Wupih biasanya aktif di malam hari, sebagian besar berukuran kecil (terkadang sekitar 400 ekormm, dihitung ekornya), dan memiliki lipatan kulit kendur (patagia) yang membentang dari pergelangan tangan hingga mata kaki. Mereka menggunakan patagia untuk meluncur dari pohon ke pohon dengan cara melompat dan merentangkan anggota badannya seperti elang. Mereka mampu meluncur untuk jarak lebih dari 140 meter. Selain lipatan kulit yang khas, wupih juga memiliki mata besar menghadap ke depan, wajah pendek (meskipun runcing), dan ekor datar panjang yang digunakan sebagai kemudi saat meluncur.
Semuanya adalah omnivora, dan memakan getah pohon, permen karet, nektar, serbuk sari, dan serangga, serta manna dan melon. Kebanyakan wupih tampak menyendiri, meskipun wupih perut-kuning dan wupih sirsik diketahui hidup berkelompok.
Status konservasi
Meskipun wupih manaf dan wupih krefft relatif umum, sebagian besar spesies lainnya jarang ditemukan. Wupih mahoni adalah spesies yang paling terancam di Australia dan terdaftar sebagai terancam punah. Mereka sangat jarang sehingga tidak terlihat selama lebih dari seratus tahun setelah penemuan aslinya pada tahun 1883. Hampir sebulan setelah mereka ditemukan kembali pada tahun 1989, habitat mereka dibuka untuk perkebunan, dan populasi lain tidak ditemukan hingga tahun 1991. Alasan status terancam punah dari wupih mahoni antara lain degradasi atau hilangnya habitat, terbatasnya sebaran, dan kurangnya perlindungan habitat.[2] Selain wupih mahoni, wupih bajing (Petaurus norfolcensis) juga agak terancam.[3] Sebuah studi pada tahun 2020 menemukan bahwa wupih sirsik (P. breviceps) juga memiliki wilayah jelajah terbatas di Australia, sehingga jauh lebih terancam daripada yang diperkirakan sebelumnya.[4]
12"Checklist of the Mammals of Indonesia 3rd edition"(PDF). ResearchGate (disimpan di GitHub & Internet Archive). LIPI / Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. 2019. hlm.12. Diarsipkan dari asli(PDF) tanggal 14 Juli 2025. Diakses tanggal 14 Juli 2025.