Trump kemudian bertemu dengan Presiden UkrainaVolodymyr Zelenskyy sebelum bertemu dengan pemimpin Eropa lainnya. Saat konferensi pers yang berkaitan dengan pertemuan bilateral tersebut, Zelenskyy secara pribadi menyerahkan sebuah surat dari istrinya, Olena Zelenska kepada Ibu Negara Amerika SerikatMelania Trump yang berisi ucapan terima kasih kepadanya dalam mengamankan perjanjian untuk mengembalikan anak-anak Ukraina kembali pulang dari tahanan Rusia.[8]
Trump ditanya tentang klaimnya sebelumnya bahwa Zelenskyy dapat mengakhiri perang "segera". Trump menjawab bahwa ia masih meyakini hal itu, dan bahwa ada peluang besar untuk menghasilkan penyelesaian dalam pertemuan tiga pihak di masa mendatang dengan Rusia, Ukraina, dan Amerika Serikat.[9] Zelenskyy juga menyatakan bahwa ia ingin pertemuan tersebut segera diwujudkan.[10] Trump juga menyatakan bahwa ia akan menawarkan keamanan kepada Ukraina, tetapi tidak diketahui apakah keamanan ini akan dilakukan oleh NATO atau hanya Amerika Serikat.[8]
Trump menegaskan kembali bahwa ia merasa bahwa gencatan senjata bukan syarat untuk perjanjian damai.[3][4] Hal ini menandai perubahan signifikan dari sikap Trump sebelum pertemuannya dengan Putin minggu sebelumnya. Sebelum KTT Rusia-Amerika Serikat, ia menyatakan keinginannya untuk mencapai gencatan senjata "segera" dan mengancam Rusia dengan sanksi ekonomi jika tidak tercapai kesepakatan.[10]
Zelenskyy kemudian menegaskan bahwa Ukraina bisa membeli alutsista Amerika Serikat dengan dukungan Eropa dan program pendanaan lainnya. Ia menegaskan bahwa meningkatkan kemampuan Angkatan Bersenjata Ukraina adalah hal yang penting.[10]
Menurut BBC, pertemuan ini "belum pernah terjadi sebelumnya di zaman modern ini di mana begitu banyak pemimpin dunia berada [di Gedung Putih] pada saat yang sama."[12] Beberapa pemimpin Eropa termasuk Perdana Menteri ItaliaGiorgia Meloni dan Presiden Komisi EropaUrsula von der Leyen usulan jaminan keamanan untuk Ukraina sesuai dengan klausul pertahanan kolektif NATO, yang mana serangan terhadap satu negara dianggap sebagai serangan terhadap semua negara.[13]
Pertemuan tersebut sempat dijeda untuk sementara karena Donald Trump sedang menghubungi Vladimir Putin selama 40 menit melalui telefon.[14] Alasan jeda karena hubungan telefon langsung adalah karena Trump ingin menghubungi Putin tanpa mengurangi rasa hormat kepadanya dibandingkan menelponnya langsung kepada pemimpin Eropa yang hadir.[15]