ENSIKLOPEDIA
Perwara

Perwara atau istanawati adalah asisten pribadi perempuan di lingkungan istana, yang bertugas mengiring seorang sentana putri atau bangsawati.[1] Menurut sejarah, yang menjadi perwara di Eropa adalah bangsawati yang lebih rendah tingkat kebangsawanannya daripada bangsawati yang diiringnya. Seorang perwara, baik yang menerima maupun yang tidak menerima imbalan jasa, lebih dipandang sebagai sekretaris, penyerta, atau penganti majikannya, ketimbang sebagai babu.
Di belahan dunia lain, para perwara, yang kerap disebut dayang-dayang dan biti-biti, pada praktiknya adalah pelayan atau hamba sahaya, bukan bangsawati, tetapi tugasnya kurang lebih sama dengan perwara, yaitu menjadi pengiring dan sekretaris bagi majikannya. Di lingkungan istana, tempat poligami diamalkan, wanita istana secara resmi disiapkan untuk diajak raja menaiki peraduan, sehingga berpeluang menjadi istri, permaisuri, gendak, maupun selir raja.
Istilah perwara maupun istanawati kerap dijadikan sebutan generik tanpa pandang pangkat, gelar, maupun fungsi resminya, malah sering pula sekadar dijadikan sebutan kehormatan. Seorang sentana putri bisa saja memiliki atau tidak memiliki kebebasan untuk memilih sendiri perwara sekehendak hatinya, dan sekalipun bebas memilih perwara, perempuan-perempuan yang layak dipilih biasanya tidak luput dari pengaruh raja, orang tuanya, suaminya, atau para menteri (seperti dalam kasus Kemelut Bilik Peraduan di Kerajaan Inggris Raya).
Sejarah
Di Eropa, perkembangan jabatan perwara tidak dapat dilepaskan dari perkembangan majelis istana. Pada abad ke-9, Hinkmarus memaparkan seluk-beluk rumah tangga istana Kaisar Karel Gundul dari kulawangsa Karling di dalam risalah De Ordine Palatii yang ia tulis pada tahun 882. De Ordine Palatii menyebutkan bahwa selain menjalankan titah raja, para pegawai istana juga menjalankan titah permaisuri. Para permaisuri kulawangsa Merowing diduga sudah dilayani biti-biti pribadi, dan dapat dipastikan bahwa para permaisuri kulawangsa Karling pada abad ke-9 senantiasa dikawal satu regu jagapati dari kalangan bangsawan untuk menunjukkan kemuliaan martabat mereka, dan beberapa pegawai istana disebut sebagai pegawai permaisuri alih-alih sebagai pegawai raja.[2]
Dapat dipastikan bahwa pada akhir abad ke-12, para Permaisuri Prancis sudah memiliki badan pengurus rumah tangga sendiri, dan para bangsawati disebut sebagai perwara.[2] Meskipun demikian, jumlah anggota badan pengurus rumah tangga permaisuri pada Abad Pertengahan tidak seberapa banyak, dan jumlah perempuan yang memang dipekerjakan sebagai perwara, bukan istri-istri bangsawan yang kebetulan sedang menemani suaminya bertugas di istana, sangat sedikit. Pada tahun 1286, Permaisuri Prancis hanya dilayani lima orang perwara, dan baru pada tahun 1316 badan pengurus rumah tangga permaisuri dipisahkan dari badan pengurus rumah tangga anak-anak raja.[2]
Peran perwara di Eropa berubah drastis pada masa Renesans, manakala tata krama baru dalam kehidupan beristana, yang juga memberi peran penting kepada kaum perempuan, dikembangkan sebagai representasi kekuasaan di istana-istana Italia. Tata krama baru ini menyebar dari Italia ke Burgundia, selanjutnya menyebar dari Burgundia ke Prancis dan semua istana di Eropa.[2] Tata krama istana Kadipaten Burgundia adalah tata krama istana yang paling rumit di Eropa pada abad ke-15. Tata krama ini dijiplak Prancis saat memekarkan majelis istananya menjelang akhir abad ke-15. Istana Prancis menciptakan aneka jabatan baru bagi laki-laki maupun perempuan sebagai tanggapan terhadap munculnya nilai-nilai luhur baru pada masa Renesans.[2]
Dari segelitir Femmes yang sudah bersuami dan Filles yang masih gadis dari kalangan yang bermartabat relatif rendah pada Abad Pertengahan, jumlah perwara Prancis mengalami lonjakan pesat, ditata membentuk suatu hierarki jabatan yang canggih, serta diserahi peran yang berbobot dan bersifat publik untuk dijalankan di lingkungan istana Prancis yang menerapkan tata krama baru pada permulaan abad ke-16.[2] Langkah Prancis ini ditiru istana-istana lain di Eropa, sehingga majelis-majelis istana Eropa mengalami pemekaran dan kian bersifat seremonial pada abad ke-16, dan jabatan, jumlah, maupun visibilitas kaum perempuan di istana mengalami peningkatan pada Awal Abad Kiwari.[2]
Meskipun demikian, pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, sebagian besar istana di Eropa mulai mengurangi jumlah pegawai, sering kali lantaran terdesak oleh kondisi ekonomi dan politik sezaman yang membuat representasi istana menjadi kian rentan dipertanyakan.
Tugas
Tugas perwara berbeda-beda dari satu istana ke istana lain, tetapi fungsi-fungsi yang secara historis diemban perwara meliputi kecakapan berunggah-ungguh, berbahasa asing, menari, menunggang kuda, memainkan alat musik, dan melukis; memastikan majikannya mengetahui segala kejadian dan mengenal semua orang penting di istana; mengurusi tempat tinggal dan isi lemari pakaian majikannya; menangani segala macam urusan kesekretariatan; mengawasi biti-biti, anggaran belanja, dan pembelian barang; membacakan surat-surat kepada majikannya dan menulis surat-surat atas nama majikannya; serta mengirim pesan rahasia atas perintah majikannya.[1]
Perwara menurut istana
Austria
Pada Abad Pertengahan Akhir, manakala majelis istana kaisar tidak lagi berpindah-pindah lokasi, badan pengurus rumah tangga permaisuri kaisar maupun badan pengurus rumah tangga para garwa pangeran di Jerman mulai mengembangkan suatu tatanan yang lebih ketat sifatnya dan tidak begitu saja dapat diubah-ubah, lengkap dengan seperangkat jabatan kepengurusan istana.
Tatanan majelis istana Kadipaten Burgundia dan tatanan majelis istana Kerajaan Spanyol memengaruhi tatanan majelis istana Kekaisaran Austria pada abad ke-16, manakala Negeri Tanah Rendah, Spanyol, dan Austria dipersatukan oleh pertalian nasab kulawangsa Habsburg.[3][halaman dibutuhkan] Pada permulaan dan pertengahan abad ke-16, para istanawati yang melayani bangsawati Habsburg di Negeri Tanah Rendah dan Austria terdiri atas satu orang Hofmeesteres (istanawati ketua) atau Dame d'honneur yang berkhidmat selaku perwara utama; satu orang Hofdame (istanawati) atau Mere de Filles yang berkhidmat selaku wakil Hofmeesteres sekaligus membawahi para Eredames (dayang kehormatan), yang juga dikenal dengan sebutan Demoiselle d'honneur atau Fille d'honneur dalam bahasa Prancis dan Junckfrauen dalam bahasa Jerman Austria; dan yang terakhir adalah para Kamenisters (dayang pramugraha).[4] Meskipun demikian, sewaktu Putri Maria de Austria menjadi Permaisuri Romawi Suci pada pertengahan abad ke-16, kepengurusan rumah tangga permaisuri mengikuti tatanan majelis istana Spanyol. Sesudah Maria de Austria meninggalkan Austria, tidak ada badan pengurus rumah tangga permaisuri sampai dasarwarsa 1610-an.[5] Itulah sebabnya tatanan majelis istana Austria mengandung unsur-unsur adat-istiadat istana Burgundia maupun adat-istiadat istana Prancis.
Suatu tatanan bagi istana kaisar di Austria akhirnya tercipta pada tahun 1619, dan sejak saat itu menjadi ciri khas kepengurusan istana Austria-Habsburg.[5] Pangkat tertinggi bagi istanawati adalah Obersthofmeisterin (ketua umum istanawati), tepat setingkat di bawah permaisuri kaisar dan bertanggung jawab atas semua istanawati.[5] Setingkat di bawah Obersthofmeisterin terdapat jajaran para Aya, yakni para emban anak-anak kaisar sekaligus kepala badan pengurus rumah tangga anak-anak kaisar.[5] Setingkat di bawah Aya terdapat Fräuleinhofmeisterin (ketua istanawati dara), istanawati yang berwenang menggantikan Obersthofmeisterin bilamana diperlukan, tetapi sehari-hari bertanggung jawab mengawasi tingkah laku maupun pelayanan para istanawati yang masih lajang.[5] Istanawati ningrat selebihnya terdiri atas para Hoffräulein (dayang kehormatan), yakni anak-anak dara bangsawan yang biasanya berkhidmat untuk sementara waktu di istana sampai melepas masa lajang.[5] Adakalanya Hoffräulein diangkat menjadi Kammerfräulein (dayang pramugraha).[5] Tatanan istana Austria menjadi acuan dalam penciptaan tatanan istana para pangeran pangreh praja di Jerman.[5] Tatanan majelis istana Jerman pada gilirannya menjadi acuan dalam penciptaan tatanan istana Denmark dan Swedia di Skandinavia pada Awal Abad Kiwari.[6][halaman dibutuhkan]
Belanda
Istana Kadipaten Burgundia, yang berlokasi di Negeri Belanda pada abad ke-15, terkenal dengan tatanan kehidupan beristana yang ruwet dan menjadi panutan beberapa istana lain di Eropa.[2] Tatanan hidup beristana di Burgundia menjadi panutan di istana kekaisaran Austria pada abad ke-16, manakala Negeri Belanda yang dikuasai Kadipaten Burgundia bersatu dengan Austria melalui pertalian darah wangsa Habsburg.[3]
Pada abad ke-16, para perwara yang mengabdi kepada para Gubernur Belanda dari wangsa Habsburg, yakni Margareta menak Austria dan Maria menak Hongaria, terdiri atas Hofmeesteres (istanawati kepala) atau Dame d'honneur selaku perwara tingkat satu, satu orang Hofdame (istanawati) atau Mere de Filles selaku deputi Hofmeesteres sekaligus membawahi para Eredames (dayang kehormatan), yang juga dikenal dengan sebutan Demoiselle d'honneur, Fille d'honneur, maupun Junckfrauen, dan yang terakhir adalah Kameniersters (biti bilik peraduan), semuanya menyandang beragam gelar tergantung bahasa yang dipakai di Negeri Belanda yang beraneka bahasa itu.[4]
Berdirinya Kerajaan Belanda pada tahun 1815 menyiratkan adanya usaha untuk membentuk tatanan kehidupan beristana. Pada abad ke-19, jabatan perwara tingkat utama yang mengepalai semua perwara di istana Kerajaaan Belanda adalah Grootmeesteres (istanawati besar, sejajar dengan istanawati urusan busana). Jabatan perwara tingkat madya adalah Dames du Palais (perwara bersemenda), dan jabatan perwara tingkat pratama adalah Hofdames (istanawati, sejajar dengan dayang kehormatan).[7][8]
Jumlah keseluruhan Hofdames yang mendampingi Ratu Beatrix adalah tujuh orang. Mereka mendampingi ratu maupun para sentana putri dalam acara lawatan atau acara jamuan di istana. Meskipun tidak sepeserpun digaji, biaya hidup mereka ditanggung kepala negara. Tidak semua perwara berasal dari kalangan ningrat, tetapi semua perwara bersuamikan orang-orang "terkemuka". Cerdas dan luwes bergaul adalah syarat utama menjadi seorang Hofdame. Para Hofdames yang berkhidmat pada tahun 2012 adalah Letje van Karnebeek-van Lede, Lieke Gaarlandt-van Voorst van Beest, Julie Jeekel-Thate, Miente Boellaard-Stheeman, Jonkvrouwe Reina de Blocq van Scheltinga, Elizabeth Baroness van Wassenaer-Mersmans, dan Bibi Baroness van Zuylen van Nijevelt, Jonkvrouwe den Beer Poortugael. Ratu Maxima membatasi jumlah Hofdames menjadi tiga orang. Para perwara yang mendampinginya adalah Lieke Gaarlandt-van Voorst van Beest, Pien van Karnebeek-Thijssen, dan Annemijn Crince le Roy-van Munster van Heuven. Sesudah mengundurkan diri secara sukarela, Hofdames akan diangkat menjadi anggota kehormatan rumah tangga istana. Keanggotaan kehormatan rumah tangga istana pun masih membedakan Dames du Palais dari Hofdames, tetapi golongan Dames du Palais hanya tinggal menunggu waktu untuk ditiadakan.
Grootmeesteres (istanawati besar) adalah perwara yang paling tinggi pangkatnya di istana. Dari tahun 1984 sampai 2014, jabatan ini diemban oleh Martine van Loon-Labouchere, keturunan dari keluarga bankir ternama, mantan diplomat, dan janda Jonkheer Maurits van Loon dari Amsterdam. Grootmeesteres saat ini adalah Bibi Gravin van Zuylen van Nijevelt-den Beer Poortugael (perwara antara tahun 2011 sampai 2014).
Belgia
Kerajaan Belgia berdiri pada tahun 1830. Sesudah kerajaan didirikan, majelis istana pun dibentuk, dan para perwara diangkat ketika Putri Louise d'Orléans dinobatkan sebagai Permaisuri Belgia yang pertama pada tahun 1832. Jabatan-jabatan istanawati rumah tangga permaisuri dibentuk mengikuti tatanan istana Prancis, sehingga terdiri atas seorang Dame d'honneur yang membawahi Première femme de chambre, ditambah beberapa orang perwara bergelar Dame du Palais yang membawahi Femme de chambre.[9]
Menurut sejarahnya, para perwara dipilih langsung oleh permaisuri dari kalangan putri-putri bangsawan Katolik Belgia. Fungsi-fungsi utama di istana dipercayakan kepada putri-putri bangsawan yang lebih tinggi derajat keningratannya, sebab para pelaksana fungsi utama bakal sering bersua dengan para sentana putri. Begitu putri-putri Raja Belgia genap berumur 18 tahun, seorang perwara akan diangkat untuk mendampinginya. Seorang Dame diangkat untuk mendampingi Putri Clementine oleh ayahnya sebagai tanda pengakuan dari sang ayah bahwa putrinya sudah menginjak usia dewasa. Bilamana permaisuri menggelar acara jamuan ramah-tamah, para bangsawati bertugas menyambut tamu dan membantu sang empunya hajatan untuk membuat para undangan tidak jenuh bercengkerama.
Denmark
Tatanan kehidupan beristana di Denmark pada Awal Abad Kiwari meniru tatanan istana Jerman, yang terinspirasi dari tatanan istana Austria, sejak abad ke-16.[6] Pangkat tertinggi istanawati yang berkhidmat kepada seorang sentana putri adalah Hofmesterinde (istanawati ketua) atau, sejak tahun 1694/1698, Overhofmesterinde (ketua umum istanawati), sejajar dengan kepala istana perempuan urusan busana, biasanya dijabat seorang janda sepuh, yang menyelia semua perwara lain.[10][halaman dibutuhkan] Istanawati selebihnya adalah Kammerfrøken (dayang bilik peraduan), disusul sekelompok Hofdame (istanawati) dan Hoffrøken (dayang kehormatan).[10] Di bawah mereka masih ada pegawai perempuan dari kalangan rakyat jelata yang tidak berpangkat perwara, misalnya biti-biti bilik peraduan.
Hierarki semacam inilah yang dipakai sejak abad ke-16 sampai dengan kemangkatan Raja Christian IX pada tahun 1906.[10] Pada abad ke-20, kebanyakan gelar tersebut tidak lagi dipakai, dan semua perwara di istana Kerajaan Denmark sekarang ini hanya disebut Hofdame (istanawati).
Inggris Raya

Di lingkungan Rumah Tangga Istana Inggris Raya, perwara adalah perempuan yang mendampingi seorang sentana putri. Para perwara secara rutin diangkat oleh para sentana putri junior untuk mendampingi mereka saat menghadiri acara-acara publik, juga untuk membantu-bantu di sana-sini.[11]
Dalam acara-acara yang sifatnya lebih resmi, para perwara mengenakan lencana jabatan yang biasanya berwujud monogram bermercukan mahkota kerajaan atau mahkota kebangsawanan majikannya, dihiasi permata atau email, dan digantungkan pada seutas pita berwarna.[12]
Sebelum Raja Charles III naik takhta, perempuan pengiring seorang ratu (ratu, permaisuri, maupun ibu suri) juga kerap disebut perwara (termasuk di dalam surat-surat pemberitahuan resmi), kendati sebutan yang resmi adalah biti bilik peraduan atau dayang bilik peraduan (tergantung jabatan mana yang diemban). Dayang paling senior dalam badan pengurus rumah tangga permaisuri adalah istanawati urusan busana, yang (selain mendampingi permaisuri saat menghadiri berbagai acara) bertanggung jawab mengatur seluruh tugas para perwara permaisuri.[11]
Ratu Elizabeth II
Pada masa pemerintahan Ratu Elizabeth II, satu orang wanita bilik peraduan harus siap sedia mengiringi ratu setiap hari; masing-masing bertugas selama dua pekan, secara bergiliran. Di dalam Edaran Istana, frasa 'Perwara Ratu' mengacu kepada perempuan-perempuan yang sedang bertugas pada waktu tertentu.[13]
Dayang Bilik Peraduan tidak bertugas setiap hari, tetapi dipanggil berkhidmat pada kesempatan-kesempatan dan acara-acara publik yang lebih penting.[11] Biasanya ada dua orang perwara yang ditugaskan untuk mendampingi Ratu Elizabeth II dalam acara lawatan yang menyeberangi laut. Biasanya salah seorang di antaranya berpangkat Dayang Bilik Peraduan.[11] Selama bertahun-tahun, Ratu Elizabeth II selalu ditemani tiga orang perwara saat menghadiri upacara kenegaraan pembukaan sidang parlemen (Istanawati Urusan Busana, Dayang Bilik Peraduan, dan Biti Bilik Peraduan), tetapi pada tahun 1998, jumlah pengiring dikurangi menjadi dua orang.[14]
Menjelang akhir masa pemerintahan Ratu Elizabeth II, para perwara yang berkhidmat adalah:[15]
Istanawati Urusan Busana
- Adipatni Grafton, berkhidmat selaku Istanawati Urusan Busana Ratu Elizabeth II sejak tahun 1967 hingga tutup usia pada tanggal 3 Desember 2021. Jabatan Istanawati Urusan Busana dibiarkan tetap lowong sepeninggal Adipatni Grafton.
Dayang Bilik Peraduan
- Bupatni Airlie diangkat pada tahun 1973 dan berkhidmat hingga berakhirnya masa pemerintahan Ratu Elizabeth II.[16]
- Bangsawati Farnham berkhidmat dari tahun 1987 hingga tutup usia pada tahun 2021.[17]
Biti Bilik Peraduan
- Yang Terhormat Srikandi Mary Morrison diangkat pada tahun 1960, dan berkhidmat hingga berakhirnya masa pemerintahan Ratu Elizabeth II.[18]
- Bangsawati Susan Hussey juga diangkat pada tahun 1960, dan berkhidmat hingga berakhirnya masa pemerintahan Ratu Elizabeth II.[19]
- Bangsawati Elton diangkat pada tahun 1987, dan berkhidmat hingga berakhirnya masa pemerintahan Ratu Elizabeth II.[17]
- Srikandi Philippa de Pass diangkat menjadi Biti Bilik Peraduan Tambahan pada tahun 1987 dan berkhidmat hingga berakhirnya masa pemerintahan Ratu Elizabeth II.[17]
- Yang Terhormat Srikandi Annabel Whitehead diangkat pada tahun 2002, dan berkhidmat hingga berakhirnya masa pemerintahan Ratu Elizabeth II.[20]
- Srikandi Jennifer Gordon-Lennox juga diangkat pada tahun 2002, dan berkhidmat hingga berakhirnya masa pemerintahan Ratu Elizabeth II.[20]
Perwara tambahan[21]
- Bangsawati Elizabeth Leeming (nama gadis Bowes-Lyon), salah seorang saudara sepupu Ratu Elizabeth II.
- Ny. Simon Rhodes, menantu Yang Terhormat Margaret Rhodes (salah seorang saudara sepupu Ratu Elizabeth II dan mantan Biti Bilik Peraduan Ibu Suri Elizabeth).
Sesudah kemangkatan Ratu Elizabeth II dan kenaikan takhta Raja Charles III, diumumkan bahwa raja akan akan terus mempekerjakan para perwara mendiang ratu, dan mengganti gelar mereka menjadi "Dayang Rumah Tangga Istana".[22] Mereka akan ditugaskan membantu penyelenggaraan acara-acara di Istana Buckingham.[22]
Ratu Camilla

Pada bulan November 2022, diumumkan bahwa Ratu Camilla akan menghentikan tradisi memiliki perwara. Sebagai gantinya, ratu akan dibantu oleh para "penganti ratu".[22] Peran penganti ratu nantinya akan bersifat informal, dan para penganti ratu tidak akan dilibatkan dalam tugas-tugas semacam membalas surat-surat atau menyusun berbagai jadwal.[22]
Per 30 November 2022, para pengiring Ratu Camilla adalah:[22]
Italia
Napoli dan Dua Sisilia
Sebelum unifikasi Italia, negara terbesar di Jazirah Italia adalah Kerajaan Napoli, yang kemudian hari disebut Kerajaan Dua Sisilia. Pada tahun 1842, para perwara Permaisuri Dua Sisilia terdiri atas satu orang Dama di Onore (Empuan Kehormatan, setingkat di bawah Cavaliere di Onore), tiga orang Dama di Compagnia (Empuan Pendamping, setingkat di bawah Cavalerizzo), dan banyak Dame di Corte (Istanawati).[23]
Kerajaan Italia
Pada tahun 1861, negara-negara di Jazirah Italia dipersatukan menjadi Kerajaan Italia. Para perwara Permaisuri Italia terdiri atas Dama d'Onore pada jenjang utama, Dame di Corte pada jenjang madya, dan Dame di Palazzo pada jenjang pratama.[24] Dama d'Onore adalah ketua nominal para perwara, tetapi pada praktiknya hanya bertugas dalam acara-acara kenegaraan. Dame di Corte adalah perwara yang secara teratur mendampingi permaisuri, sementara Dame di Palazzo adalah para istanawati kehormatan yang erat kaitannya dengan kota-kota tertentu seperti Firenze, Turino, dan lain-lain, dan hanya bertugas untuk sementara waktu bilamana permaisuri sedang melawat kota yang bersangkutan. Hanya Dame di Palazzo dari istana kerjaan di ibu kota Roma yang bertugas lebih dari sekadar sementara waktu.[25]
Jepang
Di Jepang, jabatan-jabatan pegawai istana kaisar biasanya dipercayakan kepada para bangsawan istana, dan yang menjadi perwara atau 'pramugraha istana' lazimnya berasal dari kalangan bangsawan.[26]
Pada zaman Heian (tahun 794–1185), kaum wanita berpeluang menduduki jabatan-jabatan istana dengan tanggung jawab yang besar, menangani urusan-urusan Kaisar.[26] Pramugraha wanita istana dipilih dari kalangan bangsawan istana untuk berkhidmat di istana oleh Jawatan Pramugraha Istana Kekaisaran, tetapi mereka harus cukup terdidik dalam bidang sastra klasik Tionghoa untuk dapat diterima.[27][halaman dibutuhkan]
Pada zaman Sengoku (tahun 1467–1603), pangkat tertinggi seorang perwara adalah 'Jenang Penasihat Besar', yang menangani urusan sehari-hari rumah tangga kekaisaran.[26] Jenjang kedua adalah Koto No Naishi, yang bertindak sebagai perantara yang menjembatani kaisar dengan orang-orang yang ingin menghadap, dan mengeluarkan harapan-harapan kaisar secara tertulis.[26] Para perwara bertindak selaku para sekretaris kekaisaran dan mencatat kejadian-kejadian yang berlangsung di istana, para pengunjung, dan hadian-hadiah di dalam buku harian resmi istana.[26]
Berbeda dari Tiongkok, yang mengelola keputren Kaisar Jepang adalah biti-biti, bukan sida-sida, dan biti-biti dapat saja mengemban jabatan-jabatan tinggi dalam badan pengurus rumah tangga kekaisaran.[27]
Biti-biti terbagi menjadi dua golongan, dan masing-masing golongan terbagi lagi menjadi beberapa jenjang jabatan sesuai dengan tugas yang diembannya.[28] Golongan pertama beranggotakan para nyokan, yakni para perwara pengemban jabatan-jabatan majelis istana, yaitu naishi-kami (shoji), naishi-suke (tenji), dan naishi-no-jo (shoji). The second class were the female palace attendants: myobu, osashi, osue and nyoju.[28] Para perwara berkhidmat selaku asisten pribadi, mengurusi tetek-bengek busana kaisar, memandikan kaisar, menyajikan santapan, mengurus penyelenggaraan sekaligus menghadiri upacara-upacara istana.[27] Perwara dapat saja diangkat kaisar menjadi selir, garwa, bahkan permaisuri.[27] Fungsi perwara selaku calon selir dihapuskan pada tahun 1924.[27]
Jerman
Istana-istana di Jerman pada Awal Abad Kiwari ditata mengikuti tatanan majelis istana Kekaisaran Austria.[5] Tatanan majelis istana semacam ini memilah para perwara menjadi seorang perwara ketua yang disebut Oberhofmeisterin (wanita sepuh yang bersemenda atau sudah menjanda) dan bertugas menyelia para Hoffräulein (Dayang Kehormatan), yang satu atau dua di antaranya dapat dipromosikan menduduki jabatan menengah yang disebut Kammerfräulein (dayang-dayang bilik peraduan).[5] Tatanan majelis istana para pangeran Jerman kemudian hari ditiru di Denmark dan Swedia pada abad ke-16.[6]
Sesudah riwayat Kekaisaran Romawi Suci bangsa Jerman tamat pada tahun 1806, dan beberapa kerajaan kecil berdiri di Jerman, jabatan Staatsdame (perwara bersemenda) dimunculkan di banyak istana kepangeranan maupun kerajaan. Di istana Kekaisaran Jerman, para perwara terdiri atas seorang Oberhofmeisterin yang membawahi beberapa orang Hofstaatsdamen atau Palastdamen.[29]
Kamboja
Di Kamboja, perwara adalah dayang berpangkat tinggi yang bertugas melayani makan minum raja, mengipasi dan mengurut badan raja, dan adakalanya memuaskan berahi raja. Lazimnya perempuan-perempuan tersebut meniti karier di istana mulai dari jenjang biti-biti sampai akhirnya menjadi perwara, selir, bahkan permaisuri. Srey Snom (bahasa Khmer: ស្រីស្នំcode: km is deprecated ) adalah sebutan untuk perwara dalam bahasa Kamboja.
Kemungkinan besar enam dayang kesayangan Raja Sri Swasti berasal dari jenjang penari istana yang beranggotakan anak-anak gadis rakyat jelata. Raja Sri Swasti diketahui memperselir hampir semua penari istana. Penari kahyangan, Apsara, adalah salah satunya. Kebiasaan memperselir penari istana mula-mula muncul pada zaman kegemilangan Kerajaan Kmer.
Kanada
Ada pula beberapa orang perwara Kanada yang diangkat menjadi pegawai Rumah Tangga Istana Kerajaan Kanada. Para perwara Kanada biasanya diangkat untuk membantu Kepala Negara Kerajaan Kanada selama menjalankan tugas-tugas resminya di Kanada dan selama beranjangkarya di negara itu. Lima orang perwara Kanada dianugerahi pangkat Letnan Tarekat Kerajaan Victoria.[30]
Kesultanan Usmani
Di Kesultanan Usmani, perwara atau istanawati adalah perempuan-perempuan penghuni harem sultan yang berfungsi sebagai biti-biti, setia usaha, dan penganti para garwa (selir), putri, saudari, dan ibunda sultan. Perempuan-perempuan itu mula-mula memasuki harem sebagai budak belian yang diperoleh dari pasar budak Krimea, pasar budak Barbaria, dan pasar budak kulit putih.[31] Saat memasuki harem, mereka diberi kedudukan sebagai cariye, dan semuanya secara resmi disiapkan untuk menjadi selir Sultan, tetapi apabila tidak terpilih menjadi teman tidur sultan, mereka berkhidmat seperti perwara, yakni melayani ibunda, selir, saudari, dan putri-putri sultan.[31]
Para perwara (budak) di harem Kesultanan usmani secara kolektif dikenal dengan sebutan kalfa, sekalipun berbeda-beda pangkatnya. Masing-masing anggota keluarga kesultanan maupun selir sultan memiliki staf pengurus rumah tangga yang beranggotakan para kalfa; kalfa yang berkhidmat selaku pelayan pribadi sultan sultan digelari Hünkar Kalfalari.[32]
Hazinedar atau Hazinedar Usta adalah kalfa yang mengemban tugas khusus, bukan sekadar pengiring biasa. Para Hazinedar dibawahi seorang Hazinedar Usta.[33] Semua kalfa di dalam satu badan pengurus rumah tangga anggota keluarga kesultanan dibawahi seorang penilik kalfa yang disebut Daire Kalfasi.[33] Semua Daire Kalfasi di dalam harem dibawahi seorang penilik Daire Kalfasi yang disebut Büyük Kalfa.[33] Pangkat tertinggi bagi kalfa adalah Saray Ustas, yaitu penilik semua kalfa yang ada di istana (harem).[33]
Korea
Gungnyeo (secara harfiah berarti 'wanita istana') adalah sebutan bagi perempuan-perempuan yang bekerja di istana serta melayani raja dan sentanaraja. Gungnyeo adalah kependekan dari Gungjung Yeogwan, artinya 'pegawai wanita istana kerajaan'.
Gungnyeo terdiri atas para perwara, baik dayang-dayang maupun biti-biti (disebut nain) yang bertanggung jawab atas sebagian besar pekerjaan rumah tangga. Gungnyeo menempati jenjang 9 sampai 5 (jenjang 4 sampai 1 diduduki para selir resmi), dan masing-masing peringkat terbagi lagi menjadi dua tingkat (sepuh dan anom). Jenjang tertinggi yang dapat dicapai adalah sanggung (jenjang 5 tingkat sepuh).[34] Gungnyeo juga mencakup golongan-golongan pekerja wanita di luar jenjang tersebut, misalnya musuri (perempuan dari golongan masyarakat paling rendah yang melakukan berbagai pekerjaan kasar, seperti menimba air dan membagi-bagi kayu bakar), gaksimi (juga dikenal dengan sebutan bija dan bangja, yakni pelayan pribadi sanggung), sonnim (secara harfiah berarti 'tamu', yakni pelayan yang dibawa masuk ke lingkungan istana untuk melayani selir, sering kali memiliki hubungan erat dengan keluarga selir yang dilayaninya), dan uinyeo (dipilih dari antara budak-budak perempuan milik negara untuk bekerja di panti husada kerajaan atau balai kesehatan umum, dan mempraktikkan keahlian pengobatan sederhana).
Pada umumnya perwara dipilih dari antara anak-anak gadis golongan sangmin (rakyat jelata) dan budak-budak perempuan pribadi golongan sadaebu (priayi). Kemudian hari, perwara juga dipilih dari antara budak-budak milik negara maupun anak-anak gadis yang lahir dari rahim gundik-gundik priayi (para mantan pramuria atau budak). Para nain, yang erat kaitannya dengan lingkungan kediaman khusus bagi raja dan permaisuri, dipilih sendiri oleh wanita-wanita istana berpangkat tinggi, lewat rekomendasi dan koneksi. Para nain yang bekerja di jawatan-jawatan dengan kemahiran khusus semisal jahit-menjahit dan sulam-menyulam berasal dari kalangan jungin (golongan menengah), sementara gungnyeo di jenjang terbawah berasal dari kalangan cheonmin (rakyat kasar).
Perwara termuda berumur 4 tahun saat pertama kali masuk istana. Sesudah mempelajari budi bahasa dan tata krama istana, mereka dapat menjadi nain. Sesudah mengabdi di istana lebih dari 15 tahun, mereka akhirnya mendapatkan peluang untuk naik pangkat, tetapi hanya berpeluang naik pangkat menjadi sanggung sesudah mengabdi selama sekurang-kurangnya 35 tahun.
Jika disukai raja, perwara dapat saja naik pangkat menjadi selir. Perwara yang demikian akan dinaikkan ke jenjang tertinggi (jejang 5 tingkat sepuh) dan disebut seungeun sanggung ('wanita istana kinasih/istimewa'). Jika melahirkan seorang putra, seugeun sanggung akan menjadi sentanaraja sesudah dinaikkan pangkatnya menjadi sug-won (jenjang 4 tingkat anom), dan sampai dengan abad ke-18 mungkin saja dinaikkan pangkatnya sampai ke jenjang permaisuri (contoh yang paling terkenal adalah Jang Ok-jeong, selir Raja Sukjong dan ibu Raja Gyeongjong).
Nigeria
Beberapa suku dan daerah kebudayaan di Benua Afrika, misalnya masyarakat Lobedu di Afrika Selatan, memiliki adat serupa dalam perjalanan sejarahnya.
Sebagai contoh lanjutan, di beberapa negara-negara masyarakat Bini dan Yoruba prapenjajahan di Nigeria, ibu suri dan pendeta wanita "dihormati selayaknya laki-laki" lantaran tingginya martabat mereka di mata masyarakat. Oleh sebab itu, mereka kerap didampingi perempuan-perempuan warga harem mereka, sama seperti para petinggi pria. Meskipun secara efektif berfungsi sebagai perwara, sering kali berasal dari keluarga-keluarga ningrat yang kuat, dan biasanya tidak dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan seksual, perempuan-perempuan warga harem tersebut tetap saja disebut sebagai "garwa" padmi dari petinggi wanita yang mereka layani.
Norwegia
Ketika Denmark dan Norwegia menjadi satu negara dari tahun 1380 sampai 1814, istana kerajaan Denmark di Kopenhagen juga terhitung sebagai istana kerajaan Norwegia, dan oleh sebab itu tidak ada majelis istana di Norwegia kala itu. Semasa Norwegia dan Swedia bersatu dari tahun 1814 hingga 1905, ada istanawan-istanawati Norwegia yang berkhidmat dalam acara-acara lawatan keluarga kerajaan Swedia ke Norwegia. Jabatan-jabatan istanawati Norwegia mengikuti tatanan istana Swedia, yaitu Hovfröken (dayang kehormatan), Kammarfröken (ketua dayang kehormatan) dan Statsfru (istanawati bilik peraduan), semuanya berada di bawah pengawasan Overhoffmesterinne (istanawati urusan busana). Para pemangku jabatan-jabatan tersebut pertama kali diangkat pada tahun 1817.[35] Sesudah persatuan Norwegia dan Swedia berakhir pada tahun 1905, dibentuklah majelis istana Norwegia yang permanen.
Polandia
Pada Awal Abad Kiwari, para perwara permaisuri di Polandia secara kolektif disebut fraucimer. Badan pengurus rumah tangga permaisuri menyerupai dengan badan pengurus rumah tangga raja, hanya lebih kecil saja. Di dalam badan pengurus rumah tangga permaisuri, semua pegawai laki-laki berada di bawah pengawasan seorang bangsawan bergelar Ochmistrz (magister curiae, istanawan), sementara semua pegawai perempuan berada di bawah pengawasan seorang ketua perwara bergelar Ochmistrzyni (istanawati). Ochmistrzyni adalah jabatan kenegaraan, dan merupakan satu-satunya jabatan petinggi negara di Polandia prapemekaran wilayah yang dipegang oleh perempuan. Jabatan Ochmistrzyni selalu dipegang oleh seorang bangsawati yang bersuamikan bangsawan tingkat senator. Ochmistrzyni membawahi sejumlah besar perwara lajang, yakni dayang-dayang kehormatan. Majelis istana permaisuri merupakan versi lebih besar dari majelis istana bangsawati tinggi Polandia, dan sudah menjadi adat di kalangan bangsawan Polandia untuk menitipkan anak-anak gadis mereka saat masih berusia belasan tahun di rumah bangsawati lain atau di tempat tinggal permaisuri untuk dididik sekaligus mencari jodoh.[36]
Portugal
Portugal merdeka dari Spanyol dan membentuk majelis istana sendiri pada tahun 1640. Tatanan kehidupan beristana di Kerajaan Portugal dipengaruhi tatanan istana Spanyol.
Register istana tahun 1896 mencantumkan Camareira-mór sebagai jabatan perwara paling senior di istana Kerajaan Portugal, disusul jabatan Dama Camarista Mulher do mordomo mór de S. a Rainha, dan Dama honoraria Mulher do mestre sala. Pada waktu itu, ketiga jabatan tersebut dipegang oleh satu orang saja.[37] Jenjang jabatan yang keempat adalah Dona camarista (ada lima orang pada tahun 1896), dan jabatan perwara yang paling rendah adalah Dona honoraira (ada 21 orang pada tahun 1896).[38]
Prancis

Permaisuri Prancis diketahui memiliki badan pengurus rumah tangga sendiri pada akhir abad ke-12, dan sebuah ordinansi dari tahun 1286 menyebutkan bahwa Juana I, Ratu Navara dan Permaisuri Prancis, memiliki satu regu pengiring yang beranggotakan lima orang perwara bersemenda (Dame) maupun perwara gadis (Damoiselle). Pada dasawarsa 1480-an, para perwara Prancis digolongkan menjadi kelompok Femmes Mariées (perwara bersemenda) dan kelompok Filles d'honneur (dayang kehormatan).[2] Meskipun demikian, anggota badan pengurus rumah tangga permaisuri maupun istanawan wanita pada Abad Pertengahan di istana Prancis sangat kecil jumlahnya, sama seperti di istana-istana lain di Eropa.
Baru pada akhir abad ke-15 dan awal abad ke-16 semangat istana-istana Italia zaman Renaisans untuk tampil lebih unggul membuat kehadiran perwara di dalam upacara-upacara istana dan rombongan yang mewakili pihak istana menjadi semacam gaya mutakhir, dan para istanawati menjadi kian canggih dan meningkat jumlahnya di istana Prancis maupun di istana-istana lain di Eropa.[2] Ketika itu jumlah perwara di istana Prancis meningkat pesat, dari hanya lima orang pada tahun 1286 dan hanya 23 orang pada tahun 1490 menjadi 39 orang pada tahun 1498 dan kurang lebih 54 pada abad ke-16.[2] Ekspansi kehadiran kaum perempuan di istana diyakini sebagai jasa dua orang tokoh, yaitu Anna, Adipatni Bretanye, yang mendorong semua istanawan untuk mengirim anak-anak gadis mereka kepadanya, dan François I, Raja Prancis, yang menuai kecaman lantaran meramaikan majelis istana dengan "kehadiran konstan" serombongan besar perempuan, yang bergunjing dan mencampuri urusan-urusan kenegaraan. Raja François I pernah berkata, "istana tanpa wanita adalah istana tanpa istana".[2]
- Istanawati tingkat satu di istana Prancis adalah Surintendante de la Maison de la Reine (kepala istana perempuan urusan busana) permaisuri. Hanya Surintendante dan Pengasuh Kanak-Kanak Prancis yang merupakan pejabat perempuan di Prancis yang berprasetia langsung kepada raja.[3] Jabatan ini dibentuk pada tahun 1619,[5] dan kosong sejak Marie Anne de Bourbon wafat pada tahun 1741, sampai Marie Louise menak Savoya-Karinyano, garwa Pangeran Lamballe diangkat pada tahun 1775.
- Istanawati tingkat dua adalah Première dame d'honneur, yang dapat mengambil alih tugas Surintendante yang sedang berhalangan hadir,[3] Tugas-tugasnya pun kurang lebih sama dengan tugas-tugas Surintendante, yaitu mempekerjakan dan mengawasi para istanawati maupun rutinitas dan belanja harian permaisuri.[5] Jabatan ini dibentuk pada tahun 1523, dan mula-mula merupakan jabatan istanawati yang paling tinggi.[2]
- Istanawati tingkat tiga adalah Dame d'atour, yang secara resmi bertugas mengawasi urusan penyimpanan busana dan perhiasan permaisuri, serta urusan mendandani permaisuri.[5] Jabatan ini dibentuk pada tahun 1534.[2]
- Istanawati tingkat empat adalah dames, sejak tahun 1523 disebut Dame d'honneur,[2] terdiri atas perwara-perwata yang hanya bertugas untuk menemani, melayani, dan membantu-bantu dalam acara-acara istana.[5] Jenjang ini ditiadakan pada tahun 1674, dan digantikan dengan Dame du palais, 12 orang bangsawati bersemenda dengan tugas-tugas yang sama.[3]
- Istanawati tingkat lima adalah Filles d'honneur atau Demoiselles d'honneur (Dayang Kehormatan), yakni anak-anak gadis kalangan ningrat, yang sama tugasnya dengan dames, tetapi tujuan penempatan mereka di istana adalah untuk belajar tata krama dan mencari jodoh.[5] Mereka diselia oleh Gouvernante dan Sous-gouvernante.[5] Sejak tahun 1531, para Filles diselia oleh Gouvernante de Filles, seorang perwara yang bertugas mendampingi sekaligus mengawasi mereka. Sejak tahun 1547, jabatan ini dipecah menjadi lebih dari satu.[2] Jabatan Filles d'honneur dihapuskan pada tahun 1674.[3]
- Istanawati tingkat enam adalah Première femme de chambre, yang membawahi perwara-perwara selebihnya, yakni Femme de Chambres dan Lavandières.[3] Premiere femme de chambre memegang kunci bilik-bilik permaisuri, dan dapat merekomendasikan maupun menolak permohonan audiensi kepada permaisuri, sehingga pada praktiknya membuat premiere femme de chambre menjadi jabatan yang sangat berkuasa di istana.[5]
Pada zaman Kekaisaran Prancis Pertama, perwara utama permaisuri adalah Dame d'honneur, disusul 20 sampai 36 orang Dames du Palais.[39][halaman dibutuhkan] Pada zaman Pemulihan Wangsa Bourbon, Putri Marie Thérèse memulihkan hierarki kepegawaian istana prarevolusi.[40] Pada zaman Kekaisaran Prancis Kedua, para istanawati yang melayani permaisuri kaisar terdiri atas Grand Maitresse tingkat satu, Dame d'honneur tingkat dua, disusul enam (kemudian hari dua belas) orang Dames du Palais.[41]
Rusia
Di istana Kepangeranan Agung Moskwa, jabatan-jabatan para perwara pengiring tsarina biasanya dibagi-bagi di kalangan boyarina (janda atau istri boyar), dan para perwara acap kali berasal dari keluarga dan kerabat tsarina.[42] Jajaran perwara tingkat utama adalah para bendahari tsarina, jajaran perwara tingkat madya adalah para penganti, dan jajaran perwara tingkat pratama adalah para emban putra-putri tsar (emban putra tsar lebih tinggi pangkatnya daripada emban putri tsar). Di kalangan para emban, jabatan yang paling penting adalah mamok, yakni emban kepala, yang biasanya dipilih dari kalangan para janda sepuh dan sering kali masih terhitung kerabat tsar atau tsarina.[43] Semua perwara pemangku jabatan diangkat dengan surat pengangkatan dari tsar. Jajaran perwara secara kolektif menempati jenjang yang lebih tinggi daripada jenjang svetlichnaya (biti-biti derji tsarina), postelnitsy (biti-biti pramugraha dan biti-biti dobi tsarina), maupun pejabat-pejabat yang menangani urusan-urusan umum.[43]
Pada tahun 1722, tatanan semacam ini dihapuskan, dan majelis istana Kekaisaran Rusia ditata ulang supaya selaras dengan usaha pembaharuan Tsar Pyotr Agung untuk membaratkan Rusia, sehingga jabatan-jabatan lama yang berkaitan dengan tsarina digantikan dengan jabatan-jabatan yang terilhami oleh tatanan istana Jerman.[44]
Spanyol
Di dalam keanggotaan majelis istana Kastila terdapat sekelompok perwara permaisuri yang dinamakan Camarera pada akhir abad ke-13 dan awal abad ke-14, tetapi tatanan khusus bagi para perwara baru ditetapkan pada abad ke-15.[45] Tatanan perwara khas Spanyol yang dibentuk pada masa pemerintahan Isabella I of Castile (bertakhta tahun 1474–1504), dipertahankan oleh Isabella of Portugal, Holy Roman Empress and Queen of Spain, sepanjang abad ke-16, dan menjadi acuan baku tatanan kehidupan beristana bagi para perwara.[45]
- Pangkat perwara tingkat utama adalah Camarera Mayor de Palacio (dayang besar bilik peraduan istana).[5] Pangkat ini sudah ada sejak dasawarsa 1410-an.[45]
- Pangkat perwara tingkat madya adalah para Ayas (pengasuh putra-putri kerajaan), dan para Guardas (penganti).[5]
- Pangkat perwara tingkat pratama adalah Dueñas de Honor, yakni para perwara bersemenda, yang bertanggung jawab atas para Damas atau Meninas yang masih lajang (dayang kehormatan) maupun para budak dan orang katai perempuan yang tergolong istanawati dan menempati jenjang di atas para Mozas (biti-biti pramugraha) dan para Lavanderas (biti-biti benara).[5]
Swedia
Kehidupan beristana di Swedia maupun di Denmark pada Awal Abad Kiwari ditata ulang pada awal abad ke-16 berdasarkan tatanan istana Jerman, yang terinspirasi oleh tatanan istana kaisar di Austria.[6] Secara garis besar, tatanan baru tersebut menempatkan para istanawati ningrat di jenjang Hovfröken lajang (dayang kehormatan, sampai tahun 1719 disebut Hovjungfru) yang dapat dipromosikan ke jenjang Kammarfröken (kepala dayang kehormatan, sampai tahun 1719 disebut Kammarjungfru).[6] Penyelia golongan istanawati ningrat ini adalah Hovmästarinna (istanawati kepala, sejajar sejajar dengan istanawati urusan busana), bisanya seorang bangsawati sepuh yang sudah berumah tangga atau sudah menjanda.[6] Di bawah golongan istanawati ningrat, terdapat golongan pelayan perempuan dari kalangan bukan ningrat. Penyelia golongan ini adalah Kammarfru (istanawati bilik peraduan, kurang lebih sejajar dengan seorang biti pribadi) yang lazimnya sudah bersuami, sering kali berasal dari kalangan borjuis, dan membawahi para Kammarpiga (biti-biti bilik peraduan).[6]
Sejak masa pemerintahan Ratu Kristina, Hovmästarinna diselia oleh Överhovmästarinna (kepala istanawati).[6] Pada tahun 1774, dimunculkan jabatan Statsfru (negarawati), yang menjadi gelar perwara-perwara bersemenda dengan pangkat antara Hovmästarinna sampai Kammarfröken.[46][halaman dibutuhkan] Kepegawaian istana Swedia dirampingkan pada tahun 1873.[46] Protokol-protokol istana baru yang dikeluarkan pada tahun 1911 dan 1954 melanjutkan usaha perampingan tersebut, dan banyak jabatan yang ditiadakan atau sengaja dibiarkan lowong untuk seterusnya.
Selain Statsfru dan Överhovmästarinna, gelar-gelar di atas tidak lagi digunakan dewasa ini. Sesudah Ratu Louise mangkat pada tahun 1965, Överhovmästarinna ditarik menjadi pegawai raja. Sejak tahun 1994, Överhovmästarinna adalah kepala pegawai raja, alih-alih pegawai ratu, sementara para pegawai ratu dikepalai oleh Statsfru. Hanya ada satu orang Statsfru, semua perwara lain disebut Hovdam (istanawati). Ratu Silvia hanya dilayani tiga orang Hovdamer (istanawati). Perwara utamanya adalah Statsfru.
Tiongkok

Kulawangsa Han
Perwara di Tiongkok disebut wanita istana. Semuanya secara resmi, jika tidak bisa dikatakan pada praktiknya selalu, merupakan penghuni keputren, apa pun tugas dan kewajibannya, dan berpeluang diangkat secara resmi oleh kaisar menjadi selir, garwa, bahkan permaisuri.[47]
Keputren kulawangsa Han (tahun 202 Pramasehi sampai tahun 220 Masehi) dikabarkan dihuni ribuan 'wanita istana', meskipun tidak ada angka pastinya.[47]
Kulawangsa Song
Setidaknya pada zaman kulawangsa Song (tahun 960–1279), para wanita istanadibedakan menjadi tiga golongan, yaitu golongan istri kaisar (para garwa dan selir kaisar), golongan putri kaisar (para putri dan saudara perempuan kaisar), serta golongan pegawai dan jenang perempuan yang melaksanakan bermacam-macam tugas dan berpeluang menjadi selir atau garwa.[48]
Perempuan-perempuan dari keluarga terpandang berpeluang terpilih menjadi permaisuri, garwa, atau selir begitu masuk istana, tetapi kaisar dapat pula mengangkat pegawai istana perempuan ke jenjang yang sama, karena secara resmi mereka semua adalah warga keputren.[48]
Para pegawai dan jenang perempuan biasanya diambil dari keluarga baik-baik, kemudian ditatar untuk menjalankan tugasnya.[48]
Kulawangsa Ming
Para wanita istana pada zaman kulawangsa Ming (tahun 1368–1644) juga dibedakan menjadi tiga golongan yang kurang lebih sama dengan penggolongan pada zaman kulawangsa Song.[49] Meskipun demikian, para pegawai dan jenang perempuan pada zaman kulawangsa Ming digolong-golongkan ke dalam enam lembaga pemerintahan yang disebut Enam Jawatan, yaitu Jawatan Umum, Jawatan Kriya, Jawatan Upacara, Jawatan Papan, Jawatan Sandang, dan Jawatan Pangan.[50] Semua lembaga tersebut dipantau oleh Jawatan Pengawasan Pegawai yang dikepalai seorang pegawai perempuan.[51]
Para karyawati di istana kaisar digolongkan menjadi pegawai tetap dan pegawai tidak tetap.[52] Golongan pegawai tetap terdiri atas pegawai-pegawai perempuan berkepandaian baca tulis lagi terdidik yang berkhidmat di dalam Enam Jawatan, serta para inang penyusu yang merawat para ahli waris kaisar atau kanak-kanak lain di istana.[52] Perempuan-perempuan ini mendapatkan kekayaan yang besar dan terpandang di tengah masyarakat jika melaksanakan tugasnya dengan baik.[53] Golongan wanita istana musiman atau tidak tetap terdiri atas para bidan, para tabib perempuan, dan para karyawati berperikatan kerja (biasanya perempuan-perempuan berkhidmat sebagai biti-biti para garwa kaisar, para seniwati penghibur, para penatar keterampilan jahit-menjahit, atau para penandu).[54] Perempuan-perempuan ini direkrut untuk dipekerjakan di istana apabila jasa atau keahliannya dibutuhkan dan dibebastugaskan pada akhir masa bakti yang sudah ditetapkan sebelumnya.[55]
Selama kulawangsa Ming berkuasa, kerap terjadi pergerakan di antara industri pelayanan istana dan penghuni keputren berpangkat rendah.[56] Meskipun kaisar-kaisar kerap mengangkat biti-biti menjadi garwa berpangkat rendah, hanya segelintir perempuan yang mampu mendaki jenjang kepangkatan garwa kaisar atau menjadi tokoh yang cukup kondang.[57]
Seiring bergulirnya waktu, kondisi hidup dan kondisi kerja wanita istana mulai memburuk.[58] Para karyawati rendahan di istana kaisar sering kali diupah kecil dan tidak mampu membeli makanan, sehingga terpaksa mencari penghasilan tambahan dengan menjual sulamannya ke luar istana melalui para sida-sida.[59] Secara keseluruhan, kondisi hidup dan hukuman atas perilaku yang tidak patut kian lama kian memburuk sampai-sampai pernah ada upaya pembunuhan Kaisar Jiajing oleh sekelompok biti-biti.[60] Pada tahun 1542, beberapa orang biti-biti, dipimpin Yang Jinying, mengendap-endap ke dalam bilik peraduan kaisar, dan berusaha mencekik leher kaisar yang sedang pulas tertidur dengan tali pengikat tirai.[61] Upaya pembunuhan ini pada akhirnya gagal, dan semua perempuan yang terlibat dihukum mati, meskipun pemberontakan disertai tindak kekerasan yang dilakukan oleh biti-biti semacam ini sebelumnya tidak pernah terjadi pada zaman kulawangsa Ming.[61]
Akibat warkat-warkat propaganda berisi fitnah yang ditulis dan disebarluaskan oleh para pegawai dan sastrawan Konghucu pria, kekuasaan para pegawai perempuan berpangkat tinggi juga turut melemah pada zaman kulawangsa Ming.[62] Para pegawai lelaki terkemuka ini mulai merendahkan kebijakan pengaryaan perempuan terpelajar sebagai pegawai pemerintah dan pemegang jabatan-jabatan kenegaraan dalam menanggapi pengaruh kaum wanita istana terhadap negara pada masa lampau.[63] Langkah tersebut mengakibatkan peran-peran yang dipegang perempuan lambat laun dialihkan kepada para sida-sida, yang berlanjut sampai berakhirnya zaman kulawangsa Ming.[64]
Kulawangsa Qing
Tatanan wanita istana nyaris tidak mengalami perubahan pada zaman Kulawangsa Qing (tahun 1644–1912), manakala muncul suatu golongan wanita istana berstatus garwa dan selir, yang sebelumnya tidak memegang jabatan lain. Meskipun demikian, semua dayang dapat dinaikkan statusnya menjadi selir atau garwa oleh kaisar.[65] Pada zaman kulawangsa Qing, wanita istana dipilih dari antara anak-anak gadis keluarga pembesar panji Mancu, yang didaftarkan untuk diperiksa sebelum diizinkan berumah tangga.[65] Demikian pula dayang-dayang diambil dari kalangan pejabat rendahan dan kalangan panji rendahan sebelum diizinkan berumah tangga.[66] Jika terpilih, dayang-dayang ditatar menjadi asisten pribadi para garwa kaisar, menjadi pegawai perempuan di bidang upacara atau di bidang-bidang lain, dan juga siap sedia dijadikan garwa atau selir oleh kaisar.[66] Di bawah jenjang dayang-dayang adalah pada biti-biti, yang dipilih dengan cara yang sama dari antara anak-anak gadis prajurit.[66]
Yunani
Pada zaman Kekaisaran Romawi Timur, permaisuri kaisar didampingi oleh rombongan wanita istana (Sekreton Tōn Gunaikōn) yang sebagian besar anggotanya adalah istri-istri istanwan tingkat tinggi. Para istanawati tersebut menyandang gelar yang merupakan bentuk feminin dari gelar suaminya. Satu-satunya jabatan khusus bagi wanita di istana adalah Zoste patrikia, yaitu perwara ketua merangkap pengiring wanita permaisuri kaisar, yang mengepalai rombongan wanita istana dan sering kali masih terhitung kerabat permaisuri. Gelar ini sudah muncul setidaknya sejak abad ke-9.
Kerajaan Yunani didirikan pada tahun 1832.Permaisuri Yunani yang pertama, Amalia dari Oldenburg, mengatur jenjang kepangkatan para perwara menjadi 'Grande Maitresse sebagai jenjang utama, Dame d'honneur sebagai jenjang madya, dan Dame de Palais sebagai jenjang pratama.[67][halaman dibutuhkan]
Perwara ternama dalam sejarah
Pada Abad Pertengahan, Margareta, putri Raja Prancis yang menjadi Parameswari Inggris, diketahui dilayani tujuh orang perwara, yakni tiga orang perwara bersemenda yang disebut Domina, dan empat orang dayang-dayang, tetapi keberadaan perwara utama tidak disebutkan,[68] dan sampai abad ke-15 mayoritas pegawai rumah tangga permaisuri adalah laki-laki.[69]
Selambat-lambatnya pada pertengahan abad ke-15, Elizabeth Woodville hanya didampingi lima orang perwara,[69] tetapi pada akhir abad ke-15 dan awal abad ke-16, para perwara diberi tempat yang lebih menonjol di istana Inggris, bersamaan waktunya dengan perkembangan-perkembangan yang berlangsung di istana-istana Prancis dan negara-negara Eropa Daratan lainnya. Tatanan istana Kadipaten Burgundia dijadikan contoh ketika Raja Edward IV menerbitkan Black Book of the Household pada tahun 1478,[3] dan organisasi rumah tangga kerajaan Inggris pada hakikatnya mulai berjalan sejak saat itu.[70][halaman dibutuhkan]
Elizabeth dari York diiring banyak perwara, yang disebutkan di dalam laporan duta besar Spanyol, Rodrigo de Puebla, sebagai sesuatu yang tidak lazim dan mencengangkan: "Parameswari diladeni tiga puluh dua orang istanawati, yang sangat anggun dan cemerlang gayanya".[69] Sang parameswari dikabarkan diladeni 36 orang perwara, 18 orang di antaranya berasal dari kalangan ningrat. Sebuah catatan yang lebih lengkap dari tahun 1502 menyebutkan bahwa para perwara parameswari terdiri atas 16 orang 'perempuan baik-baik', tujuh orang dayang kehormatan, dan tiga orang 'biti pramugraha', yang menemaninya di bilik peraduan.[69] Selain perempuan-perempuan yang secara resmi dipekerjakan sebagai perwara, para abdi perempuan parameswari ternyata mencakup pula anak-anak perempuan dan perwara-perwara dari para perwaranya, yang juga tinggal di kediaman parameswari.[69]
Tugas perwara di istana Kerajaan Inggris pada zaman kulawangsa Tudor adalah mengiring permaisuri, baik di muka umum maupun dalam kehidupan sehari-hari. Pra perwara harus menemaninya ke mana saja ia melangkah, menghiburnya dengan musik atau tari-tarian, bahkan sampai memakaikan pakaian, memandikan, dan membantunya membuang hajat, sebab menurut adat yang berlaku pada masa itu, seorang sentanaraja tidak boleh mengerjakan sendiri segala sesuatu, tetapi harus ditunggui dan dilayani saat mengerjakan semua tugas hariannya sebagai tanda kemuliaan derajatnya.[69]
Para perwara diangkat karena status sosial mereka sebagai bagian dari kalangan ningrat, atas rekomendasi para pembesar istana atau tokoh masyarakat, juga karena mereka diharapkan untuk menjadi pihak pendukung keluarga kerajaan lantaran hubungan kekerabatan mereka dengan keluarga kerajaan. Jika parameswari tidak berasal dari luar negeri, maka kaum kerabatnyalah yang kerap diangkat menjadi perwara, lantaran mereka dianggap dapat dipercaya dan setia. Margaret Lee adalah perwara bilik pribadi Anne Boleyn, sama seperti Elizabeth Seymour adalah perwara bilik pribadi Jane Seymour.
Jenjang kepangkatan para perwara parameswari mulai ditata sejak zaman Tudor. Pucuk pimpinan para perwara adalah mistress of the robe (istanawati urusan busana). Perwara yang setingkat di bawahnya adalah first lady of the bedchamber (perdana perwara bilik peraduan), yang membawahi para perwara bilik peraduan (biasanya istri-istri atau janda-janda para bangsawan di atas earl). Para perwara bilik peraduan membawahi biti-biti bilik peraduan (biasanya anak-anak perempuan para bangsawan). Jenjang paling bawah ditempati dayang-dayang kehormatan, yang berhak disapa The Honourable (yang terhormat) seumur hidupnya lantaran pernah berkhidmat di istana.[71]
Secara resmi, tatanan ini kurang-lebih tetap sama sejak zaman Tudor. Meskipun demikian, pada praktiknya, banyak jabatan yang dibiarkan lowong. Sebagai contoh, pengangkatan dayang-dayang kehormatan belakangan ini dilakukan semata-mata untuk kepentingan upacara penobatan.
Perwara terkenal
Berikut ini adalah daftar perwara kenamaan di negaranya masing-masing.
Austria
- Adipatni Sophie Chotek von Chotkow und Wognin, kemudian hari menjadi Adipatni Hohenberg (1868–1914)
Kanada
- Margaret Southern (lahir tahun 1931)[30]
Denmark
- Louise Scheel von Plessen (1725–1799)
Inggris dan Skotlandia
- Catherine Douglas (berkiprah tahun 1497)
- Elizabeth Woodville (kemungkinan besar 1437–1492)
- Lady Mary Boleyn (sekitar tahun 1499/1500–1543)
- Keempat permaisuri Raja Henry VIII:
- Lady Anne Boleyn (sekitar tahun 1501/1507–1536)
- Jane Seymour (sektiar tahun 1508–1537)
- Catherine Howard (sekitar tahun 1523–1542)
- Catherine Parr (1512–1548)
- Jane Boleyn, Viscountess Rochford (sekitar tahun 1505–1542)
- Katherine Ashley (sekitar tahun 1502–1565)
- Jane Dormer, kemudian hari menjadi Adipatni Feria (1538–1612)
- Mary Fleming (1542–1581); salah seorang dari Empat Mary
- Lettice Knollys (1543–1634)
- Sarah Churchill, Adipatni Marlborough (1660–1744)
- Ivy Gordon-Lennox, kemudian hari menjadi Adipatni Portland (1887–1982)
- Ruth Roche, Garwa Baron Fermoy (1908–1993)
- Lady Pamela Mountbatten (lahir tahun 1929)
- Jane Loftus, Marchioness of Ely (1821–1890)
- Lady Sarah McCorquodale (lahir tahun 1955)
Mesir
- Nahid Rasyad (lahir tahun 1917); perwara Putri Fauzia selepas diceraikan Syah Iran.
- Zainab Zulfikar (tahun 1895–1990); perwara utama Prameswari Nazli.
Prancis
- Françoise de Brézé, Bupatni Maulévrier (1515–1577); Pemangku Pangeran Sedan dari tahun 1553 sampai 1559
- Jacqueline de Longwy, Bupatni Bar-sur-Sein (sebelum tahun 1520 sampai 1561)
- Henriette dari Cleves, Adipatni Nevers ke-4 (1542–1601); salah seorang kreditur utama Prancis sampai akhir hayatnya
- Marie Thérèse Louise dari Savoya, Putri Lamballe (1749–1792)
- Yolande de Polastron (1749–1793)
- Louise-Élisabeth de Croÿ, Bupatni Mancanegara Tourzel (1749–1832)
Jerman
- Marie Luise von Degenfeld (tahun 1634–1677); perwara di istana Kabupaten Keraton di Heidelberg
- Maria Charlotte von Schafftenberg (tahun 1699–1780); perwara di istana Kabupaten Keraton Saksen di Dresden
- Sophie Caroline von Camas (tahun 1686–1766); perwara di istana Prussia di Berlin
- Baronisa Maria Caroline Charlotte von Ingenheim (1704–1749); perwara di istana Bayern di Munich
- Eleonore von Schlieben (1720–1755); perwara di istana Prusia
- Sophie Marie von Voß (1729–1814); perwara di istana Prusia
- Charlotte von Stein (1742–1827); perwara di istana Saksen-Weimar
- Luise von Göchhausen (1752–1807); perwara di istana Saksen-Weimar
- Karoline Friederike von Berg (1760–1826); perwara di istana Prusia
- Gabriele von Bülow (1802–1887); ketua perwara di istana Prusia
- Rosalie von Rauch, kemudian hari menjadi Bupatni Hohenau (tahun 1820–1879); perwara di istana Prusia
Hongaria
- Helene Kottanner (tahun 1400–1470); perwara Elisabeth menak Luksemburg, ia mengatur pemindahan diam-diam Mahkota Suci dan mengasuh Elisabeth menak Habsburg, yang kemudian hari menjadi Permaisuri Polandia.
- Bupatni Irma Sztáray de Sztára et Nagymihály (tahun 1863–1940); perwara di istana Elisabeth "Sisi", Permaisuri Austria
- Bupatni Marie Festetics von Tolna (tahun 1839–1923); perwara Permaisuri Elisabeth dan Anggota Kehormatan Tarekat Theresa
- Ida Krisztina Veronika Ferenczy menak Vecseszék (tahun 1839–1928); sahabat karib dan tangan kanan Permaisuri Elisabeth
Jepang
- Ise no Miyasudokoro (tahun 875–938); penyair, kekasih Pangeran Atsuyoshi dan kemudian hari menjadi selir Kaisar Uda
- Takashina no Takako (wafat tahun 996); perwara Maharani Junshi, kemudian hari menjadi istri sah Fujiwara no Michitaka dan wali Kaisar Ichijō
- Uma no Naishi (tahun 949–1011); penyair, perwara Maharani Kishi (permaisuri Kaisar Murakami), Fujiwara no Senshi (permaisuri Kaisar En'yū, ibunda Kaisar Ichijō), dan Maharani Teishi (permaisuri Kaisar Ichijō); kemudian hari menjadi pengikut Shōnagon
- Akazome Emon (sekitar tahun 956–1041 atau sesudahnya); penyair dan penulis "Hikayat Untung Berbunga", perwara Maharani Shōshi
- Murasaki Shikibu (sekitar tahuca 978–ca 1016/1031); penyair dan penulis novel pertama yang diketahui, "Hikayat Genji", ia juga menulis buku harian yang menceritakan kehidupan di istana sesudah berkhidmat kepada Maharani Shoshi
- Sei Shōnagon (sekitar tahun 966–1017/1025); penulis Pustaka Kalang Hulu, perwara Maharani Teishi
- Ise no Taifu (989–1060); penyair, perwara Maharani Shoshi bersama-sama Murasaki Shikibu, Akazome Emon, dan Izumi Shikibu; kemudian hari menjadi inang pengasuh Kaisar Shirakawa
- Daini no Sanmi (999–1082); anak Murasaki Shikibu, perwara Ibu Suri Tua Shoshi serta emban Kaisar Go-Reizei dan putri-putri kaisar
- Sarashina (tahun 1008 hingga sesudah tahun 1059); penulis Sarashina Nikki, perwara Putri Yushi, anak perempuan ketiga Kaisar Go-Suzaku
Korea
- Kim Gae-si (wafat tahun 1623)
- Garwa Gwi-in dari marga Jo cabang Okcheon (wafat tahun 1652)
- Jang Ok-jeong, Garwa Ningrat Hui dari marga Jang cabang Indong (tahun 1659–1701)
- Garwa Ningrat Suk dari marga Choe cabang Haeju (tahun 1670–1718)
- Garwa Ningrat Yeong dari marga Yi cabang Jeonui (tahun 1696–1764)
- Garwa Ningrat Ui dari marga Seong cabang Changnyeong (tahun 1753–1786)
- Garwa Kaisar Boknyeong Gwi-in dari marga Yang cabang Cheongju (tahun 1882–1929)
Tiongkok
- Lu Lingxuan (wafat tahun 577); inang penyusu Kaisar Gao Wei
- Sumalagu (tahun 1615–1705); dayang-dayang istana kulawangsa Qing dan tangan kanan Ibu Suri Xiaozhuang
- Wei Tuan'er (wafat tahun 693); perwara kesayangan Maharani Wu Zetian
- Putri Der Ling (tahun 1885–1944); dianugerahi gelar "putri tingkat tiga" ketika berkhidmat sebagai perwara utama Ibu Suri Cixi
- Nellie Yu Roung Ling (tahun 1889–1973); dianugerahi gelar "putri tingkat tiga" ketika berkhidmat sebagai perwara Ibu Suri Cixi
Usmani
- Gülfem Hatun (wafat tahun 1562); diduga menjadi salah seorang selir Sultan Sulaiman Agung
- Canfeda Hatun (wafat tahun 1600); kepala pramuwisma
- Hubbi Hatun (wafat tahun 1590); penyair
- Raziye Hatun (tahun 1525–1597); kepala urusan keuangan
- Şahinde Hanım (sebelum berumah tangga dikenal sebagai Putri Kezban Marsyania; sekitar tahun 1895 sampai 1924); menjadi perwara bibinya, Nazikeda Kadın
- Şekerpare Hatun; kepala pramuwisma
Polandia
- Marie Casimire Louise de La Grange d'Arquien, kemudian hari menjadi permaisuri Polandia (tahun 1641–1716)
- Klara Izabella Pacowa (1631–1685)
- Elżbieta Helena Sieniawska (tahun 1669–1729)
Rusia
- Sofia Stepanovna Razumovskaya (1746–1803); salah seorang gendak Tsar Pavel I
- Bupatni Julia von Hauke, kemudian hari menjadi Putri Battenberg (tahun 1825–1895)
- Anna Aleksandrovna Virubova (tahun 1884–1964)
Swedia
- Elizabeth Ribbing (tahun 1596–1662), dan kemudian hari juga anak perempuannya yang terlahir dari perkawinan tidak sekufu, yaitu Elizabeth Carlsdotter Gyllenhielm (tahun 1622–1682)
- Ulrika Strömfelt (tahun 1724–1780)
- Augusta von Fersen (tahun 1754–1846)
- Magdalena Rudenschöld (tahun 1766–1823)
Muangthai
- Putri Vibhavadi Rangsit (tahun 1920–1977)
Dalam fiksi
- The Favourite (film produksi tahun 2018)
Baca juga
Kutipan
- 1 2 "Lady-in-waiting | Definition, History, & Facts | Britannica". www.britannica.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2024-06-25.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Kolk 2009.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 Duindam
- 1 2 Kerkhoff
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Akkerman & Houben 2013
- 1 2 3 4 5 6 7 8 Persson 1999
- ↑ Hamer 2011.
- ↑ S Gravenhaagsche Stads-Almanak: voor 1857
- ↑ Almanach royal officiel de Belgique, pour l'an 1841
- 1 2 3 Kjølsen 2010
- 1 2 3 4 Allison, Ronald; Riddell, Sarah, ed. (1991). The Royal Encyclopedia. London: Macmillan. hlm. 307.
- ↑ Risk, James; Pownall, Henry; Stanley, David; Tamplin, John (2001). Royal Service (Jilid II). Lingfield, Surrey: Third Millennium. hlm. 65–70.
- ↑ misalnya "Nyonya Fiona Henderson telah menggantikan Nyonya Robert de Pass selaku Perwara Ratu" (Edaran Istana, 29 Oktober 2002 Diarsipkan 29 June 2016 di Wayback Machine.).
- ↑ "State Opening of Parliament - Royal Procession". BBC News. 15 October 1998. Diakses tanggal 29 Juni 2024.
- ↑ British Monarchy 2016.
- ↑ "London Gazette, Issue 45868". 2 January 1973. hlm. 105. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 3 November 2023. Diakses tanggal 7 Juni 2022.
- 1 2 3 "London Gazette, Issue 51019, Page 9885, 4 August 1987". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 3 November 2023. Diakses tanggal 7 Juni 2022.
- ↑ "London Gazette, Issue 4191". 1 Januari 1960. hlm. 79. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 3 November 2023. Diakses tanggal 7 Juni 2022.
- ↑ "London Gazette, Issue 42185, Page 7459, 4 November 1960". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 3 November 2023. Diakses tanggal 7 Juni 2022.
- 1 2 "Court Circular, 11 August 2002". The Royal Family. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 Juni 2016. Diakses tanggal 26 Mei 2022.
- ↑ "Court Circular, 13 July 2017". The Royal Family. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 Juni 2016. Diakses tanggal 26 Mei 2022.
- 1 2 3 4 5 Coughlan, Sean (27 November 2022). "Camilla scraps ladies-in-waiting in modernising move". BBC News. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 27 November 2022. Diakses tanggal 27 November 2022.
- ↑ Almanacco reale del regno delle Due Sicilie Diarsipkan 5 May 2023 di Wayback Machine.
- ↑ Calendario reale per l'anno 1879
- ↑ la Repubblica.it, 2007, 11, 25, La dama di compagnia dell' ultima Regina [perlu rujukan lengkap]
- 1 2 3 4 5 Lillehoj
- 1 2 3 4 5 Rowley
- 1 2 Lebra
- ↑ Zedlitz-Trützschler 1924.
- 1 2 McCreery, Christopher (2008). On Her Majesty's Service: Royal Honours and Recognition in Canada. Dundurn. hlm. 133. ISBN 978-1-5500-2742-6.
- 1 2 Madeline Zilfi: Women and Slavery in the Late Ottoman Empire: The Design of Difference Diarsipkan 14 April 2023 di Wayback Machine.
- ↑ Brookes, Douglas Scott (2010). The Concubine, the Princess, and the Teacher: Voices from the Ottoman Harem. University of Texas Press. ISBN 978-0-292-78335-5. s. 293–301
- 1 2 3 4 Brookes, Douglas Scott (2010). The Concubine, the Princess, and the Teacher: Voices from the Ottoman Harem. University of Texas Press. ISBN 978-0-292-78335-5. s. 293–301
- ↑ "상궁(尙宮), Sanggung" (dalam bahasa Korea and Inggris). The Academy of Korean Studies. Diarsipkan dari asli tanggal 3 Maret 2016. Diakses tanggal 9 September 2016.
- ↑ Hauge & Egeberg 1960.
- ↑ Bożena Popiołek, Rola dworów magnackich w edukacji dziewcząt na przełomie XVII i XVIII wieku, www.wilanow-palac.pl [dostęp 2020-02-25].
- ↑ "Corte Portugueza. Casa de Suas Magestade" (PDF). Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 1 Maret 2021. Diakses tanggal 19 Maret 2023.
- ↑ "Corte Portugueza. Casa de Suas Magestade" (PDF). Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 1 Maret 2021. Diakses tanggal 19 Maret 2023.
- ↑ Mansel.
- ↑ Nagel 2008.
- ↑ Seward 2004.
- ↑ И. Е. Забелин. Глава VI. Царицын дворовый чин // Домашний быт русских цариц в XVI и XVII столетиях. – М.: Типография Грачева и Комп., 1869.
- 1 2 Верховая боярыня // Энциклопедический словарь Брокгауза и Ефрона : в 86 т. (82 т. и 4 доп.). – СПб., 1890–1907.
- ↑ "НЭБ – Национальная электронная библиотека". rusneb.ru – Национальная электронная библиотека (dalam bahasa Rusia). Diakses tanggal 25 Januari 2024.
- 1 2 3 Cruz & Stampino
- 1 2 Rundquist 1989
- 1 2 Ebrey
- 1 2 3 Chung, hlm. 960–1126
- ↑ Hsieh, Bao Hua (1999). "From Charwoman to Empress Dowager: Serving-Women in the Ming Palace". Ming Studies. 42 (42): 26–80. doi:10.1179/014703799788763371. PMID 22026040.
- ↑ Hsieh, Bao Hua (2014). "Ming Palace Serving-Women". Concubinage and Servitude in Late Imperial China. London: Lexington Books. hlm. 179–208.
- ↑ Hsieh. Concubinage and Servitude. hlm. 184.
- 1 2 Hsieh. Concubinage and Servitude. hlm. 180.
- ↑ Hsieh. Concubinage and Servitude. hlm. 181.
- ↑ Cass, Victoria B (1986). "Female Healers in the Ming and the Lodge of Ritual and Ceremony". Journal of the American Oriental Society. 106 (1): 233–245. doi:10.2307/602374. JSTOR 602374.
- ↑ Cass. Female Healers. hlm. 236.
- ↑ Hsieh. "From Charwoman to Empress Dowager". Ming Studies: 45.
- ↑ Hsieh. "From Charwoman to Empress Dowager". Ming Studies: 46.
- ↑ Hsieh. Concubinage and Servitude. hlm. 187.
- ↑ Hsieh. "From Charwoman to Empress Dowager". Ming Studies: 127.
- ↑ Lee, Lily Xiao Hong (2016). Biographical Dictionary of Chinese Women, Jilid II: Tang Through Ming 618–1644. Hoboken: Taylor and Francis. hlm. 543.
- 1 2 Lee. Biographical Dictionary. hlm. 543.
- ↑ Hinsch, Bret (2016). Women in Imperial China. London: Rowman & Littlefield. hlm. 147–174.
- ↑ Hinsch. Women in Imperial China. hlm. 148.
- ↑ Hsieh. "From Charwoman to Empress Dowager". Ming Studies: 125.
- 1 2 Walthall
- 1 2 3 Hsieh Bao Hua
- ↑ Almanach de Gotha 1859.
- ↑ William J. Thoms: The Book of the Court: Exhibiting the History, Duties, and Privileges of the English Nobility and Gentry. Particularly of the Great Officers of State and Members of the Royal Household, 1844
- 1 2 3 4 5 6 Alison Weir: Elizabeth of York: A Tudor Queen and Her WorldDiarsipkan 28 August 2017 di Wayback Machine.
- ↑ Gosman & Macdonald Vanderjagt.
- ↑ Chisholm 1911, hlm. 663.
Rujukan
- Akkerman, Nadine; Houben, Birgit, ed. (2013), The Politics of Female Households: Ladies-In-Waiting Across Early Modern Europe, Leiden: Brill[perlu rujukan lengkap]
- Almanach de Gotha: annuaire généalogique, diplomatique et statistique, 1859 [perlu rujukan lengkap]
- "Ladies-in-Waiting and Equerries", The Official website of the British Monarchy, diarsipkan dari asli tanggal 3 February 2016
- Chung, Priscilla Ching, Palace Women in the Northern Sung, hlm. 960–1126 [perlu rujukan lengkap]
Chisholm, Hugh, ed. (1911), "Honourable" , Encyclopædia Britannica, vol. 13 (Edisi 11), Cambridge University Press, hlm. 662–663 - Cruz, Anne J.; Stampino, Maria Galli, Early Modern Habsburg Women: Transnational Contexts, Cultural Conflicts, dynastic continuities [perlu rujukan lengkap]
- Ebrey, Patricia Buckley, Women and the Family in Chinese History [perlu rujukan lengkap]
- Duindam, Jeroen Frans Jozef, Vienna and Versailles: The Courts of Europe's Dynastic Rivals, 1550–1780 [perlu rujukan lengkap]
- Kolk, Caroline zum (June 2009), "The Household of the Queen of France in the Sixteenth Century", The Court Historian, 14 (1) [perlu rujukan lengkap]
- Hsieh Bao Hua, Concubinage and Servitude in Late Imperial China [perlu rujukan lengkap]
- Gosman, Martin; Macdonald, Alasdair James; Vanderjagt, Arie Johan, Princes and Princely Culture: 1450–1650 [perlu rujukan lengkap]
- Hamer, Dianne (2011), Sophie: biografie van Sophie van Würtemberg (1818–1877) – op basis van brieven en dagboken [perlu rujukan lengkap]
- Kägler, Britta, Frauen am Münchener Hof (1651–1756) [perlu rujukan lengkap]
- Kerkhoff, Jacqueline, Maria van Hongarije en haar hof 1505–1558: tot plichtsbetrachting uitverkoren [perlu rujukan lengkap]
- Lebra, Takie Sugiyama, Above the Clouds: Status Culture of the Modern Japanese Nobility [perlu rujukan lengkap]
- Lillehoj, Elizabeth, Art and Palace Politics in Early Modern Japan, 1580s–1680s [perlu rujukan lengkap]
- Mansel, Philip, The Eagle in Splendour: Inside the Court of Napoleon [perlu rujukan lengkap]
- Nagel, Susan (2008), Marie-Therese, Child of Terror: The Fate of Marie Antoinette's Daughter, NY: Bloomsbury: Macmillan, ISBN 978-1-59691-057-7
- Persson, Fabian (1999), Servants of Fortune. The Swedish Court between 1598 and 1721, Lund: Wallin & Dalholm, ISBN 91-628-3340-5
- Hauge, Yngvar; Egeberg, Nini (1960), Bogstad, 1773–1995, H. Aschehoug
- Walthall, Anne, Servants of the Dynasty: Palace Women in World History [perlu rujukan lengkap]
- Kjølsen, Klaus (2010), Det Kongelige Danske Hof 1660–2000 [perlu rujukan lengkap]
- Rowley, G. G., An Imperial Concubine's Tale: Scandal, Shipwreck, and Salvation in Seventeenth-Century Japan [perlu rujukan lengkap]
- Rundquist, Angela (1989), Blått blod och liljevita händer: en etnologisk studie av aristokratiska kvinnor 1850–1900, Carlsson, Diss. Stockholm: Univ., Stockholm[perlu rujukan lengkap]
- Seward, Desmond (2004), Eugénie. An empress and her empire, Stroud: Sutton, cop., ISBN 0-7509-2979-0
- Zedlitz-Trützschler, Robert (1924), Twelve Years at the Imperial German Court[perlu rujukan lengkap]
Pranala luar
- Alchin, Linda. "Lady in Waiting". Elizabethan Era. Diakses tanggal 18 April 2017.
| Internasional | |
|---|---|
| Nasional | |
| Lain-lain | |