ENSIKLOPEDIA
PSHT
Artikel ini kemungkinan ditulis dari sudut pandang penggemar, alih-alih sudut pandang netral. Mohon rapikan untuk menghasilkan standar kualitas yang lebih tinggi dan untuk membuat pemakaian nada yang netral. (Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini) |
Penyuntingan Artikel oleh pengguna baru atau anonim untuk saat ini tidak diizinkan. Lihat kebijakan pelindungan dan log pelindungan untuk informasi selengkapnya. Jika Anda tidak dapat menyunting Artikel ini dan Anda ingin melakukannya, Anda dapat memohon permintaan penyuntingan, diskusikan perubahan yang ingin dilakukan di halaman pembicaraan, memohon untuk melepaskan pelindungan, masuk, atau buatlah sebuah akun. |
![]() Logo SH TERATE | |
| Singkatan | SH TERATE, PSHT |
|---|---|
| Pendahulu | PSC |
| Tanggal pendirian | September 2, 1922; 103 tahun lalu (1922-09-02) (sebagai PSC) 1951; 75 tahun lalu (1951) (sebagai PSHT) |
| Pendiri | Ki Hadjar Hardjo Oetomo |
| Jenis | Perguruan pencak silat |
| Kantor pusat | Jl. Merak No.10 Nambangan Kidul, Kec. Manguharjo, Kota Madiun, Jawa Timur 63128 |
| Lokasi | |
Wilayah layanan | Indonesia, Belanda, Malaysia, Amerika Serikat, Rusia, Taiwan, Turkiye, Timor Leste, Hongkong, Korea Selatan, Jepang, Belgia, Brunei Darussalam, Inggris, Singapore, Mesir, dan Prancis[butuh rujukan] |
Ketua umum | Kangmas Drs. R. Moerdjoko H.W. |
Majelis Luhur | Kangmas H. Issoebiantoro, S.H. |
| Situs web | shterate |
Persaudaraan Setia Hati Terate (dikenal luas sebagai PSHT atau SH Terate) adalah organisasi olahraga yang diinisiasi oleh Ki Hadjar Hardjo Oetomo pada tahun 1922 dan kemudian disepakati namanya menjadi Persaudaraan Setia Hati Terate pada kongres pertamanya di Madiun pada tahun 1951.
SH Terate merupakan organisasi pencak silat yang tergabung dan salah satu yang turut mendirikan Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) pada tanggal 18 Mei 1948.[1][2] Tahun 2021 tercatat SH Terate diikuti sekitar kurang lebih 10 juta anggota, memiliki cabang di 368 kabupaten/kota di Indonesia, 20 komisariat di perguruan tinggi dan 33 cabang khusus luar negeri di Malaysia, Belanda, Rusia (Moskow), Timor Leste, Hongkong, Korea Selatan, Jepang, Belgia, dan Prancis.[butuh rujukan]
Sejarah
Awal mula Setia Hati

Pada tahun 1903, Ki Ageng Ngabehi Soerodiwirjo (EBI: Ki Ageng Surodiwiryo) meletakkan dasar gaya pencak silat Setia Hati di Kampung Tambak Gringsing, Surabaya (kawasan dekat Tanjung Perak). Sebelumnya, gaya silat ini ia namai Djojo Gendilo Tjipto Muljo (EBI: Joyo Gendilo Cipto Mulyo & Joso gendilo kusumo) dengan sistem persaudaraan yang dinamai Sedulur Tunggal Ketjer (Kecer). Pada tahun 1917 & 1922, ia pindah ke Madiun dan mendirikan Persaudaraan Setia Hati di Winongo.[3]
Awal mula SH Terate
Pada tahun 1922, Ki Hadjar Hardjo Oetomo salah satu pengikut aliran pencak silat Setia Hati yang berasal dari Pilangbango, Madiun[4] meminta izin kepada Ki Ageng Ngabehi Soerodiwirjo untuk mendirikan pusat pendidikan pencak silat dengan aliran Setia Hati. Niat ini dilatarbelakangi keadaan saat itu di mana ilmu pencak silat hanya diajarkan kepada mereka yang memiliki status tinggi seperti ambtenaar, bangsawan dan bahkan orang Indo, sehingga Ki Hardjo Oetomo berniat agar ilmu pencak silat ini bisa dipelajari oleh rakyat biasa dan pejuang perintis kemerdekaan.[4][5] Ki Ageng Ngabehi Soerodiwirjo setuju atas ide ini asalkan pusat pendidikan nanti harus memiliki nama yang berbeda. Akhirnya didirikanlah SH PSC (Persaudaraan Setia Hati "Pemuda Sport Club").[6] Pengikut Ki Ageng Ngabehi Soerodiwirjo yang lain yang telah terhasut[7] beberapa pihak menganggap pembukaan SH PSC sebagai sebuah pengkhianatan sehingga SH PSC dianggap "SH murtad".[3] Kelak, pihak-pihak yang masih berpegang teguh terhadap ajarannya dan sebagai penerus sah ajaran Ki Ageng Ngabehi Soerodiwirjo ini tergabung dalam SH Panti.[8] Selain itu, karena keterlibatan Hardjo dengan SI Merah dan aksi mogok pegawai staatsspoorwegen yang didalangi PKI membuatnya ditangkap dan menjalani hukuman pembuangan Belanda di Jember, Cipinang, Padangpanjang, dan Boven-Digoel.[4][9] Sistem yang dianut SH PSC ini adalah sistem paguron (perguruan) di mana guru ditempatkan pada tingkat tertinggi sebagai patron perguruan. Sistem pendidikan inilah yang menjadi cikal bakal Persaudaraan Setia Hati Terate.[3] Pada tahun 1941 Hasan Djojoadi Soewarno diangkat menjadi Hoofd leader terakhir sebelum PSC berganti nama.
Pada 25 Maret 1951, diadakan kongres pertama yang diadakan di rumah Ki Hadjar Hardjo Oetomo, salah seorang murid Ki Hadjar Hardjo Oetomo yang bernama Soeratno Sorengpati mengusulkan penggantian nama SH PSC menjadi Setia Hati Terate.[4][6] SH Terate lalu mengubah diri dari sistem yang berbentuk perguruan menjadi sistem berbentuk persaudaraan untuk mendukung konsep demokratisasi organisasi, tetapi konsepsi dan tradisi sistem perguruan masih tetap dilanjutkan.[10] Selanjutnya SH Terate semakin berkembang, setelah Mas Irsjad (salah satu murid Ki Hadjar Hardjo Oetomo) menjadi ketua dan mengganti 90 senam dasar, jurus 1–4, jurus belati, dan jurus toya.[3] Jurus-jurus perguruan juga diperbarui oleh Mas Imam Koesoepangat untuk membedakan diri dari jurus-jurus Djojo Gendilo Tjipto Muljo milik SH asli atau sekarang dikenal dengan Setia Hati Panti.
Ketua dari masa ke masa
Pucuk kepemimpinan di SH Terate berganti-ganti seiring waktu. Setelah wafatnya Ki Hadjar Hardjo Oetomo pada tanggal 12 April 1952, ketua dijabat oleh Soetomo Mangkoedjojo (EBI: Sutomo Mangkujoyo), yang merupakan karyawan BRI. Setelah Sutomo dipindahtugaskan ke Surabaya, ketua dijabat oleh Mas Irsjad. Pada dekade 1960-an, Mas Irsjad pindah ke Bandung dan kepemimpinan SH Terate diserahkan kepada Mas Santoso Kartoatmodjo. Setelah itu terjadi pergolakan tahun 1965 sehingga ketua kembali dijabat oleh Soetomo Mangkoedjojo hingga 1974. Pada masa jabatan kedua ini SH Terate membuka beberapa cabang di Magetan, Surabaya, Mojokerto, Yogyakarta, dan Solo. Pada tahun 1974, diadakan kongres di Madiun yang memutuskan Mas Imam Koesoepangat (dikenal dengan julukan Pandhita Wesi Kuning[11][12]) sebagai ketua pusat. 3 tahun berikutnya, diadakan kongres kembali dan menghasilkan nama Badini sebagai ketua selanjutnya. Pada masa ini organisasi mengalami masalah keuangan sehingga salah satu pendekarnya yang bernama Tarmidji Boedi Harsono keluar dengan solusi kontroversial, yakni mengubah sistem pembayaran pengesahan warga dari menggunakan uang logam lama (ketengan atau benggolan) menjadi uang logam yang berlaku (baik rupiah maupun yang lainnya seperti dolar, ringgit, atau riyal) agar dapat membantu keuangan organisasi. Sebelumnya uang ketengan dan benggolan didapat dengan cara membeli dari istri Ki Hardjo Oetomo, Inem, sekaligus sebagai bentuk terima kasih organisasi untuk membantu keluarga Ki Hardjo Oetomo. Maka Tarmadji meyakinkan pada semua pihak yang mempertanyakan usul tersebut karena PSHT sudah berubah menjadi organisasi modern yang menjadi milik anggota bukan perorangan lagi dan untuk membantu keluarga Ki Hardjo Oetomo sudah dipersiapkan solusi lain.
Pada Musyawarah Besar tahun 1981, Tarmadji Boedi Harsono diangkat sebagai Ketua Umum, R. Moerdjoko HW sebagai Sekretaris Umum dan Imam Koesoepangat sebagai Dewan Pusat SH Terate. Mereka bertiga memulai kepengurusan dengan 27 cabang eksis dan 9 cabang sedang berproses, sehingga tahun pertama ada 36 cabang.
Sebagai perkumpulan tidak berbadan hukum, SH Terate tidak bisa bertindak sebagai subjek hukum. Karena itu pada tahun 1982 didirikan Yayasan Setia Hati Terate (YSHT) untuk membeli tanah eks bengkok Desa Nambangan Kidul Kota Madiun, di mana saat ini berdiri Pendapa Agung Graha Wiratama di atasnya. Yayasan SH Terate ini secara hukum didirikan oleh 4 orang; Januarno, Tarmadji Boedi Harsono, Imam Koesoepangat dan Sugeng Wiyono, di mana di dalam akta pendirian yayasan ini, bawah nama Januarno dan Tarmadji Boedi Harsono terdapat keterangan bahwa selain bertindak atas nama pribadi juga mewakili Persaudaraan Setia Hati Terate Pusat Madiun.
Tahun 1985 dilaksanakan peletakan batu pertama pembangunan Padepokan Agung oleh Bapak Menpora Republik Indonesia saat itu, Abdul Ghofur. Pada tahun 1985 juga dilaksanakan pengesahan serentak sejumlah 3500 warga baru di Stadion Wilis Kota Madiun.
Tahun 1987 Ketua Dewan Pusat Imam Koesoepangat meninggal dunia, sehingga tinggal duet Tarmadji Boedi Harsono dan R. Moerdjoko H.W yang memimpin SH Terate.
Di kemudian hari, Yayasan SH Terate meluaskan lahan Padepokan dengan membeli tanah PT Tjipta Niaga (Persero), di mana saat ini berdiri Krida Satria Tama di atasnya.
Pada tahun 2000, kongres diadakan kembali dengan menjadikan kembali Tarmadji Boedi Harsono sebagai ketua dan dilengkapi dengan 9 tokoh lainnya sebagai dewan pusat atau yang dikenal sebagai Nawa Pandhita.[3][10] [13]
Cabang
Perwapus Jawa Timur
- Persaudaraan Setia Hati Terate Daerah Khusus Pusat (DKP) Madiun
- Persaudaraan Setia Hati Terate Cabang Ponorogo
- Persaudaraan Setia Hati Terate Cabang Nganjuk
- Persaudaraan Setia Hati Terate Cabang Lamongan
- Persaudaraan Setia Hati Terate Cabang Pacitan
- Persaudaraan Setia Hati Terate Cabang Mojokerto
- Persaudaraan Setia Hati Terate Cabang Sidoarjo
- Persaudaraan Setia Hati Terate Cabang Surabaya
- Persaudaraan Setia Hati Terate Cabang Jember
- Persaudaraan Setia Hati Terate Cabang Banyuwangi
- Persaudaraan Setia Hati Terate Cabang Tuban
- Persaudaraan Setia Hati Terate Cabang Gresik
- Persaudaraan Setia Hati Terate Cabang Kediri
- Persaudaraan Setia Hati Terate Cabang Jombang
- Persaudaraan Setia Hati Terate Cabang Ngawi
- Persaudaraan Setia Hati Terate Cabang Magetan
Perwapus Jawa Tengah
- Persaudaraan Setia Hati Terate Cabang Solo Raya
- Persaudaraan Setia Hati Terate Cabang Purbalingga
- Persaudaraan Setia Hati Terate Cabang Demak
- Persaudaraan Setia Hati Terate Cabang Rembang
- Persaudaraan Setia Hati Terate Cabang Semarang
- Persaudaraan Setia Hati Terate Cabang Sragen
Perwapus Jawa Barat
- Persaudaraan Setia Hati Terate Cabang Karawang
- Persaudaraan Setia Hati Terate Cabang Magelang
- Persaudaraan Setia Hati Terate Cabang Banjarnegara
- Persaudaraan Setia Hati Terate Cabang Banyumas
- Persaudaraan Setia Hati Terate Cabang Cilacap
- Persaudaraan Setia Hati Terate Cabang Wonosobo
- Persaudaraan Setia Hati Terate Cabang Karanganyar
Pendidikan

Pendidikan pencak silat di SH Terate memiliki inti unsur pembelaan diri untuk mempertahankan kehormatan, keselamatan, kebahagiaan, dan kebenaran. Materi yang diajarkan terbagi untuk 3 kelompok, yaitu kelompok pencak silat ajaran (pemula) yang terdiri dari senam massal, senam dasar, jurus, senam dan jurus toya, jurus belati, kuncian (kripen), dan silat seni untuk tunggal, ganda, dan beregu. Kelompok kedua adalah kelompok pencak silat prestasi untuk mengikuti kejuaraan atau ajang olahraga yang melibatkan pencak silat dengan materi tanding serta silat seni baik tunggal, ganda, maupun beregu. Dan yang terakhir adalah kelompok Pencak Silat Bela Diri Praktis yang diberi materi bela diri profesional, pertunjukan dan keterampilan khusus.[14]
Selain itu SH Terate juga mengajarkan beberapa ajaran seperti Ajaran Setia Hati, di mana warga akan belajar mengenai upaya mendekatkan hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan manusia serta hubungan manusia dengan alam semesta. Ajaran Setia Hati mengharuskan warganya mampu memahami dirinya sendiri dan hati nuraninya, bahwa manusia dapat dihancurkan, manusia dapat dimatikan (dibunuh) tetapi manusia tidak dapat dikalahkan selama manusia itu setia pada hatinya sendiri dan tidak ada kekuatan apa pun di atas manusia yang bisa mengalahkan manusia kecuali kekuatan Tuhan Yang Maha Esa.[15] Ajaran selanjutnya adalah Ajaran dan Gerakan Budi Luhur di mana warga SH Terate harus ikut berupaya mewujudkan memayu hayuning bawono (Bahasa Indonesia: memperindah keindahan dunia) dalam upaya mewujudkan masyarakat nyaman, adil, makmur, dan sejahtera lahir batin.[1][14]
Falsafah ajaran

SH Terate memiliki falsafah ajaran yang diambil dari ajaran leluhur Jawa:[16]
- Sepiro Gedhening Sengsoro Yen Tinompo Amung Dadi Cobo, yang berarti "seberapa pun besarnya kesengsaraan jika mampu menerimanya hanya akan jadi cobaan semata".
- Ala Tanpa Rupa Yen Tumandhang Amung Sedhela, yang berarti "setiap rasa kesusahan, keburukan, serta masalah-masalah apabila dijalani dengan berlapang dada maka kemudian terasa sebentar saja".
- Tega Larane, Ora Tego Patine, yang secara harfiah berarti "tega melihat sakitnya, tidak tega melihat matinya".
- Suro Diro Joyo Diningrat Lebur Dening Pangastuti, yang berarti "segala kesempurnaan hidup dapat diluluhkan dengan budi pekerti luhur".
- Satria Ingkang Pilih Tanding, yang secara harfiah berarti "seorang kesatria mampu memilih lawan".
- Ngluruk Tanpo Bolo, Menang Tanpo Ngasorake, Sekti Tanpa Aji-Aji, Sugih Tanpa Bandho, yang berarti "mendatangi tanpa kawan, menang tanpa mengalahkan, sakti tanpa kesaktian dan kaya tanpa kekayaan".
- Datan Serik Lamun Ketaman, Datan Susah Lamun Kelangan, yang artinya "jangan sakit hati kala musibah menimpa, jangan susah kala kehilangan".
- Ojo Seneng Gawe Susahe Liyan, Opo Alane Gawe Seneng Liyan, yang artinya "jangan suka menyusahkan orang lain, apa jeleknya membahagiakan orang lain".
- Ojo Waton Ngomong liyan Ning Yen Ngomong Sing Gawe Waton, yang artinya "jangan hanya bisa bicarain orang lain namun harus bisa bertanggung jawab".
- Ojo Rumongso Biso Ning Sing Biso Rumungso, yang artinya "jangan merasa bisa, namun juga harus bisa merasakan".
- Ngunduh Wohing Pakarthi, yang artinya "siapa yang berbuat pasti akan menerima hasil perbuatannya".
- Jer Basuki Mawa Beya, yang artinya "segala kesuksesan membutuhkan pengorbanan".
- Budhi Dayane Manungso Tan Keno Ngluwihi Kodrate Sing Maha Kuwoso, yang berarti "segala daya upaya manusia tidak akan bisa melebihi ketentuan Tuhan Yang Maha Kuasa".
- Memayu Hayuning Bawono, Ambrasto dur angkoro, yang secara harfiah berarti "memperindah keindahan dunia serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak pada diri".
- Sepiro duwurmu ngudi kawruh, sepiro jeromu ngangsu ngilmu, sepiro akehe guru ngajimu tembe mburine mung arep ketemu marang sejatine awake dewe, yang berarti "seberapa tinggi mencari pengetahuan, seberapa dalammu menuntut ilmu, seberapa banyak guru ngajimu, tetap bergantung pada dirimu sendiri".
- Sopo sing wus biso nemoake sedulur batine kakang kawah adi ari-ari papat kiblat lima pancer, sejatine wus nemu guru sejatine.
- Sekti tanpo aji digdoyo tanpo guru, yang berarti "sakti tanpa kesaktian, hebat tanpa guru".
- Kridhaning ati ora bisa mbedhah kuthaning pesthi, yang berarti "gejolak jiwa (seharusnya) tidak mengubah kepastian".
- Amemangun karyenak tyasing sesama, yang berarti "membuat nyaman perasaan orang lain".
- Sukeng tyas yen den hita, yang berarti "suka/bersedia menerima nasihat".
- Aja Adigang, Adigung, Adiguna, yang berarti "jangan sok kuasa, sok besar dan sok sakti".
- Aja Milik Barang Kang Melok, Aja Mangro Mundak Kendo, yang berarti "jangan tergoda kemewahan, jangan mudah mendua agar semangat tidak kendur".
- Sing Resik Uripe Bakal Mulya, yang berarti "yang bersih hidupnya akan mulia".
- Aja Kuminter Mundak Keblinger, Aja Cidra Mundak Cilaka, Sing Was-was Tiwas, yang berarti "jangan sok pintar karena akan salah arah, jangan suka berbuat curang karena akan celaka, yang ragu-ragu akan binasa".
- Aja Ketungkul Marang Kalungguhan, Kadonyan lan Kemareman, yang berarti "jangan terobsesi kedudukan, keduniawian dan kepuasan".
- Aja Gumunan, Aja Getunan, Aja Kagetan, Aja Aleman, yang berarti "jangan mudah heran, jangan mudah kecewa, jangan mudah kaget, jangan manja".
- Sepi ing Pamrih Rame ing Gawe, Banter tan Mbancangi, Dhuwur tan Ngungkuli, yang berarti "bekerja dengan giat tanpa pamrih, cepat tanpa mendahului dan tinggi tanpa menandingi".
- Urip Iku Urup, yang secara harfiah artinya "hidup itu menghidupi". Maksudnya dalam hidup harus bisa menjadi manfaat bagi orang lain.
- Sak Apik-apike Wong Yen Aweh Pitulung Kanthi Cara Dedhemitan, yang berarti "sebaik-baiknya orang adalah memberi pertolongan dengan tanpa ingin diketahui orang lain".
Hierarki Organisasi
- Pengurus Pusat (Pusat) berkedudukan di Madiun
- Perwakilan Pengurus Pusat (Perwapus) berkedudukan di Provinsi
- Pengurus Daerah Khusus Pusat (DKP) Meliputi Kota Madiun dan Kabupaten Madiun
- Pengurus Cabang (Cabang) berkedudukan di Kota Madya/Kota/Kabupaten
- Pengurus Cabang Khusus (Cabang Khusus) berkedudukan di luar Negeri/Keraton/Wilayah Khusus
- Pengurus Ranting (Ranting) berkedudukan di Wilayah Kecamatan/Distrik
- Pengurus Komisariat (Komisariat) berkedudukan di Lembaga/Yayasan Pendidikan
- Pengurus Rayon (Rayon) berkedudukan di Dusun/Kelurahan
- Pengurus Sub Rayon (Sub Rayon) berkedudukan di Dusun/RW
Tingkatan


Warga
Warga atau Pendekar Setia Hati Terate adalah mereka yang sudah menjalani ujian dan pengesahan. Warga SH Terate dibagi menjadi 3 tingkat, yaitu Warga tingkat I (ngalah), tingkat II (ngalih), dan tingkat III (ngamuk dalam keadaan darurat/kepepet).[17] Warga tingkat I menggunakan sabuk berwarna putih dari kain mori. Warga tingkat dua dan tiga menggunakan selendang.
Tokoh Pendiri
Gaya atau nada penulisan artikel ini tidak mengikuti gaya dan nada penulisan ensiklopedis yang diberlakukan di Wikipedia. Bantulah memperbaikinya berdasarkan panduan penulisan artikel. (Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini) |
Sebagai organisasi persaudaraan yang telah berdiri sejak tahun 1922, Persaudaraan Setia Hati Terate telah dipimpin oleh sejumlah tokoh yang berdedikasi dan memiliki komitmen tinggi terhadap organisasi. Berikut adalah daftar nama Ketua Umum dan Ketua Dewan Pusat Persaudaraan Setia Hati Terate yang telah memimpin organisasi ini sejak periode tahun 1922 hingga tahun 2022–2026.
Tokoh Pendiri
- Kang Mas | Ki Hadjar Hardjo Oetomo (1922–1948) Ki Hadjar Hardjo Oetomo adalah seorang murid kinasih dari Ki Ngabehi Soerodiwirjo dan merupakan salah satu warga yang setia dari Persaudaraan Setia Hati Terate (SH) yang berkedudukan di Winongo Madiun. Beliau lahir pada tahun 1883, di daerah Winongo, Kota Madiun, Jawa Timur. Ki Hadjar Hardjo Oetomo menyelesaikan pendidikannya hingga tingkat III dari gurunya Ki Ngabehi Soerodiwirjo. Selain sebagai murid kinasih dan warga setia SH, Ki Hadjar Hardjo Oetomo juga dikenal sebagai seorang Pendekar Pencak Silat dan Pendiri Organisasi Pencak Silat yang awalnya bernama SH Pencak Sport Klub (SH-PSC) dan kini dikenal sebagai Persaudaraan Setia Hati Terate.
Tokoh Penerus Persaudaraan Setia Hati Terate
- Kang Mas | RM. Soetomo Mangkoedjojo (1948–1956, 1962–1974) RM. Soetomo Mangkoedjojo adalah sosok yang pernah menjabat sebagai Ketua Umum Persaudaraan Setia Hati Terate selama 20 tahun, yaitu pada periode 1948–1956 dan 1962–1974.
- Kang Mas | Muhammad Irsyad Widagdo (1956–1958) Muhammad Irsyad Widagdo menjabat sebagai Ketua Umum SH Terate selama dua tahun pada periode 1956–1958. Ia menciptakan 90 senam dasar yang menjadi cikal bakal perkembangan SH Terate sebagai organisasi pencak silat.
- Kang Mas | Santoso (1958–1962) Santoso memimpin Persaudaraan Setia Hati Terate selama empat tahun, yaitu pada periode 1958–1962.
- Kang Mas | RM. Imam Koessoepanggat (1974–1977) RM. Imam Koessoepanggat pernah menjabat sebagai Ketua Umum Persaudaraan Setia Hati Terate pada periode 1974–1977. Beliau dikenal dengan nama Pandhita Wesi Kuning dan berperan memperkenalkan SH Terate ke luar negeri.
- Kang Mas | Badini (1977–1981) Badini memimpin Persaudaraan Setia Hati Terate pada periode 1977–1981. Ia juga dikenal sebagai seniman yang berkontribusi dalam pengembangan logo emblem SH Terate.
- Kang Mas | R. A.T. Tarmadji Boedi Harsono (1981–2014) RM. A.T. Tarmadji Boedi Harsono menjabat sebagai Ketua Umum Persaudaraan Setia Hati Terate selama 33 tahun, yaitu pada periode 1981–2014.
- Kang Mas | Richard Simorangkir (2014–2016) Richard Simorangkir menjabat sebagai Pelaksana Tugas (Plt.) Ketua Umum Persaudaraan Setia Hati Terate dari tahun 2014 hingga 2016.
- Kang Mas | Arif Suryono (2014–2016) Arif Suryono juga menjabat sebagai Pelaksana Tugas (Plt.) Ketua Umum Persaudaraan Setia Hati Terate bersamaan dengan Richard Simorangkir.
- Kang Mas | Muhammad Taufik (2016–sekarang) Muhammad Taufik menjadi Ketua Umum Persaudaraan Setia Hati Terate pada tahun 2016.[18]
Tokoh Nasional
Galeri Persaudaraan Setia Hati Terate
Pola Langkah Pembukaan Persaudaraan Setia Hati Terate
Pola langkah pembukaan SH Terate merupakan serangkaian gerakan yang memiliki makna spiritual yang sangat dalam. Gerakan pertama pada pola langkah ini adalah posisi berdiri seperti huruf alif dengan jari-jari tangan bersatu dan dua ibu jari melekat di ulu hati. Gerakan ini merupakan simbol dari sikap pasrah atau tunduk kepada Tuhan Yang Maha Tunggal yang sangat penting dalam Pencak Silat.
Gerakan kedua pada pola langkah pembukaan SH Terate adalah posisi kaki kanan digeser ke samping sekitar 15° sementara jemari telunjuk dan jemari tengah tangan kanan dikumpulkan. Gerakan ini mengajarkan tentang kebijaksanaan dalam menghadapi masalah serta kesabaran dan kesiapan untuk menghadapi tantangan.
Gerakan selanjutnya adalah posisi jari-jari tangan kanan yang melekat ke tanah dan ke udara, serta jemari telunjuk dan jemari tengah tangan kanan yang ditempelkan di pelipis. Gerakan terakhir adalah posisi jari-jari tangan kanan mengepal dan dipukulkan ke arah musuh dengan penglihatan mata tertuju pada musuh.

Ilustrasi Foto Gerakan Pencak Silat
- Tendangan A Terbang
- Tendangan T
- Pembukaan Pola Langkah 1
- Pembukaan Pola Langkah 2
Tapak Sirih Lebur Jiwo
Tapak Sirih Lebur Jiwo merupakan suatu komunitas sekaligus praktik seni olah napas tingkat lanjut yang berada dalam lingkup organisasi Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT). Praktik ini berfokus pada pengembangan teknik pernapasan yang diyakini memiliki dimensi spiritual, pengendalian diri, serta peningkatan kapasitas fisik dan mental. Dalam konteks organisasi, kegiatan ini juga berperan sebagai sarana pembinaan karakter serta penguatan hubungan antaranggotanya.[19]
Secara konseptual, Tapak Sirih Lebur Jiwo mencakup beberapa aspek utama. Dari sisi keilmuan, praktik ini dipandang sebagai bentuk latihan pengendalian napas dan energi tubuh yang dalam pelaksanaannya dapat melibatkan rangkaian gerakan tertentu serta unsur spiritual seperti doa atau meditasi. Dari sisi keanggotaan, komunitas ini berada di bawah naungan PSHT dan ditujukan bagi anggota yang memiliki minat dalam pengembangan diri, khususnya pada dimensi spiritual dan pengendalian batin. Sementara itu, secara filosofis, konsep yang diusung berkaitan dengan ajaran "Suro Diro Joyodiningrat Lebur Dening Pangastuti", yang mengandung makna bahwa kekuatan kelembutan, kasih sayang, dan kebijaksanaan diyakini mampu meredam sifat agresif atau destruktif dalam diri manusia.[20]
Dalam pengertian ringkas, Tapak Sirih Lebur Jiwo dapat dipahami sebagai salah satu bentuk praktik spiritual dalam lingkungan PSHT yang menitikberatkan pada proses lebur jiwo, yaitu upaya internalisasi nilai-nilai pengendalian diri dan penghapusan sifat-sifat negatif melalui latihan pernapasan yang terstruktur dan berkesinambungan.[21]
Referensi
- 1 2 "SH Terate Ikut Wujudkan Bela Negara di Dunia Internasional". kemhan.go.id. Kementerian Pertahanan Republik Indonesia. 27 Februari 2017. Diakses tanggal 25 Februari 2020.
- ↑ "Perguruan Historis IPSI". pencaksilatindonesia.org. Diakses tanggal 3 Oktober 2019.
- 1 2 3 4 5 Hendra W. Saputro (27 Februari 2011). "Pentjak Silat – The History which its related with PSHT". shterate.com. Diakses tanggal 25 Februari 2020.
- 1 2 3 4 "Sejarah SH Terate (Bagian 1) Masa Perintisan". shterate.or.id. 13 Mei 2014. Diakses tanggal 25 Februari 2020.
- ↑ Amin Fauzie, ed. (19 Maret 2019). "Pembinaan Warga & Deklarasi Pemilu Damai PSHT Cabang pusat". radarbojonegoro.jawapos.com. Jawa Pos. Diarsipkan dari asli tanggal 2020-02-25. Diakses tanggal 25 Februari 2020.
- 1 2 Idris Rusadi Putra (25 Agustus 2013). "Persaudaraan Setia Hati Terate". Merdeka.com. Diakses tanggal 25 Februari 2020.
- ↑ Satria Kurniawan (16 Oktober 2016). "Ringkasan Jalan Panjang SH Terate dan SH Winongo, yang Sejatinya Adalah Satu Saudara". kompasiana.com. Diakses tanggal 25 Februari 2020.
- ↑ "Mengenal Persaudaraan SH Panti, Ajaran Asli Eyang Suro". madiuntoday.id. 1 Oktober 2018. Diarsipkan dari asli tanggal 2021-04-18. Diakses tanggal 8 April 2021.
- ↑ "De locomotief". De locomotief. 1927-07-12. Diakses tanggal 2025-07-30.
- 1 2 "Sejarah SH Terate (Bagian 2) Masa Transisi". shterate.or.id. 13 Mei 2014. Diarsipkan dari asli tanggal 2020-02-25. Diakses tanggal 25 Februari 2020.
- ↑ "Kesetiaan Pendekar Wesi Kuning". shterate.or.id. 13 Mei 2014. Diarsipkan dari asli tanggal 2019-10-02. Diakses tanggal 25 Februari 2020.
- ↑ Hendra W. Saputro (26 Februari 2011). "Masa Riwayat RM. Imam Koesoepangat". shterate.com. Diakses tanggal 25 Februari 2020.
- ↑ Humas PSHT (28 November 2016). "Susunan Pengurus PSHT". shterate.or.id. Persaudaraan Setia Hati Terate. Diakses tanggal 25 Februari 2020.
- 1 2 Humas PSHT (1 Oktober 2016). "Pendidikan Ajaran PSHT". psht.or.id. Persaudaraan Setia Hati Terate. Diakses tanggal 25 Februari 2020.
- ↑ Humas PSHT (28 November 2016). "Falsafah PSHT". psht.or.id. Persaudaraan Setia Hati Terate. Diakses tanggal 25 Februari 2020.
- ↑ "Inilah 31 Falsafah Persaudaraan Setia Hati Terate". psht-online.blogspot.com. 6 Februari 2018. Diakses tanggal 25 Februari 2020.
- ↑ Humas PSHT Pusat Madiun (2 Oktober 2019). "Kedudukan Insan Setia Hati (Satrio, Ngalindro, Pandito)". shterate.com. Diakses tanggal 25 Februari 2020.
- ↑ "Sejarah SH Terate". shterate.or.id. Diakses tanggal 10 Mei 2025.
- ↑ "Pernafasan PSHT". titoreista.com. Diakses tanggal 03/04/2026.
- ↑ "Kunci Terkabulnya Doa Wasia Setia Hati Terate". titoreista.com. Diakses tanggal 03/04/2026.
- ↑ Reista, Tito. "Ke SH an PSHT". titoreista.com. Diakses tanggal 03/04/2026.
