Petrus Turang (23 Februari 1947–4 April 2025) adalah seorang prelat Gereja Katolik Roma Indonesia. Ia menjabat sebagai Uskup Agung Kupang dari tahun 1997 hingga 2024.
Kehidupan awal dan pendidikan
Turang lahir di Tataaran, Kabupaten Minahasa, di Sulawesi Utara. Ia menjalani pendidikan di Seminari Menengah Kakaskasen, Tomohon. Ia kemudian melanjutkan pendidikannya di Seminari Tinggi Pineleng hingga lulus pada tahun 1975. Pada tahun 1979, ia menyelesaikan perkuliahan di Roma dengan mengambil lisensiat pada Fakultas Ilmu Sosial di Universitas Kepausan Gregoriana.[2]
Karier
Imamat
Turang ditahbiskan menjadi imam diosesan Keuskupan Manado pada tanggal 18 Desember 1974.[1]
Pada tahun 1979 hingga 1984, ia menjalankan perutusan ganda, yakni sebagai Delegatus Sosial Keuskupan Manado dan juga sebagai pengajar sosiologi di Seminari Tinggi Pineleng.
Ia menjabat sebagai sekretaris Komisi Pembangunan Ekonomi dan Sosial Indonesia pada Konferensi Waligereja Indonesia sejak tahun 1984 hingga 1996. Ia kemudian ditunjuk sebagai Direktur Nasional Karya Kepausan Indonesia pada tahun 1994 hingga 1997.
Uskup Agung
Pada tanggal 21 April 1997, Turang diangkat menjadi Uskup Agung KoajutorKeuskupan Agung Kupang untuk menggantikan uskup agung saat itu, Gregorius Manteiro, yang kesehatannya sedang buruk. Pada tanggal 27 Juli 1997, Turang ditahbiskan sebagai uskup di Arena Promosi Hasil Kerajinan Tangan Rakyat NTT, Kelurahan Fatululi, Kecamatan Kelapa Lima, Kupang.[3]Uskup Agung Jakarta, Kardinal Julius Darmaatmadja, S.J. bertindak sebagai Penahbis Utama, dengan didampingi oleh Pro-Nuncio Apostolik untuk Indonesia yang bergelar Uskup Agung Tituler Bellicastrum, Pietro Sambi dan Uskup Agung Kupang saat itu, Gregorius Manteiro, S.V.D. Ia kemudian secara resmi menggantikan Manteiro setelah Manteiro meninggal pada tanggal 10 Oktober 1997.
Turang menimbulkan kontroversi di kalangan umat Katolik Indonesia ketika ia menegur seorang pastor bernama Yohanes Subani. Subani, seorang pendidik dan instruktur di Seminari Tinggi St. Michael di Kupang, tidak mencium cincin Turang pada 10 Januari 2013 setelah perayaan Natal bersama di Katedral Kupang, yang mendorong Turang untuk menegurnya secara langsung. Baik Turang maupun, dalam skala yang lebih kecil, Subani dikritik atas perilaku mereka.[4] Turang awalnya membela tindakannya[5] tetapi kemudian mengeluarkan permintaan maaf.[6]
Turang telah berjuang melawan masalah kesehatan selama bertahun-tahun, khususnya penyakit jantung. Sebelum pensiun sebagai uskup agung, ia telah menjalani prosedur medis, termasuk pemasangan tiga stent untuk mengatasi kondisi jantungnya.[9]
Pada awal Januari 2025, kesehatan Turang mulai menurun, yang menyebabkannya sering dirawat di rumah sakit. Karena kondisinya semakin memburuk, ia dirujuk ke Rumah Sakit Pondok Indah di Jakarta pada bulan Maret untuk perawatan lebih lanjut. Selama sebulan, kondisinya semakin parah karena komplikasi yang memengaruhi jantung, paru-paru, dan ginjalnya. Meskipun menerima obat perawatan intensif, kesehatannya terus memburuk.[9]
Pada pagi hari tanggal 4 April 2025, Turang meninggal dunia dan jenazahnya disemayamkan sementara di Katedral Jakarta sebelum dibawa ke Kupang pada tanggal 5 April 2025 untuk upacara terakhir dan dimakamkan.
↑"Profil KAK". Dioses Agung Kupang. 18 Desember 2012.
↑"Surat Terbuka Untuk Uskup Kupang" (dalam bahasa Indonesia). Suara Pembaruan. 18 Agustus 2014. Diakses tanggal 16 Agustus 2019. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)