Partai Komala Kurdistan Iran (Kurdi: كۆمهڵهی شۆڕشگێڕی زهحمهتكێشانی كوردستانی ئێرانcode: fa is deprecated , romanized:Komełey Şorrişgêrrî Zehmetkêşanî Kurdistanî Êran, har.'Perhimpunan Kaum Pekerja Revolusioner Kurdistan Iran'code: ku is deprecated ), yang umum disingkat menjadi Komalah (Kurdi: Komełecode: ku is deprecated ; Persia: کوملهcode: fa is deprecated ), adalah partai etnis Kurdi berhaluan sosial-demokrat di Iran.[1][2][3][4][5] Sebelumnya memiliki hubungan dengan Marxisme-Leninisme dan komunisme,[6][7][8] Komalah merupakan partai yang telah mapan dengan sejarah lebih dari lima dekade. Markas besar Partai Komala saat ini berada di Wilayah Kurdistan, Irak. Mereka memiliki sayap bersenjata yang memiliki sejarah memimpin perlawanan Kurdi. Komalah mendukung anti-imperialisme dan penentuan nasib sendiri bagi bangsa Kurdi.[9]
Tidak diketahui secara pasti kapan organisasi ini mulai beraktivitas.[12] Menurut penuturan Abdullah Mohtadi, ia ikut mendirikan kelompok tersebut pada 27 Oktober 1969 dalam sebuah pertemuan rahasia bersama enam mahasiswa Kurdi lainnya di Teheran.[13] Pernyataan ini dibantah oleh Hussein Moradbegi dan Iraj Farzad, dua pendiri lainnya, yang menyatakan bahwa kelompok tersebut secara resmi lahir pada 26 Januari 1979. Abbas Vali berpendapat bahwa pandangan terakhir lebih tepat, karena organisasi yang didirikan pada 1969 tidak memiliki identitas etnis yang spesifik dan tidak memiliki sikap mengenai Kurdistan, sementara anggota-anggota Kurdi dari organisasi sebelumnya — Foad Mostafa Soltani, Mohammad Hossein Karimi, Abdollah Mohtadi, Tayeb Abbas Ruh Illahi, Mohsen Rahimi, Ibrahim Alizade, Sa’ed Vatandoust, Hussein Moradbagi, Omar Ilkhanizadeh, dan Iraj Farzad — kemudian membentuk sebuah pecahan organisasi baru.[14]
Ideologi
Kelompok ini secara ideologis berhaluan Marxis-Leninis, sehingga memandang dirinya sebagai gerakan revolusioner yang melampaui batas-batas etnis, berbeda dengan rivalnya, Partai Demokrat Kurdistan Iran.[15] Partai Komala mengklaim mendukung sosial demokrasi, federalisme, dan sekularisme di Iran.[16] Pada dekade pertama aktivitasnya, kelompok ini didominasi oleh paham Maois[15] dan mengadopsinya sebagai strategi mobilisasi untuk merekrut kalangan petani dan kelas bawah perkotaan.[17]Michael Gunter menyatakan bahwa, terinspirasi oleh Revolusi Komunis Tiongkok, mereka menjadi Maois dan memandang nasionalisme Kurdi sebagai sesuatu yang sempit dan terbatas.[18]
Namun, pada kongres pertamanya yang diselenggarakan pada 1979, ideologi tersebut ditinggalkan karena dianggap "tidak sesuai dengan kondisi Kurdi di Iran".[15] Pada 1981, kelompok ini memulai kritik diri terhadap masa lalunya dan menyimpulkan bahwa yang mereka butuhkan adalah "hubungan yang kuat dengan proletariat".[19]
Pada 2000, ketika partai mengklaim telah dibentuk kembali, mereka mengkritik sejumlah laporan kepada kongres ke-8 CPI pada 1995 karena dianggap tidak tepat dari sudut pandang Marxis dan memberikan terlalu banyak keistimewaan kepada kelompok nasionalis borjuis. Sabah Mofidi menggambarkan posisi partai tersebut dalam spektrum politik pada 2016 sebagai "kiri radikal", seraya menambahkan bahwa "sejalan dengan perubahan yang tercipta dalam pemikiran praktis Marxisme dan memang Marxisme pribumi yang disesuaikan dengan kondisi ruang dan waktu berbagai masyarakat, partai ini menjadi lebih pragmatis dan mengambil langkah menuju realisme".[20]
Saat ini, partai tersebut merupakan anggota Aliansi Progresif,[21] yang dibentuk pada 2013 sebagai asosiasi internasional partai-partai sosial demokrat dan sosialis.[22]
↑Akbarzadeh, Shahram; Shahab Ahmed, Zahid; Laoutides, Costas; Gourlay, William (2019). "The Kurds in Iran: balancing national and ethnic identity in a securitised environment". Third World Quarterly. 47 (3): 1145–1162. doi:10.1080/01436597.2019.1592671. ISSN1360-2241. S2CID159392674.
↑Hussein Tahiri (2007). The Structure of Kurdish Society and the Struggle for a Kurdish State. Bibliotheca Iranica: Kurdish studies series. Vol.8. Mazda Publications. hlm.144. ISBN9781568591933.
↑Ezzatyar, Ali (2016), The Last Mufti of Iranian Kurdistan: Ethnic and Religious Implications in the Greater Middle East, Springer, hlm.35, ISBN9781137563248
↑Ezzatyar, Ali (2016), The Last Mufti of Iranian Kurdistan: Ethnic and Religious Implications in the Greater Middle East, Springer, hlm.104, ISBN9781137563248
123Entessar, Nader (2010). Kurdish Politics in the Middle East. Lanham: Lexington Books. hlm.49–50. ISBN9780739140390. OCLC430736528.
↑"Komala Party of Iranian Kurdistan". komalainternational.org. Komala is a social democratic political party from the Kurdish region of Iran. Komala has been seeking a secular democratic federal ruling system to replace the current theocratic regime.
↑Romano, David (2006). The Kurdish Nationalist Movement: Opportunity, Mobilization and Identity. Cambridge Middle East studies, 22. Cambridge University Press. hlm.233. ISBN978-0-521-85041-4. OCLC61425259.
↑Gunter, Michael M. (2009). The A to Z of the Kurds. Scarecrow Press. hlm.102. ISBN9780810863347.
↑Kreyenbroek, Philip G.; Sperl, Stefan, ed. (2005). The Kurds: A Contemporary Overview. Routledge. hlm.143. ISBN9781134907663.
↑Mofidi, Sabah (June 2016), "The Left Movement and National Question: From Romanticism to Realism (With a Focus on Komala Organization)", Journal of Ethnic and Cultural Studies, 3 (1), Istanbul: Yildiz Technical University: 20–48, doi:10.29333/ejecs/48, ISSN2149-1291
↑"Parties & Organisations". Progressive Alliance (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2020-10-09.
↑"Agenda (en)". Progressive Alliance (dalam bahasa American English). Diarsipkan dari asli tanggal 2017-03-15. Diakses tanggal 2020-10-09.