Kasus Nia telah menjadi sumber komodifikasi yang dimanfaatkan pembuat konten dan warga. Makamnya menjadi tujuan ziarah, yang menuai kontroversi dan melahirkan meme internet sebab banyaknya peziarah dari berbagai daerah. Kisahnya telah dibukukan, menjadi lagu, dan difilmkan. Lokasi yang terkait Nia diabadikan lewat pembangunan prasasti dan pemberian nama jalan. Ibu Nia mendapat banyak bantuan yang telah dimanfaatkan untuk membangun rumah.
Latar belakang
Nia Kurnia Sari
Nia Kurnia Sari (NKS) adalah seorang gadis berusia 18 tahun. Ia anak kedua dari Empat bersaudara. Ia lahir dari keluarga kurang mampu, Nia juga dikenal rajin dan gigih oleh warga sekitar. Selama bersekolah, Nia menjual gorengan di sekolahnya, untuk membantu ekonomi keluarga. Setelah lulus pada tahun 2023, Ia menjual gorengan dengan berkeliling. Nia menyisihkan keuntungan hasil penjualan sambil mencari beasiswa untuk biaya kuliah. Nia menghembuskan nafas terakhirnya dan meninggal saat berpulang kerumah dihadang Indra Septiarman, pada tanggal 6 September 2024.[2][3]
Indra Septiarman
Indra Septiarman Atau Disebut Juga Indragon, lahir Kayutanam, 7 September 1998, adalah seorang residivis berusia 26 tahun. Pada tahun 2013, ia pernah didakwa atas kasus pencabulan, dan pada tahun 2017, ia didakwa atas kasus penyalahgunaan narkoba. Pada Bulan Agustus 2025, Indra Septiarman divonis Mati.[4][5]
Sekitar 12:30 5 September 2024: Indra Septiarman (26 tahun) bersama pamannya Muhammad Jailani (34 tahun) dan Muhammad Heru Syahputra (21 tahun) melakukan pencurian di SMP Negeri 1 Kayu Tanam. Mereka mencuri empat mesin pompa air dan telah menjual satu seharga 170 ribu Rupiah, kemudian membagikan hasil penjualannya. Indra berperan merusak mesin pompa air, Heru berperan sebagai menyediakan peralatan, lalu Jailani menjualnya.[6]
Sekitar 16:00 6 September 2024: Nia Kurnia Sari, seorang gadis berusia 18 tahun yang berjualan gorengan, dilaporkan hilang setelah tidak pulang ke rumah. Sebelum menghilang, Nia terekam sedang berjalan mengangkat baki gorengan dari rekaman amatir ponsel milik warga sekitar.[7]
Sekitar 17:50 6 September 2024: Nia menjual gorengannya di depan warung kepada tiga pria, Indra Septiarman, Randi, dan Muhammad Jailani, pemilik warung.[2]
Sekitar 18:00 6 September 2024: Heru kembali ke warung milik Dani, dan mereka sudah tidak melihat Indra.[8]
Sekitar 18:25 6 September 2024: Nia berada di Pasar Gelombang menuju rumahnya, Indra mengambil tali rafia berwarna merah dari warung Dani, Ia mengambil jalan pintas untuk menghadang Nia. Ia bersiap di tepi jalan, dan mulai berdiri setelah mendengar suara Nia meneriakkan jualannya. Nia sempat terkejut, kemudian mereka lanjut berjalan berlawanan arah hingga berselisih 1 meter, Indra berbalik dan memiting Nia ke sisi luar jalan, hingga keduanya berguling ke semak-semak, kemudian Indra mengikat tangan Nia, tetapi, Nia memberikan perlawanan hingga Indra menjerat leher Nia selama sekitar 6 menit sampai Nia hilang kesadaran.
Sekitar 18:30 6 September 2024: Indra membopong tubuh Nia ke arah kanan bukit, setelah 200 meter, Indra menyeret tubuhnya ke arah makam Suku Koto di Nagari Guguak, yang jaraknya hampir 500 meter. Indra menyandarkan tubuh Nia di pendopo, kemudian memperkosanya di sekitar makam dan di dekat jurang. Indra menggulingkan Nia ke jurang memanfaatkan aliran irigasi dan menyusulnya, menyeretnya dalam air hingga sejauh 1 kilometer.[9]
Sekitar 19:30 6 September 2024: Indra berhenti di sisi bukit, tepatnya di kebun kakao dekat kawasan perkuburan Suku Sikumbang di Korong Pasagalombang. Indra menyanggahkan tubuh Nia di pangkal pohon pinang agar korban tidak berguling lantaran tanahnya sedikit menanjak. Indra mengambil cangkul kecil dan tumpul dari sekitar pondok, lalu menggali lubang sedalam 1 meter. Indra melepas pakaian Nia, kemudian menguburkan tubuhnya.[10]
Sekitar 20:00 6 September 2024: Orang tua Nia melaporkan Nia yang tidak kunjung pulang ke perangkat Nagari, pencarian dilakukan hingga dini hari, tetapi tidak membuahkan hasil. Sementara, Indra kembali ke warung Muhammad Jailani, pamannya, kemudian mengganti pakaiannya, dan tidur.[8][11]
7 September 2024: Baki berisi gorengan milik Nia ditemukan. Di hari yang sama, jilbab milik Nia juga ditemukan.[2]
8 September 2024: Jasad Nia ditemukan terkubur di gundukan tanah yang ditutupi ranting dan dedaunan sedalam 1 meter di lahan perkebunan di Korong Pasa Gelombang, Nagari Kayu Tanam, Kecamatan 2x11 Enam Lingkung, Kabupaten Padang Pariaman yang berjarak 500 meter dari kediaman korban. Di sekitar lokasi, ditemukan juga sejumlah barang di antaranya kain sarung, pakaian dan sendal milik Nia, kemudian tali rafia dan tas milik Indra Septiarman yang berisi narkotika berjenis sabu-sabu siap pakai. Jasad Nia kemudian dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Padang untuk dilakukan autopsi.[12]
Sekitar 15:00 19 September 2024: Indra Septiarman ditangkap oleh Polres Padang Pariaman saat sedang bersembunyi di dalam loteng salah satu rumah di Padang Kabau setelah 12 hari buron. Selama menjadi buronan, ia dilindungi dan dibantu kabur oleh pamannya, Muhammad Jailani alias Dani (34 tahun).[13][14][15]
21 September 2024: Penangkapan pelaku pembunuhan Nia Kurnia Sari mendapat dukungan luas dari masyarakat, dengan puluhan karangan bunga menghiasi Mako Polda Sumbar.[16]
23 September 2024: Berdasarkan keterangan Indra Septiarman, ditemukan juga cangkul milik warga sekitar yang digunakan untuk menguburkan jasad Nia, dan celana berwarna hitam milik Nia sejauh 1 kilometer dari daerah penguburan dekat aliran sungai.[17]
7 Oktober 2024: Reka ulang 79 adegan di delapan tempat kejadian perkara dilakukan oleh Indra Septiarman selama 5 jam lebih, dengan pengamanan ketat dari kurang lebih 700 personil gabungan Polisi, TNI, dan Jaksa, untuk mengamankan Indra Septiarman dari amukan warga.[10][18]
Pasca-kejadian
Indra Septiarman, Muhammad Heru Syahputra, dan Muhammad Jailani ditetapkan sebagai tersangka tindak pidana pencurian. Kemudian, Indra juga ditetapkan sebagai tersangka tindak pidana pembunuhan dan pemerkosaan Nia. Sementara, Jailani ditetapkan telah menyembunyikan kejahatan, karena membantu Indra untuk melarikan diri. Pada Bulan Agustus 2025, Indra Septiarman divonis Mati. Dan Muhammad Jailani Dipenjara selama 9 tahun [19]
Makam Nia Kurnia Sari telah didatangi pengunjung seperti objek wisata dan taburan bunga yang menggunung. Makam juga dijadikan lokasi perekaman video musik oleh Misramolai, penyanyi asal Minangkabau.[20] Misramolai mengaku telah mendapatkan izin dari ibu Nia, Eli Marlina. Beberapa lokasi tempat kejadian perkara, termasuk rumah Nia juga ramai pengunjung.[21] Perilaku dari ibu Nia dan pihak-pihak yang diduga melakukan komodifikasi tragedi ini menimbulkan kontroversi dan keresahan masyarakat, termasuk oleh ayah kandung Nia, Asril.[22][23]
Peristiwa ini diangkat menjadi film oleh Aditya Gumay, atas persetujuan ibu mendiang Nia.[24]