasan dan suasana hati serta 30 partisipan kontrol menonton film yang memicu emosi. Mereka melaporkan sendiri hasil pengukurannya dan para partisipan klinis menganggap emosi mereka "kurang dapat diterima" sehingga mereka menekan emosi tersebut. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang mencolok antara partisipan perempuan dan laki-laki. Laki-laki dalam kelompok kontrol melaporkan penekanan emosi yang lebih banyak daripada perempuan dalam kelompok yang sama meskipun laki-laki dan perempuan dalam kelompok klinis melaporkan penekanan emosi pada tingkat yang sama.[29]
Referensi
↑Yunintria Imtihanah Sulistyaningrum (24 April 2026). "Toxic Positivity: Ketika 'Berpikir Positif' Justru Melukai Diri Sendiri". UGM. Diakses tanggal 11 Juli 2026. Toxic positivity adalah kecenderungan memaksakan diri sendiri atau orang lain untuk selalu berpikir dan bersikap positif hingga menekan pengakuan terhadap stres dan emosi negatif.
123TheConversation Brock Bastian (1 Januari 2022). "TOXIC POSITIVITY: WHEN PURSUING HAPPINESS CAN OVEREMPHASIZE ITS VALUE AND CAUSE MORE UNHAPPINESS". Milwaukee Independent. Diakses tanggal 28 Januari 2022. ...when people believe they need to maintain high levels of positivity or happiness all the time to make their lives worthwhile, or to be valued by others, they react poorly to their negative emotions....
↑Steve Watkins (21 Januari 2022). "Avoid 'Toxic Positivity' To Own Up To Your Mistakes". Investor's Business Daily. Diakses tanggal 28 Januari 2022. ...Everybody makes mistakes ... But glossing them over, in an exaggerated confidence called toxic positivity, stops you from growing from your missteps...
↑Gross, J. J.; Levenson, R. W. (1997). "Hiding feelings: the acute effects of inhibiting negative and positive emotion". Journal of Abnormal Psychology. 106 (1): 95–103. doi:10.1037/0021-843x.106.1.95. PMID9103721.
↑Campbell-Sills, Laura; Barlow, David H.; Brown, Timothy A.; Hofmann, Stefan G. (2006). "Effects of suppression and acceptance on emotional responses of individuals with anxiety and mood disorders". Behaviour Research and Therapy (dalam bahasa Inggris). 44 (9): 1251–1263. doi:10.1016/j.brat.2005.10.001. PMID16300723.
↑Kaufman, Scott Barry (18 Agustus 2021). "The Opposite of Toxic Positivity". The Atlantic (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 6 Januari 2023.
↑Campbell-Sills, Laura; Barlow, David H.; Brown, Timothy A.; Hofmann, Stefan G. (3 November 2006). "Acceptability and suppression of negative emotion in anxiety and mood disorders". Emotion. 6 (4): 587–595. doi:10.1037/1528-3542.6.4.587. ISSN1528-3542. PMID17144750.