Yuan Shikai adalah salah satu penentang terpenting Partai Royalis, yang pertama sebagai saingan politik selama Revolusi Xinhai, yang kedua ketika menjadi Presiden Tiongkok.
Pehimpunan Konstitusionalisme Monarki (Hanzi:君主立憲維持會; Pinyin:Jūnzhǔ Lìxiàn Wéichí Huì), lebih dikenal dengan sebutan Partai Royalis (Hanzi:宗社黨; Pinyin:Zōngshèdǎng; Wade–Giles:Tsung-she-ta), adalah gerakan politik monarkis, partai dan organisasi militan pada awal Republik Tiongkok. Meskipun tidak memiliki struktur organisasi yang kuat dan terdiri dari faksi-faksi yang tidak terlalu terikat, Partai Royalis memainkan peran utama dalam politik Tiongkok selama tahun 1910-an. Didukung oleh Kekaisaran Jepang, anggota Partai Royalis berulang kali berkonspirasi untuk memulihkan monarki, melancarkan pemberontakan dan berusaha memisahkan Mongolia Dalam dan Manchuria dari Tiongkok.
Partai Royalis ini disebut dengan berbagai nama oleh beberapa sumber, seperti Partai loyalis Manchu,[1]Partai Restorasi,[2]Partai Klan Kekaisaran,[3][4][5]Partai Reaksioner,[6]Partai Penguasa Rumah Tangga Kuil Leluhur,[7] dan Partai Sekte Aisin Goro.[8]
Ideologi
Tujuan utama Partai Royalis adalah untuk menjaga kuil leluhur Dinasti Qing dan institusi keagamaan lainnya,[9] walaupun mereka juga ingin mempertahankan sistem monarki,[10] dan kemudian ingin meruntuhkan sistem republik.[11] Loyalis Dinasti Qing secara umum memprediksi bahwa eksperimen republik di Tiongkok hanya menunggu waktu untuk gagal secara total.[12] Pada 1912, partai ini pecah menjadi dua kubu. Walaupun kedua kubu tersebut bersatu dalam perlawanan mereka terhadap Yuan Shikai, kedua kubu memiliki pandangan berbeda dalam sebagian pandangan. Kubu ekstremis hanya menginginkan keluarga Aisin Gioro, keluarga penguasa Dinasti Qing, untuk melanjutkan posisi mereka sebagai kaisar Tiongkok. Sementara kubu moderat lebih terbuka untuk menyerahkan Tahta Naga kepada keluarga bangsawan Manchu atau Han lainnya.[13]