ENSIKLOPEDIA
Persaudaraan Setia Hati
Artikel ini memiliki beberapa masalah. Tolong bantu memperbaikinya atau diskusikan masalah-masalah ini di halaman pembicaraannya. (Pelajari bagaimana dan kapan saat yang tepat untuk menghapus templat pesan ini)
(Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini)
|
| Singkatan | PSH |
|---|---|
| Julukan | SH 1932 |
| Pendahulu | Setia Hati Organisasi (SHO) |
| Digabungkan ke dalam | SH PSC (jalur Hasan Djoyoadi Suwarno), SH Rembulan, PSHO |
| Tanggal pendirian | 22 Mei 1932 |
| Pendiri | Moenandar Hardjowiyoto |
| Didirikan di | Semarang, Jawa Tengah |
| Tujuan | wadah saudara Setia Hati |
| Kantor pusat | Jakarta |
| Lokasi | |
| Asal | Semarang, Jawa Tengah |
| Bidang | Perguruan Pencak Silat |
Bahasa resmi | Bahasa Indonesia |
Ketua Umum | Pudji Handoko |
Tokoh penting | Ki Ngabehi Soerodiwiryo, Moenandar Hardjowiyoto |
Organisasi induk | IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia) |
| Afiliasi | Sedulur Tunggal Kecer |
| Situs web | https://www.persaudaraan-setiahati.com/ |
Nama sebelumnya | Setia Hati Organisasi (SHO) |
Persaudaraan Setia Hati (PSH) adalah organisasi pencak silat yang dibentuk sebagai perwujudan ikrar bersama 50 orang saudara (kadhang) Setia Hati murid langsung dan murid generasi ke-2 dari Ki Ngabehi Soerodiwiryo yang berasal dari Semarang, Magelang, Solo, Yogyakarta dan lain-lain. Organisasi ini didirikan pada tanggal 22 Mei 1932 di Semarang, Jawa Tengah atas prakarsa saudara tua Setia Hati Moenandar Hardjowiyoto dari Ngrambe, Ngawi, Jawa Timur.[1][2][3][4]
Pada tanggal 22 Mei 1932 awal berdirinya, organisasi ini bernama Setia Hati Organisasi (SHO) yaitu orang-orang SH yang berorganisasi. Dalam acara musyawarah pendirian organisasi, Ki Ngabehi Soerodiwiryo tidak dapat hadir dikarenakan suatu alasan, maka dipilihlah Moenandar Hardjowiyoto sebagai ketua mental spiritual ke-SH-an. Pada tahun 1972, pada kongres ke-13 di Yogyakarta disepakati bahwa nama Setia Hati Organisasi (SHO) berubah menjadi Persaudaraan Setia Hati.[1][2][3]
Persaudaraan Setia Hati merupakan salah satu organisasi pencak silat historis yang mendirikan Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) pada tanggal 18 Mei 1948. Saat ini Persaudaraan Setia Hati termasuk dalam 16 perguruan pencak silat yang terdaftar sebagai anggota IPSI Pusat, dan menjadi salah satu dari 10 anggota khusus IPSI Pusat.[1][3][5]
Saat ini Persaudaraan Setia Hati aktif melakukan kegiatan baik di tingkat pusat Pengurus Besar Setia Hati (PBSH) maupun di tingkat daerah, cabang dan ranting yang tersebar di seluruh Indonesia. Untuk pengembangan keorganisasian dan pencak silat prestasi terdapat 148 pengurus daerah, cabang, maupun ranting se-Indonesia.[6]
Sejarah
Sejarah “Setia Hati”

Terbentuknya aliran pencak silat “Setia Hati” tidak lepas dari peran sang pendiri, yaitu Ki Ngabehi Soerodiwiryo (Eyang Suro). Ki Ngabehi Soerodiwiryo (Mas Mohamad Masdan) lahir tahun 1876 di Surabaya, Jawa Timur. Pada usia 15 tahun beliau telah bekerja sebagai juru tulis kepada seorang kontrolir Belanda di Jombang, Jawa Timur. Selain itu juga beliau mengaji di Pondok Pesantren Tebu Ireng Jombang. Pada Tahun 1892 beliau pindah ke Bandung mengikuti kontrolir Belanda tersebut dan belajar pencak silat dari beberapa pendekar selama 1 (satu) tahun. Beliau dapat menghimpun bermacam-macam langkah permainan, misalnya permainan Cimande, Cikalong, Cipetir, Cibediyut, Cilamaya, Ciampea dan Sumedangan. Pada Tahun 1893 kontrolir Belanda dipindah ke Batavia (Jakarta) begitupun Mas Mohamad Masdan. Di Batavia beliau belajar pencak silat permainan Betawen, Kwitangan, Monyetan, dan toya.[7][8]
Tahun 1894 Tuan Kontrolir itu diangkat sebagai Asistent-Resident tetap dan dipindahkan ke kota Padang, Sumatera Barat. Mas Mohamad Masdan ikut pula ke Padang dan diangkat sebagai pegawai. Di daerah Padang dan sekitarnya inilah Mas Mohamad Masdan mempelajari pencak silat dari beberapa perkumpulan. Disamping belajar pencak silat, beliaupun mendapat pelajaran ilmu kebathinan. Permainan pencak silat yang beliau pelajari antara lain Padang Pariaman, Padang Panjang, Padang Sidempuan, Padang Pesisir/Baru, Padang Sirante, Padang Alai, Fort de Kock, Alang Lawas, Linto, Solok, Singkarah atau Kuda Batak, Alang Sipai, Payakumbuh, Lubuk Sikaping, Kota Gadang, Maninjau, Airbangis dan Terlakan. Salah seorang guru yang terbaik ialah Datuk Rajo Batuah. Datuk ini disamping mengajar pencak silat juga memberi wejangan, yang oleh Ki Ngabei Soerodiwiryo diberi nama Tingkat II. Wejangan ini diberikan kepada saudara SH sesudah menerima wejangan I pada upacara penerimaan saudara SH baru.[7][8]
Pada tahun 1898, Mas Mohamad Masdan minta berhenti dari pekerjaannya dan melanjutkan perantauannya menuju Aceh, Sumatera Utara dan bertempat tinggal di tempat adiknya yang bernama Soeradi yang bekerja pada jawatan Kereta Api. Di sini pun Mas Mohamad Masdan mempelajari pencak silat dari seorang guru silat bernama Tengku Achmad Mulia Ibrahim. Permainan yang didapat ialah Aceh Pantai, Kucingan, Binjai-Langsan, Simpangan, Trutung, dan sebagainya. Beliaupun juga mendapat wejangan kebathinan dari seorang keluarga Raja Bali yang diasingkan di Aceh dan mempunyai sebutan Gusti Kenanga Mangga Tengah. Setelah itu beliau juga menerima wejangan kebathinan dari seorang guru bernama Tjik Eedojo.[7][8]
Pada tahun 1900 Mas Mohamad Masdan pulang menuju Batavia dan Bandung kemudian tahun 1902 beliau pulang ke Surabaya dan mendapat pekerjaan sebagai polisi keamanan distrik Wonokromo. Pada saat menjadi polisi, beliau semakin terkenal karena kemampuan pencak silat untuk mendukung pekerjaannya hingga dinaikkan pangkat menjadi Mayor polisi dan ditempatkan di pos polisi Ujung. Pada Tahun 1903 beliau membentuk persaudaraan dan mengajarkan pencak silat. Persaudaraan itu dinamai “Sedulur Tunggal Kecer (STK)” dengan permainan pencak silat dinamai “Joyo Gendilo”.[7][8]
Pada tahun 1912 Ki Ngabehi Soerodiwiryo diberhentikan dari kepolisian dikarenakan ada perselisihan dengan pelaut Belanda. Selanjutnya pindah ke Tegal di rumah Suryo Apuk yang menjabat sebagai opzichter irigasi. Kemudian pada tahun 1914 beliau Kembali lagi ke Surabaya dan bekerja di Djawatan Kereta Api. Pada 1915 beliau dipindah ke bengkel kereta api Madiun dan mengajarkan pencak silat “Joyo Gendilo Cipto Mulyo” di Kota Madiun. Pada tahun 1917 beliau memberi nama persaudaraan menjadi “Setia Hati” disingkat SH dan mengajarkan pencak silat sampai beliau wafat tahun 1944 di Desa Winongo, Madiun. Rumah beliau diwakafkan untuk kegiatan saudara Setia Hati dan saat ini kegiatan diteruskan oleh persaudaraan Setia Hati Panti.[7][8]
Sejarah Organisasi Pencak Silat beraliran Setia Hati

Perkembangan pencak silat Setia Hati menjadi lebih pesat karena datangnya permintaan menjadi saudara SH dari Surabaya, Malang, Kediri, Semarang, Solo, dan kota lainnya. Mereka datang dan berlatih di rumah kediaman Ki Ngabehi Soerodiwiryo di Madiun. Kemudian mulai terbentuk perkumpulan-perkumpulan yang menggunakan aliran Setia Hati. Dikarenakan persaudaraan Setia Hati sudah meluas ke beberapa daerah, maka untuk mempererat tali persaudaraan diadakan peringatan hari ulang tahun persaudaraan SH pada tiap bulan Syura (Muharram). Peringatan Syura dianggap penting karena menjadi kesempatan bertemunya saudara-saudara SH dari daerah-daerah dengan Ki Ngabehi Soerodiwiryo dan ibu serta saudara-saudara dari Madiun yang menjadi saksi untuk diterima menjadi saudara SH dan memikul sumpah atau janji yang sama pula.[7]
Berhubung salah satu janji SH yang mengharuskan saudara SH menjaga sesama saudara SH baik lahir dan bathinnya di dunia sampai akhirat, maka persaudaraan SH mempunyai semboyan "Bisa masuk tetapi tidak bisa keluar". Oleh karena persaudaraan SH tidak menggolongkan diri sebagai satu organisasi dan tidak mendaftarkan kepada pemerintah, tidak mempunyai anggaran dasar dan tidak mempunyai buku anggota, maka pernyataan “masuk” dan “keluar” tidak ada pembukuannya. Saudara-saudara SH hanya berkewajiban memberi peringatan kepada saudara yang terlihat melanggar sumpah atau janji. Jikalau peringatan diabaikan, maka akibatnya menjadi tanggung jawab sendiri.[7]
Seiring berjalannya waktu, terdapat perbedaan pandangan beberapa saudara SH dengan Ki Ngabehi Soerodiwiryo, terutama menyangkut perjuangan melawan penjajah. Beberapa saudara SH merasa perlu membentuk organisasi yang lebih terbuka dan dapat diikuti oleh berbagai kalangan. Terdapat beberapa murid Ki Ngabehi Soerodiwiryo yang mendirikan organisasi pada masa beliau masih hidup sehat, antara lain:
- Ki Hadjar Hardjo Oetomo. Pada Tahun 1922, Ki Hadjar Hardjo Oetomo, salah satu saudara SH, meminta izin kepada Ki Ngabehi Soerodiwiryo untuk mendirikan persaudaraan pencak silat baru aliran Setia Hati dengan maksud agar ilmu pencak silat ini bisa dipelajari oleh rakyat biasa dan pejuang perintis kemerdekaan. Ki Ngabehi Soerodiwiryo setuju atas ide ini asalkan persaudaraan memiliki nama yang berbeda sehingga dibentuklah SH PSC (Pemuda Sport Club) di Madiun. Pada tahun 1942, salah seorang murid Ki Hadjar Hardjo Oetomo yang bernama Soeratno Sorengpati mengganti nama SH PSC menjadi Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT). Perubahan ini lalu disepakati saat kongres pertama yang diadakan di rumah Ki Hadjar Hardjo Oetomo di Madiun pada tahun 1948. Saat ini Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) telah berkembang dan menjadi salah satu perguruan pencak silat terbesar di Indonesia.[9][10]
- Moenandar Hardjowiyoto. Pada Tahun 1932, Moenandar Hardjowiyoto salah satu saudara SH bermaksud mengumpulkan saudara-saudara SH dalam suatu organisasi resmi agar persaudaraan lebih terorganisir dalam perjuangan melawan penjajah. Untuk itu diadakan musyawarah di Semarang, Jawa Tengah dengan dihadiri 50 orang saudara SH dan utusan-utusan, antara lain Suwignyo, Sukandar, Sumitro, Kasah, Karsiman, Suripno, Sutardi, Hartadi, Sayuti Melok, dan lain-lain. Karena Ki Ngabehi Surodiwiryo tidak dapat hadir dalam undangan tersebut, maka dipilihlah Moenandar Hardjowiyoto sebagai ketua mental spiritual ke-SH-an. Organisasi tersebut diberi nama Setia Hati Organisasi (SHO) yaitu organisasi olahraga dan persaudaraan yang belum dilarang oleh pihak Belanda karena mempunyai anggaran dasar dan anggaran rumah tangga yang tidak berbau politik. Dalam kongres SHO ke-10 di Semarang pada tahun 1954, Moenandar Hardjowiyoto dipilih sebagai ketua umum. Pada tahun 1972 dalam konggres ke-13 di Yogyakarta, ditetapkan keputusan bahwa nama SHO berubah menjadi Persaudaraan Setia Hati (PSH). Perubahan nama tersebut merupakan pernyataan ketua umum Kongres, Moenandar Hardjowiyoto, yang menyatakan bahwa para kadhang Persaudaraan SHO tidak lagi mengenal garis pemisah antara para kadhang (saudara) serumpun SH dan persaudaraan SHO.[2][4][9][11]
Setelah Ki Ngabehi Soerodiwiryo meninggal dunia terdapat beberapa organisasi pencak silat beraliran Setia Hati yang didirikan oleh saudara-saudara SH, antara lain
- Persaudaraan Setia Hati Tunas Muda Winongo (PSHW-TM). Pada Tahun 1965, HRM Djimat Hendro Soewarno salah satu saudara SH yang cukup berpengaruh saat itu didatangi oleh petugas Hankam dengan dikawal Mayor TNI AD Ismadi di rumahnya di Jalan Wirabumi 3, Winongo, Madiun. Salah satu perintahnya yaitu agar cepat bergerak mengkoordinasikan para pemuda untuk membantu pemerintah dalam menyelamatkan bangsa dan negara pasca pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI). Persaudaraan Setia Hati di Madiun lantas diaktifkan kembali dan melibatkan saudara-saudara muda sehingga berdirilah Persaudaraan Setia Hati Tunas Muda Winongo (PSHW-TM) pada tanggal 15 Oktober 1966.[9][12]
- Setia Hati Rembulan. Setia Hati Rembulan adalah latihan pencak silat untuk remaja Bulungan, Jakarta. Belakangan SH Rembulan bergabung dengan Persaudaraan Setia Hati (PSH).[9]
- Persaudaraan Setia Hati Organisasi (PSHO). Organisasi ini berdiri tahun 2005 di Jakarta. PSHO merupakan kelanjutan dari SH Rembulan yang tidak mau melebur ke dalam PSH. Namun akhirnya pada tahun 2022, Irfan Chairudin sebagai Ketua Umum PSHO menyatakan bergabung dan melebur ke dalam PSH. Sehingga Persaudaraan Setia Hati Organisasi (PSHO) diintegrasikan ke dalam PSH.[9]
- Setia Hati Partisan Siliwangi[9]
- Setia Hati Anoman. Perguruan ini berkembang di Jerman dan Belanda.[9]
- Persaudaraan Rumpun Setia Hati (PRSH). Didirikan tahun 2013 di Surakarta oleh beberapa saudara PSH yang ingin menggabungkan ajaran SH Pemuda Sport Club (PSC) dan kerohanian yang diajarkan oleh Moenandar Hardjowiyoto.[9][13]
- Persaudaraan Setia Hati Pilangbango (PSHP). Didirikan tahun 2013 di Solo oleh beberapa warga Tingkat I dan II PSHT.[9]
Sejarah Persaudaraan Setia Hati (PSH)
Kelahiran Setia Hati Organisasi berawal dari tingginya jiwa patriotis Moenandar Hardjowiyoto dari Desa Ngrambe, Ngawi, Jawa Timur. Beliau merasa tidak puas terhadap cara Ki Ngabehi Soerodiwiryo menegakkan aturan persaudaraan di kalangan warga SH Winongo, di mana anggota terbanyak yang bisa masuk sebagai warga hanya dari kalangan ningrat dan pegawai pangreh projo saja.[1]
Puncak dari rasa ketidakpuasan ini diperlihatkan sewaktu Ki Ngabehi Soerodiwiryo melatih Sinyo Belanda dan sudah sampai jurus ke-20 tingkat I (satu). Ki Ngabehi Soerodiwiryo menyuruh Moenandar Hardjowiyoto untuk menemani ‘sambung persaudaraan’ dan ternyata oleh Moenandar Hardjowiyoto, Sinyo Belanda itu dihajar sampai pingsan sehingga menimbulkan kemarahan yang amat sangat dari Ki Ngabehi Soerodiwiryo.[1]
Sehingga pada Tahun 1932 Moenandar Hardjowijoto beserta beberapa saudara dari SH memohon izin dari Ki Ngabehi Soerodiwiryo untuk mendirikan Persaudaraan Setia Hati yang menggunakan organisasi sebagai sarana mengatur rumah tangga yang pada dasarnya Ki Ngabehi Soerodiwiryo mengizinkannya. Beliau berjanji akan datang pada pertemuan pertama saudara warga Setia Hati (SH) tanggal 22 Mei 1932 di Semarang.[1][4][11]
Pada awal berdirinya, organisasi ini bernama Setia Hati Organisasi (SHO) yaitu orang-orang SH yang berorganisasi. Awal pendiriannya yaitu diadakannya musyawarah para kadhang SH di Semarang, Jawa Tengah. Hadir pada waktu itu 50 saudara SH yang berasal dari Semarang, Magelang, Solo, Yogyakarta dan utusan-utusan antara lain Suwignyo, Sukandar, Sumitro, Kasah, Karsiman, Suripno, Sutardi, Hartadi, Sayuti Melok, dan sebagainya. Ki Ngabehi Soerodiwiryo tidak dapat hadir pada musyawarah di Semarang pada waktu itu karena pergi ke Surabaya dan menimbulkan kekecewaan para saudara SH yang datang. Akhirnya diputuskan secara aklamasi bahwa berdirinya Pengurus Besar Setia Hati Organisasi (SHO) dan Moenandar Hardjowiyoto sebagai ketuanya, dengan tidak berminat mengganggu SH Winongo di bawah kepemimpinan Ki Ngabehi Soerodiwiryo, dengan kata lain ‘berpisah tetapi satu tujuan’.[1][4]
Dalam kenyataannnya Moenandar Hardjowiyoto memang sudah diizinkan dan direstui Ki Ngabehi Soerodiwiryo untuk berdiri sendiri menjadi Juru Kecer dan memisahkan diri dari SH Winongo. Karena masa itu jiwa patriotisme rakyat Indonesia sedang tumbuh, permintaan untuk dapat diterima menjadi saudara SH di luar Semarang terus bertambah, antara lain di Mataram Yogyakarta. Bulan Juni 1936 di Magelang, Jawa Tengah, diadakan Leiders Conferentie untuk memurnikan kembali jurus-jurus SH yang mengalami penyimpangan dari aslinya. Tahun 1938 atas hasil musyawarah di Semarang, Pengurus Besar SHO dipindahkan ke Yogyakarta dan Alip Purwowarso dipilih sebagai ketua.[1]
Saat itu SHO berkembang secara selektif dan rahasia menghindari pembubaran dan pencidukan tokoh SHO oleh pihak Belanda. Hingga pada masa-masa Proklamasi Kemerdekaan banyak warga SHO yang turut bergerilya sehingga banyak di antara mereka yang tidak tercatat namanya sebagai pejuang kemerdekaan. Sebagian lagi banyak warga SHO yang terlibat secara fisik dalam perjuangan di medan pertempuran menghadapi musuh-musuh, dengan senjata seadanya (tombak, keris, atau bahkan hanya dengan bambu runcing), mengajarkan pencak SH kepada teman-teman seperjuangan yang bukan warga SHO, melanggar sumpah SH-nya demi kepentingan nasional yang dinilai berada di atas segala-galanya (seperti yang diajarkan juga oleh SHO).[1]
Pada tanggal 18 Mei 1948 di Solo, terbentuklah organisasi nasional pencak silat bernama Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI), melibatkan saudara-saudara SH sebagai pelopor berdirinya IPSI bersama 15 orang tokoh pencak silat yang antara lain dari aliran Minangkabau (Sumatera Barat) diwakili oleh Datuk Ahmad Madjoindo, aliran Sunda (Jawa Barat) diwakili oleh Surya Atmaja dan sisanya saudara-saudara SH antara lain Moenandar Hardjowiyoto, Rahmad Suronagoro, R Mariyun Sudirohadiprojo dan lain-lain serta Mr Wongsonegoro sebagai Menteri PP dan K (Depdikbud).[1][5]
Dalam kongres SHO ke-10 di Semarang, tahun 1954, Munandar Harjowiyoto dipilih sebagai Ketua Umum, meskipun pada mulanya menolak pada akhirnya diterima. Sesudah Munandar Harjowiyoto menjadi Ketua Umum, cara keceran diubah, maju selangkah, yaitu penjelasan sebelum dikecer boleh dikatakan bersifat umum atau terbuka (sebelumnya hanya didengar oleh calon saudara baru dan saksi) dengan mengundang beberapa tokoh masyarakat dan undangan lainnya. Tanpa orientasi kepada masyarakat luas yang serba majemuk, kiranya tidak akan memperlancar tujuan SHO yang amat luhur dan mulia untuk diketahui bahwa ajaran atau falsafah SH bukanlah suatu ajaran ilmu klenik, akan tetapi suatu upaya pendidikan dalam membentuk manusia utuh yang berbudi pekerti luhur.[1]
Pada tahun 1972, pada kongres ke-13 di Yogyakarta disepakati bahwa nama Setia Hati Organisasi (SHO) berubah menjadi Persaudaraan Setia Hati (PSH). Perubahan nama tersebut merupakan pernyataan Ketua Umum Kongres, Moenandar Hardjowiyoto yang menyatakan bahwa para kadhang Persaudaraan SHO tidak lagi mengenal garis pemisah antara para kadhang serumpun SH. Pertimbangan yang diambil oleh Mubes adalah karena adanya Pengurus Besar, Pengurus Daerah dan Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga, sudah cukup jelas menandakan adanya organisasi. Sekaligus untuk meyakinkan para rumpun SH lainnya, khususnya para kadhang SH Winongo, bahwa SHO telah menghapus atau mencabut adanya garis pemisah yang tajam antara SHO dan SH "Panti" Winongo dan lainnya.[1]
Tanggal 27 Januari 1979, Moenandar Hardjowiyoto meninggal dunia dan dimakamkan di Ngrambe, Ngawi, Jawa Timur. Almarhum meninggalkan pesannya yang juga pesan para leluhur bangsa Indonesia yang telah sering didengar yaitu, “Ing ngarso sung tulodo, Ing madyo mangun karso, Tut wuri handayani”. Ini berarti bahwa seorang kadhang SH yang mendapat kepercayaan harus berikhtiar sekuat tenaga agar memberikan contoh yang baik.[3]
Ajaran Persaudaraan Setia Hati
Setia Hati adalah sebuah gerakan mengembangkan budaya pencak silat yang diramu oleh para sesepuh menjadi salah satu rujukan dalam berperilaku dan hidup bermasyarakat sebagai pendekar. Beberapa tradisi yang diajarkan dalam Setia Hati antara lain:
Kecer
Kecer/kucur/peureuh artinya ditetesi/dikucuri dengan air menggunakan media daun sirih yg dicelup ke air. Kecer umumnya memakai media daun sirih tetapi ada juga yg menggunakan cabai, belati tajam dan jeruk nipis. Tradisi kecer berasal dari silat aliran Cimande Jawa Barat dan tradisi ini tidak ditemukan pada silat aliran minangkabau Sumatera Barat. Dalam tradisi aslinya, kecer adalah tradisi yang dilestarikan untuk penerimaan murid/saudara baru.[3]
Pada silat aliran Betawi, kecer ada yang menggunakan media lombok (cabai), belati tajam dan jeruk nipis yang dibelah dua lalu dikecer/kucurkan ke mata, tujuannya adalah untuk melatih kepekaan mata. Bahkan pada silat aliran cimande Jawa Barat ada yang melakukan kecer di setiap memulai aktivitas latihan silat.[3]
Ki Ngabehi Soerodiwiryo mendirikan Sedulur Tunggal Kecer (STK) pada tahun 1903 dan menggunakan kecer sebagai pengikat tali persaudaraan. Untuk masuk dan belajar ilmu di paguron Eyang Suro, syarat utamanya adalah kecer dulu dengan usia minimal 17 tahun.[3]
Dalam tradisi di Persaudaraan Setia Hati (PSH), siswa baru belum dilakukan kecer. Akan tetapi akan diberi pengenalan tentang Setia Hati dan diajari jurus gerakan pra-SH. Tradisi kecer di PSH yaitu dilakukan sebagai tanda diangkatnya sebagai saudara baru/kadhang SH. Setelah dikecer, saudara baru boleh mempelajari pencak Setia Hati dengan metode "Bungkus Tuntun Sambung".[3]
Sapta Wasita Tama
Pedoman hidup seorang saudara SH ialah Sapta Wasita Tama, yang artinya sapta (tujuh), wasita (ajaran/pedoman), tama (utama/luhur). Dengan demikian, Sapta Wasita Tama berarti tujuh pedoman yang luhur menjadi sendi-sendi kehidupan rohani SH dalam melaksanakan tata kehidupan bermasyarakat. Sapta Wasita Tama tersebut berbunyi:[14][15]
- Tuhan menciptakan alam seisinya hanya dengan sabda, sebelum disabda alam seisinya itu ada pada yang Menyabda.
- Setelah alam semesta seisinya ada (Disabda) Tuhan menyertai sabda-Nya.
- Barang siapa meninggalkan AS-nya tergelincirlah ia oleh lingkungan sekelilingnya.
- Barang siapa meninggalkan keseimbangan, tergelincirlah ia.
- Barang siapa melupakan/meninggalkan permulaan, tak akan dapat ia megakhirinya.
- Barang siapa mengaku hasil karyanya menjadi milik sendiri terbelengulah ia lahir bathin.
- Barang siapa selalu melatih merasakan “rasaning rasa”, Insya Allah lambat laun ia akan merasakan “rosing rasa”.[14][15]
Sapta Wasita Tama menggambarkan manusia sebagai ciptaan Tuhan yang harus menempatkan dirinya dan menentukan sikap diri pribadinya terhadap Sang Pencipta serta dalam hubungannya dengan lingkungan. Sapta Wasita Tama diajarkan dengan maksud agar dapat membantu memantapkan iman kepada Tuhan Yang Maha Esa. Disamping itu agar dapat digunakan sebagai tongkat perjalanan hidup yang dapat memupuk diri pribadi dalam menghadapi berbagai tantangan hidup serta mengarungi pasang surut gelombang kehidupan.[14][15]
Saudara Setia Hati memiliki landasan hidupnya atas “Diri Yang Setia Kepada Hati Sanubari”. Hati sanubari merupakan kesadaran akal sehat dan hati nurani yang dimiliki manusia dan merupakan sarana untuk kembali mengingat Tuhan Yang Maha Esa. Dengan landasan tersebut, maka seorang saudara Setia Hati memiliki tujuan hidup yaitu:[14][15]
Jurus Setia Hati
Jurus Setia Hati diciptakan/dirumuskan oleh Ki Ngabehi Soerodiwiryo. Jurus-jurus ini adalah inti sari permainan yang sesuai dengan anatomi tubuh yang didapat dari beberapa guru yang ditimba dari hasil perjalanan beliau pada masa bekerja di Pemerintahan Belanda. Pada tahun 1903 tercetuslah Paguyuban Sedulur Tunggal Kecer dengan permainan pencak silat “Joyo Gendilo”. Pada tahun 1917 dideklarasikan persaudaraan dengan nama Setia Hati disingkat SH dengan permainan “Pencak Setia Hati”.[7]
Di dalam Setia Hati Organisasi (SHO) permainan Pencak Setia Hati digunakan dan diajarkan sesuai apa yang diajarkan Ki Ngabehi Soerodiwiryo. Jurus dimurnikan kembali oleh Mariyun Sudirohadiprojo saat pertemuan beliau dengan Ki Ngabehi Soerodiwiryo di Semarang dan selanjutnya dibahas dalam kongres tahun 1936 di Magelang untuk dijadikan baku jurus dalam organisasi ini. Setelah perubahan nama SHO menjadi PSH, literatur jurus diketik ulang oleh Sarkam pada tahun 1972 di Yogyakarta. Selanjutnya diketik ulang pada tahun 1981 di Yogyakarta, tahun 1995 di Solo, tahun 2002 di Solo, tahun 2006 di Jakarta, dan tahun 2010 di Temanggung.[16]
Jurus-jurus dalam permainan pencak Setia Hati sebanyak 36 jurus. Nama jurus-jurus pencak silat Setia Hati yaitu:[7]
- Betawen I
- Betawen II
- Cimande I
- Cimande II
- Cikalong (Slewah)
- Ciampea I (Besutan)
- Ciampea II (Krawelan)
- Tanah Baru I
- Tanah Baru II.
- Permainan Tionghoa Monyetan
- Cimande III
- Cimande IV (Cimande III ditambah beberapa langkah)
- Cimande V
- Cibaduyut dengan Toya
- Padang Panjang I
- Padang Panjang II
- Cipetir
- Padang Siranti
- Sumedangan I
- Sumedangan II
- Lintau
- Cimande VI
- Alang Lawas I
- Alang Lawas II
- Minangkabau I Kucingan
- Minangkabau II Solok
- Cibaduyut
- Cimande VII
- Terlakan Monyet Tukang (tidak di ajarkan)
- Padang Alai I
- Padang Alai II
- Fort De Kock
- Padang Alai III
- Padang Alai IV
- Kuda Batak
- Simpai Minangkabau III Sipai/Blirik
Jurus ke-29 sengaja tidak diajarkan kepada saudara-saudara SH karena saat Ki Ngabehi Soerodiwiryo mendapatkan jurus ini diharuskan bersumpah lagi lebih berat oleh gurunya, sehingga beliau tidak mau dianggap tidak bertanggung jawab akan sumpahnya.[7]
Pencak Setia Hati diajarkan oleh Ki Ngabehi Soerodiwiryo menggunakan metode “Bungkus-Tuntun-Sambung”. Bungkus ialah menghafal Jurus 1 sampai 36. Hafal dalam arti memahami nama-nama jurus dan tegak/kuda-kuda, sikap tangan, kemiringan badan sesuai dengan anatomi tubuh, selalu menghadap jarum jam 12 serta gerakannya pelan, mantap dan selalu menjaga keseimbangan. Tuntun ialah memindahkan tegak/kuda-kuda dari jurus satu ke jurus lainnya dan dari pecahan jurus satu ke pecahan jurus yang lainnya kemudian aplikasi individu masing-masing. Di sini juga diperkenalkan bermacam jenis senjata pendek/sedang dan panjang antara lain kerambit (senjata khas SH), pisau belati, golok, keris, pedang, toya, tombak dengan menggunakan sarung, kendit dan tutup kepala. Diiringi juga dengan musik (macapat, keroncong, gambang keromong, kendang pencak, tari randai/saluang). Selain itu diajarkan juga beberapa teknik jatuhan, kuncian, serang/bela, permainan jarak jauh/dekat/rapat, permainan atas/tengah/bawah, mengenal arah mata angin, penguasaan lapangan, pengambilan tenaga lawan (kosong/isi). Sambung ialah gambaran perkelahian bebas satu lawan satu, satu lawan dua orang, dan paling banyak satu lawan delapan orang. Dalam perkelahian (sambung) "SH" bukan untuk menyakiti tetapi untuk saling memberi aksi dan reaksi, kalau bisa bukan untuk kontak cukup menghilangkan keseimbangan lawan. Disini dibutuhkan pengendalian diri yang mapan dan mantap supaya tidak terpengaruh oleh situasi dan kondisi saat itu juga. Pengendalian diri yang sempurna dapat menjadikan para kadhang Setia Hati mampu mengalahkan diri pribadinya sendiri sebagai pendekar sejati.[7]
Organisasi
Arti Lambang Persaudaraan Setia Hati

Lambang Setia Hati dibuat pada tahun 1932 oleh Moenandar Hardjowiyoto ketika mendirikan SHO (Setia Hati Organisasi). Selanjutnya tahun 1972 ketika perubahan nama SHO menjadi PSH, lambang tersebut tetap digunakan tanpa mengalami perubahan. Lambang Persaudaraan Setia Hati digambarkan dalam bentuk hati (jantung) berwarna hitam, terletak di dalam lingkaran perisai bintang bersudut 12. Sudut-sudut bintang yang separuh berwarna putih, sedangkan yang separuh lainnya bermotif 5 garis hitam disetiap sudutnya. Dalam gambar hati tertulis huruf SH berwarna putih. Makna lambang Setia Hati adalah sebagai berikut:[17]
- Perisai bintang bersudut 12 dengan warna bintang yang separuh berwarna putih dan separuhnya bermotif 5 garis hitam. Jumlah 12 menunjukan jumlah bulan dalam 1 tahun, serta hitungan waktu dalam jam (ada 12 jam siang dan malam). SH memberikan tuntunan agar 12 jam itu tidak terlewatkan dengan sia-sia. Jumlah 5 menunjukan hari pasaran (legi, pahing, pon, wage, kliwon), rukun Islam, serta sholat 5 waktu.[17]
- Hati bertuliskan SH artinya diri (jasmani) yang setia kepada hati sanubari. Setia mengandung arti tidak mau berpisah dalam kondisi apapun juga atau cinta kasih yang mendalam. Sedangkan hati sanubari adalah tempat rasa yang paling halus dan mendalam, diibaratkan seperti duta penghubung antara manusia dan Tuhannya.[17]
Secara menyeluruh makna lambang Persaudaraan Setia Hati yaitu seorang kadhang SH, setiap saat, hari, minggu, bulan dan tahun haruslah tetap setia kepada hati sanubarinya untuk mengingat kepada Tuhannya.[17]

Lambang Persaudaraan Setia Hati menggunakan warna putih sebagai warna dasar lambang, dengan garis hitam segi empat sebagai pembatas bila dipakai untuk badge/lencana, dengan tulisan Persaudaraan Setia Hati berwarna hitam dibagian bawah lambang.[17]
Lambang Persaudaraan Setia Hati digunakan sebagai atribut pengenal organisasi Persaudaraan Setia Hati, yang dapat dibuat dalam bentuk badge/lencana, bendera, panji/pataka, kepala surat, cap stempel, dan sebagainya.[17]
Bendera Persaudaraan Setia Hati berwarna dasar putih, dengan perbandingan ukuran 2:3, serta mencantumkan lambang Persaudaraan Setia Hati di tengah berwarna hitam tanpa garis segi empat, dan tulisan yang menunjukan kepengurusan.[17]
Kepengurusan Organisasi Persaudaraan Setia Hati
Kepemimpinan Organisasi Persaudaraan Setia Hati (PSH) pusat dijabat oleh Ketua Umum Pengurus Besar Setia Hati (PBSH). Kepemimpinan Organisasi Persaudaraan Setia Hati sejak awal berdirinya hingga saat ini yaitu:[3]
- Pada tahun 1932 berdirinya Setia Hati Organisasi (SHO) di Semarang yang dipimpin oleh Moenandar Hardjowiyoto hingga tahun 1934.[18]
- Periode tahun 1934-1938, ketua umum dipegang oleh Mariyun Sudirohadiprojo dan Moenandar Hardjowiyoto sebagai ketua kerohanian.[18][19]
- Periode tahun 1938-1962, Pengurus Besar SHO dipindahkan ke Yogyakarta dengan ketua umum adalah Alip Purwowarso sementara ketua kerohanian masih tetap dipegang oleh Moenandar Hardjowiyoto.[19]
- Periode tahun 1962-1978, Moenandar Hardjowiyoto dipilih sebagai ketua umum di mana pada periode inilah (tahun 1972) SHO diganti namanya menjadi Persaudaraan Setia Hati (SH).[19]
- Selanjutnya setelah Moenandar Hardjowiyoto meninggal dunia, beliau digantikan oleh GPH Gondho Kusumo sebagai ketua umum Pengurus Besar Setia Hati (PBSH) (1978-1985).[19]
- Periode tahun 1985-2000, Ketua Umum PBSH adalah R. Mashadi Sastrohadipranoto.[18][19]
- Periode tahun 2000-2005, Ketua Umum PBSH adalah Harsoyo sebagai hasil Munas di Yogyakarta.[19]
- Periode tahun 2005-2010, berdasarkan hasil Munas di Wonosobo, terpilih Ketua Umum PBSH adalah Gambiro Gunawan.[19]
- Periode tahun 2010-2022, Ketua Umum PBSH adalah Trinowo Harsono dengan kediaman dan padepokan di Temanggung.[6][19][20]
- Periode tahun 2022-2027, Ketua Umum PBSH adalah Pudji Handoko berdasarkan hasil Kongres ke X di Temanggung tanggal 21 Mei 2022.[6]
Cabang dan Sanggar
Data terperinci mengenai nama cabang yang tersebar di seluruh daerah belum dapat dirincikan. Namun terdapat beberapa cabang yang aktif dan dikenal, antara lain:[3]
- Setia Hati Semarang
- Setia Hati Magelang
- Setia Hati Mataram
- Setia Hati Cepu/Blora
- Setia Hati Pamong Pradja Jakarta
- Cabang Temanggung
- Cabang Siak, Riau
- Cabang Tuban, Jawa Timur: Ranting Jatirogo, Ranting Bangilan, Ranting Parengan, Ranting Singgahan, Ranting Kota Tuban, Ranting Kota Bojonegoro
- Cabang Lamongan, Jawa Timur: Ranting Turi, Ranting Solokuro, Ranting Kalitengah, Ranting Laren, Ranting Paciran, Ranting Brondong, Ranting Kota Lamongan, Ranting Maduran, Ranting Karangbinangun, dan lain-lain
Untuk keperluan penerusan, pelurusan, pengembangan, pelestarian Pencak Setia Hati sesuai harapan para pelaku sejarah pendiri Persaudaraan Setia Hati, maka dibentuklah Sanggar Setia Hati oleh Tomy Sudrajat (kadang SH Jakarta) selama 10 tahun mulai tahun 2007. Sanggar-sanggar tersebut tersebar dari barat Sumatera sampai timur Jawa. Terdapat 10 sanggar yang aktif, yaitu:
- Sanggar Menanggal Surabaya, Jawa Timur
- Sanggar Laskar Santre Lamongan, Jawa Timur
- Sanggar S7 Pandawalima Tuban, Jawa Timur
- Sanggar Dimong Madiun, Jawa Timur
- Sanggar Sokarini Semarang, Jawa Tengah
- Sanggar Tlogomulyo Temanggung, Jawa Tengah
- Sanggar Sangkrini, Jakarta
- Sanggar Ketemar Amri, Jambi
- Sanggar Guntung Siak, Riau
- Sanggar Teluk Mata Ikan Batam, Kepulauan Riau
Dengan jumlah anggota keseluruhan hampir mencapai 75 kadhang Setia Hati.
Tokoh-tokoh penting Persaudaraan Setia Hati
Selama perkembangannya, Persaudaraan Setia Hati tidak terlepas dari peran tokoh-tokoh penting yang turut membesarkan dan melestarikan pencak silat Setia Hati. Beberapa tokoh tersebut antara lain:
- Ki Ngabehi Soerodiwiryo/Mas Mohamad Masdan. Lahir pada tahun 1879 di Surabaya, Jawa Timur. Beliau dikenal dengan nama Eyang Suro, pendiri Joyo Gendhilo/Sedulur Tunggal Kecer pada tahun 1903. Beliau merupakan orang pertama yang menciptakan istilah “Setia Hati” pada tahun 1917 di Madiun sebagai nama persaudaraan yang terdiri dari perkumpulan saudara-saudara yang beliau angkat dan latih sendiri. Saudara-saudara Setia Hati ini menjadi bagian dari pelopor perjuangan kemerdekaan dan penggerak bagi berkembangnya dunia pencak silat di Indonesia. Wafat pada tanggal 10 November 1944 di Winongo, Madiun.
- Moenandar Hardjowiyoto. Lahir di Ngrambe, Ngawi pada tanggal 7 Januari 1890. Beliau merupakan orang pertama yang mendirikan organisasi resmi yang menggunakan nama Setia Hati sebagai pengembangan dari Persaudaraan Setia Hati yang didirikan Ki Ngabehi Soerodiwiryo yang notabene belum berbentuk organisasi resmi. Dengan usaha beliau akhirnya terbentuklah Setia Hati Organisasi (SHO) pada tahun 1932 di Semarang, yang merupakan organisasi pertama yang menggunakan nama Setia Hati. Beliau mulai masuk di paguron Setia Hati pada tahun 1920 dan dikecer oleh Ki Ngabehi Soerodiwiryo sebagai saudara/kadhang SH. Moenandar Hardjowiyoto merupakan seorang mubaligh yang sangat kental dengan keagamaan sehingga beliau menjadi murid kinasih Eyang Suro, menjadikannya dewan kerohanian setelah dikecer menjadi Trap 3 dari Trap 1 tanpa melalui Trap 2. Moenandar Hardjowiyoto kental disebut dengan Moen Wesi (welas asih) dikarenakan kepribadianya yang mulia mempunyai rasa cinta kasih dan tidak membedakan sesama manusia. Beliau wafat di Ngrambe, Ngawi pada 27 Januari 1978.[1][2]
- Hasan Djoyoadi Suwarno. Beliau merupakan kadhang sepuh SH PSC murid langsung Ki Hadjar Hardjo Oetomo. Pada tahun 1935 setelah bebas dari penjara Cipinang, Ki Hadjar Hardjo Oetomo mendirikan organisasi Setia Hati Politik Sport Club (PSC) Pilangbango, belajar dari pengalaman Moenandar Hardjowiyoto dalam memisahkan diri dari SH Winongo dengan izin Ki Ngabehi Soerodiwiryo. Hasan Djoyoadi Suwarno juga merupakan sahabat bertukar keilmuan dari Moenandar Hardjowiyoto pendiri PSH. Pada Tahun 1941-1946 beliau menjabat sebagai Holf Leader/Ketua Pelatih SH PSC menggantikan Ki Hadjar Hardjo Oetomo. Hasan Djoyoadi Suwarno pernah menjadi ketua Persatuan Perkumpulan Pencak Silat di Madiun bentukan Jepang tahun 1943. Pada tahun 1988 di Cilacap, beliau dikecer dan bergabung ke PSH yang saat itu dipimpin oleh Mashadi Sastrohadipranoto. Beliau wafat tahun 1989.[13][21]
- Mariyun Sudirohadiprojo. Beliau merupakan murid langsung Ki Ngabehi Soerodiwiryo dan telah mencapai Tingkat II (Tweede Trap). Lahir di Magelang pada 5 April 1912. Beliau termasuk 50 kadhang pendiri SHO di Semarang tahun 1932. Pada tahun 1934 beliau dipilih menjadi ketua umum SHO sampai tahun 1938, kepengurusan SHO berpindah dari Semarang ke Yogyakarta. Tahun 1948 beliau mendirikan IPSI bersama 15 tokoh lainnya. Tahun 1975 dalam kongres IPSI, beliau secara aklamasi dipilih sebagai sesepuh PB IPSI. Beliau meninggal di usia 84 tahun pada tanggal 22 Februari 1996 dan dimakamkan di Jakarta Selatan.[11][18]
- Margono Djoyohadikusumo. Beliau merupakan saudara keceran langsung dari Ki Ngabehi Soerodiwiryo, yang kemudian diikuti anak beliau, yang juga ayah dari Prabowo Subiyanto yakni, Soemitro Djojohadikoesoemo yang juga saudara dari PSH. Beliau termasuk 50 kadhang pendiri SHO di Semarang tahun 1932. Beliau juga pendiri BNI dan ikut berpartisipasi dalam pendirian IPSI.
- Mashadi Sastrohadipranoto. Beliau merupakan Ketua Umum PBSH Pada Tahun 1985-1999. Semasa hidupnya beliau sangat berperan penting dalam kepengurusan Persaudaraan Setia Hati di mana di tahun-tahun tersebut banyak trah SH yang mulai merapat dan melebur ke dalam PSH. Beliau meninggal pada tahun 1999. Istilah "Trisula Setia Hati" disematkan di antaranya kepada Moenandar Hardjowijoto, Mashadi Sastrohadipranoto dan Soedarso Wirokoesoemo.[18]
- Soedarso Wirokoesoemo. Beliau merupakan anak angkat dari Moenandar Hardjowiyoto yang merupakan salah satu dari Trisula Setia Hati dan juga merupakan penulis mutiara Setia Hati.
- H. Gambiro Goenawan. Beliau lahir pada tanggal 29 April 1944 dan merupakan anak dari Goenawan, Ketua Pengda SH DKI Jakarta tahun 1970. Beliau keceran di PSH pada tahun 1975. Beliau merupakan perwira tinggi Angkatan Laut ABRI sehingga keaktifan beliau di PSH sangat membantu dalam pengembangan PSH. Beliau menjadi ketua harian pada masa jabatan ketua umum Mashadi Sastrohadipranoto. Beliau menjabat sebagai ketua umum PBSH periode 2005-2010 berdasarkan hasil Munas di Wonosobo.
- H. Trinowo Harsono, S.Sos. Beliau merupakan tokoh PSH dari Magelang, Jawa Tengah. Beliau lahir pada tanggal 14 Maret 1953. Beliau diberi kepercayaan sebagai ketua umum PBSH periode 2010-2015.[6]
- Gassie S Meitono. Beliau dikecer tahun 1972 oleh Moenandar Hardjowiyoto dan dilatih oleh Mariyun Sudirohadiprojo, Kassah, Sarkam dan Tikno. Beliau pernah menjadi ketua Pengda SH DKI jakarta, dan menjabat sebagai wakil ketua umum PB PSH periode 2010-2015. Kecintaannya kepada PSH sangatlah tinggi dengan menjunjung tinggi ajaran PSH. Pendidikannya kepada kadhang-kadhang muda sangat bermanfaat, motivasi dalam pengembangan PSH sangat cemerlang. Oleh sebab itu tokoh sesepuh PSH seperti beliau yang sangat disegani.
- Drs. Mochammad Ngemron. Beliau lahir di Boyolali, Jawa Tengah tanggal 7 April 1947 dan pernah menjabat sebagai Guru Besar Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta. Pada tahun 1966 beliau dikecer SH PSC Tingkat I di Madiun. Pada tahun 1974 beliau dikecer SH PSC Tingkat II oleh Hasan Djoyoadi Suwarno di Surakarta. Pada tahun 1984 beliau dikecer SH PSC Tingkat III oleh Hasan Djoyoadi Suwarno. Pada tahun 1988 di Cilacap, beliau mengikuti Hasan Djoyoadi Soewarno untuk keceran dan bergabung ke PSH yang saat itu dipimpin oleh Mashadi Sastrohadipranoto. Murid-murid beliau di SH PSC dari jalur Hasan Djoyoadi Soewarno terintegrasi dalam PSH hingga resmi diterima PBSH melalui SK tahun 1994. Setelah sekian lama bergabung, pada tahun 2012 mencuat perbedaan pendapat dikarenakan perbedaan kultur antara PBSH dan SH PSC. Sebanyak 18 cabang PSH mendukung eks SH PSC untuk mendirikan wadah baru pada tahun 2013 dan terbentuklah PRSH (Persaudaraan Rumpun Setia Hati).[13][21]
- Pudji Handoko. Berdasarkan hasil kongres PSH pada tanggal 22 Mei 2022, bertempat di Gor Bambu Runcing Temanggung, Jawa Tengah, terpilih Pudji Handoko sebagai Ketua Umum PB PSH periode 2022-2027. Beliau sering melakukan kunjungan dan silaturahim ke Pengda, Pengcab sampai ke unit-unit latihan dalam rangka memberikan nasihat dan arahan serta tertib organisasi kepada para kadhang agar dapat menjalankan kehidupan yang guyub, rukun dan berprestasi. Salah satu unit latihan yang dikunjunginya adalah unit latihan pencak silat Pondok Pesantren Darul Muttaqin pimpinan Drs. Ibnu Nashori, alumni Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, Jawa Timur. Dalam kunjungan ini didampingi oleh beberapa pengurus PB PSH seperti sekretaris, bendahara, pelatih nasional, ketua bidang Hukum dan pelatih-pelatih dari PSH Cabang Tegal, bendahara umum PB IPSI, ketua bidang dana dan usaha PB PSH yang merupakan alumni serta pengajar di Ponpes Darul Muttaqin tahun 1989-1991. Sebagai Ketua Umum PB PSH, Pudji Handoko di masa mudanya memiliki banyak prestasi dalam dunia pencak silat, di antaranya adalah juara nasional pencak silat yang pernah disandangnya pada tahun 1975 di Semarang dan tahun 1976 di Jakarta serta PON tahun 1977 di Jakarta. Pada masa itu pencak silat belum dipertandingkan di Sea Games, beliau juga ikut mempromosikan olahraga pencak silat di beberapa event Internasional dan juga sebagai pelatih pencak silat di beberapa negara seperti Australia, Brunei Darussalam dan juga Timnas pencak silat Indonesia.[6][11]
- Tommy Sudrajat. Tomy Sudrajat lahir di Bandung, 5 Januari 1964. Pada usia 2 tahun pindah ke Jakarta dan sejak kecil sudah berminat dengan pencak silat dan bela diri di antaranya Karate, Kempo, Kungfu, Maen Poekoel/Permainan Betawi. Mulai mengenal pencak Setia Hati tahun 1978 yang diperkenalkan oleh kadhang SH yang tinggal di Mampang Prapatan, Jakarta. Mengkandidat di Kantor Pamong Praja/Wali kota Jakarta Selatan (SH Pamong Pradja) dan dikecer pada tahun 1981 oleh Mashadi Sastrohadipranoto di kediaman Moch. Zein di Depok. Selanjutnya berlatih pencak Setia Hati di kediaman Mariyun Sudirohadiprojo di Jl. Bangka I, Mampang Prapatan selama 2 tahun (1983 dan 1984). Tahun 1997 Mashadi Sastrohadipranoto (Ketua Umum PBSH 1985-1999) mengamanahkan seperangkat literatur asli mengenai Persaudaraan Setia Hati (SH) untuk diketik ulang dan dikomputerisasikan. Oleh Tomy Sudrajat (kadhang PSH) dan Agus Mulyana (kadhang PSHW-TM), literatur asli tersebut diterima dan disimpan dengan rapi. Pada tahun 2007, bersama kadhang SH Jakarta, melihat kondisi organisasi yang bertambah sepi, beliau berkomitmen untuk mengajarkan 36 jurus pencak Setia Hati secara konsisten. Tahun 2009 berawal dari adanya keluhan kadhang PSH Jawa Timur, beliau mengajarkan pencak Setia Hati kepada kadhang PSH dengan membuat sanggar tradisi.[22]
Galeri Kegiatan Persaudaraan Setia Hati










Referensi
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 "Setia Hati Organisasi (SHO) - Perguruan | Tradisi Pencak Silat". tradisipencaksilat.id. Diakses tanggal 2025-04-09.
- 1 2 3 4 "Sejarah SHO 1932-1972 - "SH"". Diakses tanggal 2025-04-09.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 "Dwi Nanda Wibowo". dwinandawibowo.blogspot.com. Diakses tanggal 2025-04-11.
- 1 2 3 4 "PERSAUDARAAN SETIA HATI". PERSAUDARAAN SETIA HATI. 2009-10-18. Diakses tanggal 2025-04-11.
- 1 2 "About - Ikatan Pencak Silat Indonesia". pbipsi.com. Diakses tanggal 2025-04-11.
- 1 2 3 4 5 "MEDIA CENTER". mc.temanggungkab.go.id. Diakses tanggal 2025-04-11.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 "LITERATUR "Buku Peringatan Persaudaraan SETIA HATI" (1903-1962)". Diakses tanggal 2025-04-09.
- 1 2 3 4 5 admin (2011-02-26). "Riwayat Singkat Ki Ngabei Ageng Soerodiwirdjo (Eyang Suro)". Persaudaraan Setia Hati Terate (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-04-11.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 "Berbagai Perguruan Pencak Silat yang Beraliran Setia Hati (SH)". Berbagai Perguruan Pencak Silat yang Beraliran Setia Hati (SH). Diakses tanggal 2025-04-11.
- ↑ admin (2011-02-24). "Profil Persaudaraan Setia Hati Terate". Persaudaraan Setia Hati Terate (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-04-11.
- 1 2 3 4 Kompasiana.com (2024-05-26). "Bersyukur Kepada Allah dan Bangkit Berprestasi Bersama Persaudaraan Setia Hati". KOMPASIANA. Diakses tanggal 2025-04-11.
- ↑ "Persaudaraan Setia Hati Tunas Muda Winongo - Perguruan | Tradisi Pencak Silat". tradisipencaksilat.id. Diakses tanggal 2025-04-11.
- 1 2 3 "Pencak Silat - Persaudaraan Rumpun Setia Hati". www.pencak-silat-prsh.org. Diakses tanggal 2025-04-11.
- 1 2 3 4 5 "PERSAUDARAAN SETIA HATI: PANDANGAN HIDUP SETIA HATI-1". PERSAUDARAAN SETIA HATI. Diakses tanggal 2025-04-11.
- 1 2 3 4 5 Hati, Team Setia (Minggu, 09 Oktober 2011). "Komunitas Setia Hati: SAPTA WASITA TAMA". Komunitas Setia Hati. Diakses tanggal 2025-04-11.
- ↑ "LITERATUR JURUS SH". Diakses tanggal 2025-04-09.
- 1 2 3 4 5 6 7 "Simbol Organisasi PERISAI BINTANG". Diakses tanggal 2025-04-11.
- 1 2 3 4 5 Wibowo, Dwi Nanda (2012-09-18). "Dwi Nanda Wibowo: ALBUM SEJARAH". Dwi Nanda Wibowo. Diakses tanggal 2025-04-11.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 "ORGANISASI". PERSAUDARAAN SETIA HATI. 2009-12-18. Diakses tanggal 2025-04-11.
- ↑ antaranews.com (2010-05-24). "Kualitas SDM Pelatih Pencak Silat Masih Rendah". Antara News. Diakses tanggal 2025-04-11.
- 1 2 "GON SYA'IR - SYA'IR SANG THOLAB: SEJARAH". GON SYA'IR - SYA'IR SANG THOLAB. Diakses tanggal 2025-04-11.
- ↑ "Biografi". Diakses tanggal 2025-04-11.







