Partai ini didirikan oleh beberapa politisi seperti mantan wakil presiden partai Gerakan, Huan Cheng Guan, dan politisi independen sekaligus mantan anggota Dewan Undangan Negeri Sarawak untuk Ngemah, Gabriel Adit Demong.[1][2] Berbekal logo sendiri yang diizinkan Kementerian Dalam Negeri, partai ini kalah tipis (selisih 995 suara) dari Barisan Nasional saat ingin mempertahankan kursi DUN Demong walau bertanding di beberapa daerah pemilihan semasa pemilihan umum negara bagian Sarawak 2011. Kemudian partai ini mencoba peruntungan, namun selalu kehilangan deposit, di pemilu Parlemen Malaysia tahun 2013 dan 2018 dengan fokus di negara bagian Pulau Pinang. Pada Pemilu ke-14 partai ini menjalin hubungan dengan Partai Islam Se-Malaysia (PAS) sebagai rekan eksternal koalisi Gagasan Sejahtera. Huan Cheng Guan setelah itu sempat berikrar mundur dari politik karena kegagalannya menggagalkan Lim Guan Eng dan Pakatan Harapan memerintah negara bagian Pulau Pinang.[3] Namun hal itu nampaknya tidak terlaksana, karena Huan Cheng Guan tetap aktif di media sosial Facebook mengkritik Pakatan Harapan, bahkan berikrar setia mendukung Barisan Nasional sebagai anggota koalisi longgar Friends of BN.[4]
Gerakan Reset Malaysia
Secara terpisah, konflik internal Partai Pribumi Bersatu Malaysia berkecamuk pada tahun 2025. Anggota Dewan Rakyat Malaysia dari Tasek Gelugor Wan Saiful Wan Jan mengumpulkan petisi dari 120 kepala DPD yang meminta agar Muhyiddin Yassin menyiapkan proses transisi untuk kepemimpinan Hamzah Zainudin yang akan mendatang.[5] Seruan yang sama juga dilontarkan pada kongres partai pada 2025 dari delegasi yang tidak dikenal berteriak "Turun Tan Sri!" sebelum dibungkam oleh loyalis Muhyiddin yang lebih banyak. Untuk mengelak tuduhan, saat itu Hamzah menegaskan ia adalah "pembela Muhyiddin nomor 1"[6]. Pada pertengahan Oktober 2025, BERSATU mulai memecat dan melakukan skorsing terhadap beberapa tokoh seperti Wan Saiful dan Mantan Wakil Menteri Olahraga Wan Ahmad Fayshal (Machang) dari partai, disusul oleh langkah-langkah serupa secara bertahap terhadap anggota Dewan Rakyat dan Dewan Undangan Negeri yang dianggap bersekongkol dengan mereka.[7]
Hal ini berujung terhadap pemecatan Hamzah Zainudin dari partai pada 13 Februari 2026. Ia kemudian bertemu dengan Presiden Partai Islam Se-Malaysia Abdul Hadi bin Awang,[8] beserta rombongan yang Hamzah klaim sebagai mayoritas pemimpin DPD BERSATU serta 19 anggota Dewan Rakyat fraksi BERSATU yang masih aktif maupun dipecat, termasuk Wan Saiful, Wan Ahmad Fayshal, Saifuddin Abdullah (Indera Mahkota), Fathur Huzir Ayob (Gerik), dan Azahari Hasan (Padang Rengas) di sebuah acara yang bertajuk "Pengumuman Haluan dan Reset Politik ".[9] Program ini diadakan untuk membangun "rumah baru" yang lebih kuat daripada struktur politik yang ada, mereformasi sistem administrasi dan hukum negara, menyatukan masyarakat dari berbagai ras, agama, dan wilayah untuk kemakmuran bersama, mendistribusikan kekayaan negara secara lebih adil, dan meningkatkan pelayanan pemerintah. Selain itu, Hamzah juga menyatakan bahwa Presiden BERSATU Muhyiddin Yassin adalah "musuh nomor 1"-nya. Manuver politik Hamzah Zainudin dipandang sebagai gerakan pro-PAS, menambahkan perselisihan antara PAS dan BERSATU yang sebelumnya memanas pada saat krisis politik Perlis 2025. Fraksi ini menamai diri mereka sebagai Faksi Reset Malaysia dan menjauhkan diri dari BERSATU.[10]
Upaya lanjutan untuk melakukan rekonsiliasi antara BERSATU dan PAS gagal dan PAS memutuskan untuk memutuskan hubungan kerja sama dengan BERSATU pada 8 Juni 2026.[11] Setelah pengumuman tersebut, Gerakan Reset Malaysia bertransformasi menjadi partai WAWASAN pada 13 Juni 2026. Hamzah menyatakan bahwa nama WAWASAN merupakan nama yang diberikan oleh Abdul Hadi Awang.[12] Deklarasi partai dihadiri oleh Ketua Perikatan Nasional Ahmad Samsuri Mokhtar yang kemudian memberikan izin untuk WAWASAN untuk maju di pemilu dibawah Perikatan Nasional.[13] Menjawab keraguan sebelumnya bahwa partai bernama WAWASAN sedang didaftarkan partai lain dari Sarawak, Hamzah Zainudin menyatakan partai yang akan didirikan bukan mendaftarkan diri sebagai partai baru, tetapi mengambil alih partai yang sudah ada.[14] Pada 20 Juni 2026 Hamzah menghadiri kongres luar biasa Parti Cinta Malaysia yang mengesahkan serah terima partai kepada Hamzah dan tim Gerakan Reset.[15]
Pada 23 Juni 2026, Ketua Perikatan Nasional Ahmad Samsuri Mokhtar menyatakan bahwa WAWASAN sambil menunggu keputusan registrasi partai akan masuk ke Perikatan Nasional sebagai Partai Cinta Malaysia.[16]