Pemberontakan Zaid bin Ali (bahasa Arab: الثورات زيد بن علي, diromanisasi: Ats-Tsaurāt Zaid bin ʿAlī), juga dikenal sebagai Pemberontakan Zaidi, adalah serangkaian pemberontakan yang awalnya dipimpin oleh Zaid bin Ali serta kemudian putra dan penggantinya Yahya bin Zaid melawan Kekhalifahan BaniUmayyah, yang telah mengambil alih Kekhalifahan Rasyidin sejak kematian kakek buyutnya, Alibin Abi Thalib.
Peristiwa
Berbeda dengan saudaranya, yaitu Muhammad al-Baqir, Imam kelima dalam ajaran Dua Belas Imam dan Syiah Isma'ili, Zaid bin Ali yakin bahwa saatnya sudah tepat untuk melancarkan pemberontakan baru melawan Khalifah Umayyah demi memperjuangkan hak keluarga Bani Hasyim. Dalam perjalanannya ke Irak, kelompok pro-Ali di Kufah meyakinkannya bahwa ia didukung 10.000 prajurit dan dapat dengan mudah mengalahkan ratusan pasukan Umayyah yang ditempatkan di sana. Kufah dulunya adalah ibu kota kakek buyutnya, Ali. Zaid memulai kampanye propaganda di Kufah, Basrah, dan Mosul, hingga berhasil mendaftarkan 15.000 orang ke dalam daftar tentaranya. Namun, gubernur Umayyah di Kufah mengetahui rencana tersebut, lalu memerintahkan warga berkumpul di Masjid Agung Kufah, mengunci mereka di dalam, dan memulai pencarian terhadap Zaid. Zaid bersama pasukannya bergerak menuju masjid sambil menyerukan agar orang-orang keluar.[2]
Namun, seperti yang pernah dialami Husain beberapa dekade sebelumnya, sebagian besar pendukung Zaid di Kufah mengkhianatinya dan malah bergabung dengan Bani Umayyah, meninggalkan Zaid hanya dengan beberapa puluh pengikut yang kalah jumlah. Meski demikian, Zaid tetap bertempur. Pasukannya yang kecil akhirnya dikalahkan oleh pasukan Umayyah yang jauh lebih besar, dan Zaid gugur setelah panah menembus dahinya. Pencabutan panah itu menyebabkan kematiannya. Ia dimakamkan secara rahasia di luar Kufah, tetapi Umayyah berhasil menemukan makamnya, lalu menggali jenazah Zaid dan menyalibkannya sebagai hukuman atas pemberontakan. Mayatnya digantung di tiang salib selama tiga tahun.[2] Setelah Khalifah Hisyambin Abdul Malik wafat, penggantinya memerintahkan pembakaran jenazah Zaid, dan abunya disebar ke Sungai Efrat. Ketika Abbasiyah, yang juga keturunan Bani Hasyim seperti Zaid, berhasil menggulingkan Umayyah pada tahun 750, mereka membalas dendam dengan menggali jenazah Hisyam, menyalibkannya, dan membakarnya.[3]
Konsekuensi
Pemberontakan berani Zaid yang penuh keputusasaan menjadi sumber inspirasi bagi aliran Zaidi, cabang Syiah yang menganggap setiap keturunan Ali yang berilmu dapat menjadi Imam asalkan secara terbuka memperjuangkan haknya, seperti yang dilakukan Zaid (berbeda dengan Syiah lain yang meyakini Imam harus ditunjuk oleh Allah).[4] Meski begitu, semua mazhab Islam, termasuk mayoritas Sunni, mengakui Zaid sebagai syahid sejati yang berjuang melawan kekuasaan Umayyah yang dianggap korup. Bahkan, Abu Hanifah, pendiri mazhab fikih Sunni terbesar, dilaporkan memberikan bantuan keuangan untuk pemberontakan Zaid dan mengajak orang lain untuk bergabung.[5]
Artikel ini tidak memiliki konten kategori. Bantulah dengan menambah kategori yang sesuai sehingga artikel ini terkategori dengan artikel lain yang sejenis.