Pisang abaka (Musa textilis) adalah salah satu spesies pisang yang dibudidayakan di Indonesia, Filipina dan Ekuador melalui perkebunan. Suku Sangihe memanfaatkan serat dari pisang abaka untuk membuat kain tenun yang disebut koffo dan menjualnya secara barter di Kota Manado dan Kota Ternate. Sedangkan nelayan di Kepulauan Talaud telah tercatat telah memanfaatkan serat dari pisang abaka sebagai bahan pembuatan tali pengikat soma sejak tahun 1912.
Budidaya
Pisang abaka menjadi salah satu tanaman yang dibudidayakan di Indonesia, Filipina dan Ekuador untuk produksi serat abaka. Filipina dan Ekuador menjadi negara produsen utama untuk serat abaka. Produksi tahunan serat abaka di Filipina sekitar 80 ribu ton. Sedangkan produksi tahunan serat abaka di Ekuador sekitar 20 ribu ton. Produksi serat abaka di Filipina dan Indonesia umumnya berkurang ketika perkebunan pisang abaka rusak akibat topan atau penyakit layu oleh virus tumbuhan yaitu Fusarium oxysporum f.sp. cubense.[1]
Pemanfaatan
Pembuatan kain koffo
Serat dari pisang abaka digunakan untuk membuat kain tenun yang disebut koffo.[2] Kain koffo merupakan salah satu barang yang dihasilkan oleh suku Sangihe untuk dijual ke Kota Manado dan Kota Ternate dengan cara ditukar dengan barang kebutuhan hidup terutama baju.[3] Suku Sangihe tercatat telah mengadakan pelayaran selama beberapa bulan dari Pulau Sangihe menuju ke Kepulauan Talaud, Kota Manado dan Kota Terrnate. Kegiatan pelayaran suku Sangihe untuk menjual kain koffo termuat dalam catatan seorang penginjil bernama E. Steller yang termuat dalam buku berjudul Kepulauan Sangihe.E. Steller tinggal di Pulau Sangihe sejak tahun 1855 hingga tahun 1897 M.[4]
Pembuatan perangkap ikan
Nelayan di Kepulauan Talaud telah tercatat telah memanfaatkan serat dari pisang abaka sebagai bahan pembuatan tali pengikat soma sejak tahun 1912. Soma adalah jebakan ikan khas nelayan di Kepulauan Talaud. Penggunaan tali pengikat dari serat pisang abaka karena tidak mudah lapuk di dalam perairan laut.[5]