Latar belakang
Pada 11 Desember 1941, pasukan Jepang menginvasi bagian barat laut Malaya yang bergerak dari wilayah selatan Thailand tanpa henti, menyusuri pantai barat Malaya dan mematahkan seluruh upaya perlawanan pasukan Inggris untuk menghentikannya. Menjelang akhir tahun 1941, pasukan Jepang berhasil menguasai seluruh wilayah barat laut Malaya.[2] Namun, pasukan Inggris berhasil melakukan upaya perlawanan atas pasukan Jepang dalam pertempuran taktis yang berlangsung selama empat hari sehingga mengakibatkan jatuhnya banyak korban dari pasukan Jepang.[1] Pada 2 Januari 1942, pasukan Divisi Infanteri ke-11 India, dikepung oleh pasukan Jepang melalui pendaratan laut di wilayah selatan Kampar yang berusaha memutus perjalanan mereka menuju Singapura. Karena kalah jumlah, pasukan India kemudian bergerak mundur ke wilayah Trolak yang berjarak sekitar 8 Km utara Slim River.[2]
Posisi pasukan Inggris di Trolak
Pertahanan-pertahanan di jalan menuju Trolak, diawali dengan koridor sepanjang 6,5 Km di pos kilometer 60 yang membentang melalui hutan rimba, hingga ke pos kilometer 64. Jalan tersebut membelah area yang lebih terbuka di perkebunan karet Cluny sejauh lima kilometer sebelum mencapai jembatan kereta api Slim River. Jalan tersebut kemudian berbelok ke timur dan mengarah ke hulu sungai sejauh 9,6 Km sebelum menyeberangi Sungai Slim melalui sebuah jembatan. Setelah kehilangan satu dari tiga brigadenya dalam pertempuran Kampar, komandan Inggris Mayor Jenderal Paris yang memimpin pasukan Brigade Infanteri India ke-12, bergerak ke posisi pertahanan pantai yang jauh ke selatan untuk mempertahankan sisi sayap barat pasukan Divisi, lalu beristirahat dan mengatur ulang pasukannya. Jenderal Paris bersama komandan pasukan Brigade India ke-12, Letnan Kolonel Ian Stewart dan komandan Brigade Gurkha ke-28, Letnan Kolonel Ray Selby beserta seluruh pasukannya, telah berkurang kekuatannya akibat pertempuran sebelumnya untuk mempertahankan wilayah utara sungai di daerah Kampar dan jalan Grik.[1]
Batalion pasukan yang dipimpin oleh Stewart berada dalam gugus barisan yang bergerak di kedua sisi jalan dan menyebar melalui hutan lebat yang menjadi bagian dari koridor pertahanan, ke wilayah utara Trolak dekat perkebunan karet Cluny dan menempatkan markasnya di sana. Pasukan dari Resimen Hyderabad ke-4/19 berada di posisi terdepan dengan rintangan-rintangan anti-tank dan barikade-barikade jalan. Posisi berikutnya diisi oleh pasukan dari Resimen Punjab ke-5/2 dan Resimen Infanteri Ringan Argyll dan Sutherland Highlanders ke-2, dikelompokkan dalam posisi defensif tanpa dilengkapi peralatan anti-tank dan barikade jalan. Sementara itu, pasukan Brigade Gurkha yang dipimpin oleh Selby, tersebar di sepanjang jalan dan rel kereta api yang menuju kedua jembatan yang telah dipersiapkan untuk dihancurkan.[2]
Pasukan penyerang tentara Jepang
Pasukan penyerang tentara Jepang yang berasal dari gugus tempur Kolonel Ando (terutama dari Resimen Infanteri ke-42) telah diambil alih dari Resimen Okabe (Resimen Infanteri ke-41), telah menderita banyak kerugian dan jatuhnya korban dalam penyergapan di Kampar. Kedua unit pasukan tersebut berasal dari Divisi ke-5.[1] Pasukan Jepang terdiri dari sekitar 17 tank medium tipe 97 dan 3 tank ringan tipe Ha-Go dipimpin oleh Mayor Toyosaku Shimada.[1] Dalam menyusun rencana serangan, Shimada melakukan hal yang tidak umum dalam Perang Dunia II, yakni serangan tank yang dilakukan pada malam hari. Sebuah rencana yang berbahaya untuk pasukan tank, karena pertimbangan faktor visibilitas rendah yang akan menghambat para awaknya.[2][3]
Pertempuran
Pada sore 5 Januari 1942, pasukan belakang dari Brigade ke-5/16 Inggris bergerak mundur melewati Brigade ke-12. Segera setelahnya, pasukan terdepan dari Resimen ke-42 Jepang yang dipimpin oleh Kolonel Ando, dapat mencapai posisi pasukan Resimen Hyderabad dan melancarkan serangan penjajakan. Namun, serangan Jepang tersebut dapat dipatahkan dan dipukul mundur hingga mengakibatkan korban jiwa 60 tentara Jepang. Sebelum melancarkan serangan berikutnya, Kolonel Ando beserta pasukannya, memutuskan untuk bertahan dan menunggu dukungan pasukan lapis baja. Pada 6 Januari, Kompi tank yang dipimpin oleh Mayor Shimada tiba dan meminta kepada Ando agar pasukannya dapat langsung melancarkan serangan, alih-alih menggunakan taktik Jepang pada umumnya yang mengepung posisi pasukan Inggris.
Posisi Brigade ke-12
Pada 7 Januari 1942 di tengah hujan deras dini hari pukul 3:30, pasukan Shimada mulai membombardir dengan artileri dan mortir ke posisi pertama pasukan Inggris, yakni Resimen Hyderabad ke-4/19 di bawah komando Mayor Alan Davidson Brown (menggantikan komandan Letnan Kolonel Eric Wilson-Haffenden yang terluka karena serangan udara sebelumnya).[2] Pasukan tank Shimada bermanuver berupaya melewati rintangan pertahanan dan perlawanan dari pasukan Inggris hingga berakibat satu tank hancur. Resimen Hyderabad kehilangan kontak dengan tim dukungan artileri, sehingga tanpa dukungan persenjataan anti-tank, pasukan infanteri Ando dari Batalion ke-3, Resimen ke-42, mampu menerobos pertahanan dan memukul mundur Resimen Hyderabad hingga menjadi kelompok-kelompok yang tercerai berai. Pada pukul 4:00 dini hari, pasukan infanteri Ando bergerak maju dengan diikuti oleh pasukan tank untuk memecah pasukan Hyderabad yang masih tersisa ke dalam hutan, menuju unit pasukan Inggris berikutnya.[2]
Beberapa pasukan Hyderabad mundur ke batalion berikutnya, Resimen Punjab ke-5/2 yang dipimpin oleh Letnan Kolonel (Charles) Cecil Deakin. Pasukan Hyderabad tersebut memperingatkan pasukan Deakin tentang tank-tank Jepang yang bergerak menuju mereka.[2] Sementara itu, Shimada kehilangan dua tank pada garis depan karena ranjau darat dan serangan pasukan Punjab yang dilengkapi dengan senapan anti-tank. Pasukan Punjab kemudian berhasil melumpuhkan tank lain dengan bom molotov yang berakibat jalan konvoi pasukan Shimada menjadi terblokir. Hal ini membuat posisi pasukan Shimada sangat rentan untuk diserang, dikelilingi hutan lebat dan jalan yang sempit. Namun, pasukan Inggris gagal memanggil pasukan bantuan artileri karena terkendala jalur telekomunikasi, sehingga pasukan Jepang mampu menerobos pasukan Punjab yang dikomandoi Deakin. Tank-tank Jepang dapat menemukan jalan memutar yang memungkinkan mereka dapat melewati tank-tank yang hancur. Pasukan Punjab hanya mampu menahan gempuran Shimada hingga sekitar pukul 06:00 pagi, hingga akhirnya Deakin bersama beberapa pasukan Punjab yang tersisa, dapat melarikan diri dengan menyeberangi Sungai Slim. Namun, sebagian besar batalionnya disapu oleh Resimen ke-42 Jepang.[2]
Pada 06:30 pagi, pasukan tank Shimada bergerak mendekati batalion berikutnya, yakni Batalion ke-2, Argyll dan Sutherland Highlanders di bawah pimpinan Letnan Kolonel Lindsay Robertson. Batalion ke-2 Argyll ditempatkan di sekitar Desa Trolak guna melindungi markas Brigade ke-12 pimpinan Stewart.[2] Batalion ini adalah pasukan Angkatan Darat Britania Raya yang dianggap sebagai salah satu unit tempur hutan terbaik Inggris di Malaya.[2] Batalion ke-2 Argyll ditempatkan dalam posisi untuk bertahan tanpa dilengkapi senjata anti-tank dan ranjau. Mereka hanya mendapatkan sedikit informasi tentang kedatangan tentara Jepang yang bergerak cepat, tetapi mereka mendapatkan peringatan melalui kedatangan sepoy dari pasukan Hyderabad yang panik dan mendirikan barikade jalan. Bahkan, empat tank pertama Shimada dikira sebagai kendaraan angkut Punjab yang langsung membelah pasukan Argyll. Tank-tank tersebut kemudian bergerak menuju jembatan rel kereta api. Setelahnya, kedatangan sisa pasukan Shimada dan pasukan infanteri yang dikomandoi Ando, benar-benar membuat pasukan Argyl tercerai berai dan menyingkirkannya dari jalan raya.[2] Pasukan Argyl yang terpecah menjadi beberapa pasukan kecil berhasil menunda pergerakan pasukan Jepang melalui pertempuran sengit dan menahan mereka hingga sekitar pukul 07:30 pagi. Sementara itu, pasukan yang berada di sisi timur jalan (Kompi C dan B) di bawah pimpinan Robertson, berjuang untuk masuk ke dalam perkebunan karet, berupaya untuk mengepung pergerakan pasukan Jepang dengan bergerak menuju arah selatan melewati hutan lebat lalu memecah pasukannya menjadi kelompok-kelompok kecil. Prajurit-prajurit tersebut masih berada di sana hingga enam minggu kemudian. Sebuah kompi pimpinan Letnan Donald Napier, yang berada di sisi barat jalan, berhasil memecah kepungan pasukan Jepang dan menyeberangi sungai sebelum jembatan rel diledakkan. Kompi D yang berada jauh di utara pasukan Napier, bernasib sama dengan pasukan Robertson yang berpencar masuk ke dalam hutan berupaya untuk mencapai garis pertahanan Inggris.[2] Pada 8 Januari, tercatat hanya 94 pasukan Argyll yang selamat, hampir seluruh tentara berasal dari pasukan Napier.[4]
Kekejaman Jepang
Pasukan Jepang melakukan aksi kekejaman di area hutan karet sekitar Trolak terhadap sejumlah pasukan Argyll dan Hyderabad yang terluka. Letnan Dua Ian Primrose melaporkan bahwa, ketika ia tersadar dari cederanya selama pertempuran, ia mengungkap bahwa pasukan Jepang membagi para korban tentara terluka menjadi dua kelompok antara yang mampu berjalan dan yang tidak.[2] Primrose memutuskan bahwa ia mampu berjalan yang merupakan keberuntungan bagi dirinya, karena tentara Jepang lalu menembak para korban yang tidak mampu berjalan dan menusuknya dengan bayonet. Kemudian, para penyintas dipaksa untuk menggali kuburan bagi korban-korban tewas dan membawa tentara-tentara Jepang yang terluka.[2]
Posisi Brigade ke-28
Pasukan Punjabi ke-5/14 menjadi sasaran empuk bagi pasukan Jepang yang tengah bergerak menuju posisi Brigade Gurkha ke-28. Pasukan Punjabi tersebut dikomandani oleh Kolonel Cyril Livesy Lawrence Stokes yang berbaris di kedua sisi jalan, bergerak menuju Trolak untuk memperkuat brigade Stewart.[2] Tiga unit tank terdepan pasukan Shimada yang dikomandoi oleh Letnan Sadanobu Watanabe, langsung menebus pasukan Stokes yang dibalas dengan rentetan tembakan senapan mesin. Pada 7 Januari 1942, Letnan Kolonel Stokes terluka, ketika ia dan Mayor Lewis diserang tank di garis depan.[5] Kelak Stokes meninggal dalam tahanan pada 15 Februari 1942.[6] Batalionnya menderita banyak kerugian dan jatuhnya korban, sebelum tank-tank Watanabe bergerak melanjutkan perjalannya menuju jembatan. Pada 8 Januari 1942, Punjabi ke-5/14 mengumpulkan 146 perwira dan prajurit. Kemudian, tank-tank baris terdepan Jepang telah berada dalam area markas Brigade Selby.[2] Brigade ke-28 tidak menyadari apa yang terjadi dengan pasukan Stewart dan membuat pasukan Gurkha ke-2/2 dan ke-2/9 tercerai berai oleh Jepang yang tersebar di area sekitar markas Selby.
Batalion Gurkha ke-2/1 yang dikomandoi Letnan Kolonel Jack Oswald Fulton, bernasib sama dengan pasukan Punjab sebelumnya, yang tengah berbaris di kedua sisi jalan ketika tank-tank Jepang menyerang mereka.[3] Namun, korban tewas dari serangan Jepang tersebut, lebih tinggi dari pasukan Punjab sebelumnya. Hanya 1 perwira dan 27 prajurit yang berhasil selamat dari serangan tersebut. Oswald Fulton yang terluka di perut dan ditawan Jepang, kelak meninggal dua bulan kemudian.[2]
Jembatan
Pergerakan pasukan tank Shimada menuju ke dua jembatan, setelah menerobos dua brigade dan memasuki area pertahanan belakang pasukan Divisi India ke-11. Pasukan utama Jepang dan tank Shimada bergerak ke arah jembatan rel kereta api, sementara pasukan Watanabe bergerak ke jembatan yang lebih penting, yakni jembatan jalan yang berjarak sekitar 9,5 km dari posisinya.[3] Dalam serangannya, pasukan Watanabe menerobos pasukan artileri, unit medis dan pasukan pendukung lainnya di muka jembatan. Dua orang kolonel Inggris tewas dalam serangan kilat tersebut.[3] Dalam upayanya untuk menyeberangi jembatan, pada pukul 08:30 pagi, pasukan Watanabe mendapati bahwa area sekitar jembatan dipertahankan oleh pasukan Resimen Singapura dan Hongkong yang dilengkapi dengan meriam anti-pesawat Bofors 40 mm. Meskipun meriam tersebut digunakan untuk menembak tank, tetapi peluru meriam tidak cukup kuat untuk menghancurkan tank, sehingga akhirnya prajurit penembak meriam, melarikan diri. Watanabe sendiri akhirnya memutus kabel-kabel yang terhubung ke alat peledak jembatan dengan pedangnya.[2][7] Serangan Jepang tersebut berhasil membuat seluruh pasukan Divisi ke-11 India tercerai berai dan sebagian tentara yang selamat, berusaha melarikan diri dengan menyeberangi Sungai Slim.[2]
Bagian akhir dari serangan kilat sepanjang 25 kilometer tersebut, pasukan Watanabe yang telah menguasai jembatan, mengirim tiga tank di bawah komando Letnan Muda Toichero Sato untuk menyisir bagian lain area sungai. Setelah menempuh perjalanan sejauh 4 km, Sato bertemu dengan pasukan artileri Inggris dari Resimen Lapangan ke-155 yang dilengkapi dengan meriam Howitzer 4,5 inci.[8] Tank Sato berhasil melumpuhkan meriam pertama, tetapi tidak mampu menghindar dari serangan meriam kedua, hingga 1 tank hancur dan membuat kedua tank sisanya, mundur kembali ke arah jembatan.[2]
Kesudahan
Divisi Infanteri India ke-11, menderita banyak kerugian dan jumlah korban. Meskipun demikian, beberapa dari prajurit mereka dapat kembali bergabung dalam pertempuran di Singapura. Banyak dari mereka yang masih berada dalam hutan, ketika Inggris menyerah. Sejumlah prajurit yang selamat, ditawan Jepang, tetapi Letnan Kolonel Lindsay Robertson[2] dan pasukannya dari Resimen Argyll, tidak ingin menyerah. Namun, pasukannya tidak mampu mengimbangi kekuatan pasukan Jepang, hingga Robertson tewas pada 20 Januari 1942.[9] Para penyintas yang masih tersisa dari dua brigade, tersebar di seluruh semenanjung Malaya.[2] Hingga Agustus 1945, beberapa prajurit Resimen Argyll masih berada dalam pelarian. Pada Oktober 1949, seorang bintara Gurkha, Naik (pangkat setingkat Kopral) Nakam Gurung, ditemukan selama peristiwa darurat Malaya. Ia telah tinggal dalam hutan sejak 1942.[1] Brigade India ke-12 dan ke-28, praktis sudah tidak ada.[1]
Pasukan Brigade ke-12 pimpinan Stewart yang berhasil selamat hanya 430 perwira dan prajurit, dengan 94 tentara dari pasukan Argyll.[2] Brigade Selby sedikit lebih baik dengan 750 orang yang selamat. Secara keseluruhan, Divisi ke-11 kehilangan 3.200 perwira dan prajurit.[2] Jepang telah berhasil menyerang satu Divisi sepanjang 30 Km dan merebut dua jembatan.[3] Melihat mereka yang berhasil selamat dari pertempuran di lapangan, Jenderal Wavell melihat suatu hal yang mengerikan dari para penyintas dan memerintahkan Divisi ke-11 keluar dari garis depan.[10] Kekalahan Inggris dalam pertempuran ini, memungkinkan Jepang merebut Kuala Lumpur tanpa perlawanan.[11] Wavell memerintahkan Percival mundur ke Malaya Selatan dan menyerahkan Malaya Tengah,[3] kemudian memberi kesempatan kepada Divisi ke-8 Australia untuk menghadapi pasukan Jepang.[2]
Kehancuran yang diakibatkan oleh Jepang dalam pertempuran kilat tersebut, menyebabkan Letnan Jenderal Percival mengubah strateginya dari posisi bertahan, lalu menarik pasukannya secara cepat ke selatan dan penyergapan akan disiapkan oleh pasukan Australia di Jembatan Gemensah.[2][3]