Pan-Iranisme (Persia: پانایرانیسمcode: fa is deprecated ) adalah ideologi nasionalis yang menekankan persatuan budaya, sejarah, dan identitas bersama seluruh bangsa Iran, baik di Iran maupun di wilayah lain yang secara historis dan etnolinguistik termasuk dalam lingkup peradaban Iran. Ideologi ini bertujuan mempererat hubungan sosial dan budaya antarmasyarakat Iranik.[1]
Namun, terdapat beberapa aliran dari bentuk pan-nasionalisme ini yang mendorong pandangan dan ambisi irredentis, yaitu dengan menuntut penyatuan wilayah seluruh tanah yang dihuni bangsa Iran di Asia Barat, Kaukasus, Asia Tengah, dan Asia Selatan. Secara lebih khusus, kaum pan-Iranis radikal umumnya berpandangan bahwa batas-batas historis Iran, seperti wilayah Kekaisaran Akhemeniyah kuno, harus dipulihkan sejauh memungkinkan agar bangsa-bangsa Iran dipersatukan lebih dekat di bawah satu negara.[2]
Asal-usul dan ideologi
Ilmuwan politik Iran Mahmoud Afshar mengembangkan ideologi pan-Iranis pada awal dekade 1920-an sebagai bentuk oposisi terhadap pan-Turkisme dan pan-Arabisme, yang dipandang sebagai ancaman potensial terhadap keutuhan wilayah Iran. Ia juga menunjukkan keyakinan kuat terhadap karakter nasionalis bangsa Iran sepanjang sejarah panjang negara tersebut.[3]
Menjelang Perang Dunia I, kaum pan-Turkis memusatkan perhatian pada wilayah-wilayah berbahasa Turk di Iran, Kaukasus, dan Asia Tengah.[4] Tujuan akhirnya adalah membujuk penduduk di wilayah-wilayah tersebut untuk memisahkan diri dari entitas politik yang lebih besar tempat mereka berada dan bergabung dengan tanah air pan-Turkis yang baru. Justru seruan terakhir kepada orang Azerbaijan Iran ini, yang bertentangan dengan maksud kaum pan-Turkis, menyebabkan sekelompok kecil intelektual Azerbaijan menjadi pendukung paling kuat bagi keutuhan wilayah Iran. Setelah Revolusi Konstitusional di Iran, nasionalisme romantik diadopsi oleh kaum Demokrat Azerbaijan sebagai reaksi terhadap kebijakan irredentis pan-Turkis yang mengancam integritas teritorial Iran. Pada masa inilah Iranisme dan kebijakan homogenisasi bahasa diusulkan sebagai langkah defensif terhadap pihak-pihak lain. Berlawanan dengan dugaan umum, para pelopor utama nasionalisme defensif ini justru berasal dari kalangan Azerbaijan Iran. Mereka memandang bahwa menjamin keutuhan wilayah negara merupakan langkah pertama untuk membangun masyarakat yang berdasarkan hukum dan negara modern. Dalam kerangka ini, kesetiaan politik mereka melampaui afiliasi etnis dan regional mereka. Penerapan kebijakan integrasionis tersebut membuka jalan bagi munculnya nasionalisme budaya kelompok etnis utama negara.[4]
↑Ahmadi, Hamid (2020). "Nationalism in Iran". Dalam Kamrava, Mehran (ed.). Routledge Handbook of Persian Gulf Politics. Routledge. hlm.265–279.
↑ Leonard, Binder, ed. (1999). Ethnic conflict and international politics in the Middle East. University Press of Florida. p. 22. ISBN 978-1-4039-8141-7. Pan-Iranism had a brief ideological life among a small group of Iranian fascists, but has fizzled and seems unlikely to gain new life. Like pan-Turkism, its essential aims are irremediably irredentist, evoking images of Nazi-era expansionism.”
↑AHMAD ASHRAF, "IRANIAN IDENTITY IN THE 19TH AND 20TH CENTURIES", Encyclopedia Iranica. Also accessible here:[pranala nonaktif permanen]. (Afšār, p. 187)"
12Touraj Atabaki, "Recasting Oneself, Rejecting the Other: Pan-Turkism and Iranian Nationalism" in Van Schendel, Willem(Editor). Identity Politics in Central Asia and the Muslim World: Nationalism, Ethnicity and Labour in the Twentieth Century. London, GBR: I. B. Tauris & Company, Limited, 2001.