Pahlavisme (Persia: پهلویسمcode: fa is deprecated , [pæhlæˈviːsm]) adalah ideologi nasionalis dan monarkis Iran yang terkait dengan pemerintahan Dinasti Pahlavi di Iran (1925–1979). Ideologi ini memadukan modernisasi yang dipimpin negara,[1]nasionalisme Iran yang menekankan masa lalu pra-Islam negara tersebut,[2] serta negara yang sangat tersentralisasi. Meskipun sering digambarkan sebagai pro-Barat, para akademikus mencatat bahwa pada fase akhirnya ideologi ini semakin menekankan keaslian budaya dan unsur-unsur retorika anti-Barat yang didukung negara.[3]
Sejarah
Asal-usul
Di bawah Reza Shah, Pahlavisme lebih berupa reformasi praktis daripada ideologi yang dirumuskan secara jelas. Amin Banani mencatat pada tahun 1959 (setelah meninggalnya Reza Shah):
Berbeda dengan Kemal Atatürk, yang reformasinya ia tiru dengan bebas, [Reza Shah] tidak membuat pernyataan publik, tidak menulis artikel, dan tidak meninggalkan wasiat yang keseluruhannya dapat dianggap sebagai program atau inti ideologis revolusinya. Kita tidak dapat berbicara tentang Pahlavisme sebagaimana kita berbicara tentang Kemalisme.[4]
Namun, pada masa pemerintahan Mohammad Reza Pahlavi, monarki berupaya mengembangkan struktur ideologis yang lebih terkodifikasi. Pahlavisme muncul sebagai kerangka yang khas, terutama berkembang pesat setelah kudeta tahun 1953. Berbeda dari pemerintahan tradisional, ideologi ini berusaha mengubah mahkota menjadi institusi modernis yang mampu bersaing dengan ideologi kiri radikal dan Islamis.[5]
Menurut Zhand Shakibi, perkembangan ini mengubah monarki dari sekadar penjamin stabilitas menjadi kekuatan "revolusioner" selama Revolusi Putih.[6] Ideologi tersebut dibangun di atas konsep "Raja-Filsuf", di mana Shah dipresentasikan sebagai pemimpin politik sekaligus pembimbing intelektual, yang berakar pada gagasan Iran kuno tentang farr-e izadi (kemuliaan ilahi).[7][8]
Pilar inti
Shakibi mengidentifikasi sejumlah pilar mendasar yang mendefinisikan Pahlavisme sebagai suatu aliran ideologi modern:[9]
Arkaisme dan Nasionalisme: Ideologi ini menekankan warisan pra-Islam Iran, khususnya Kekaisaran Akhemeniyah, untuk membentuk identitas nasional yang independen dari pengaruh ulama Islam. Hal ini dicontohkan oleh perayaan 2.500 tahun Kekaisaran Persia pada tahun 1971.[10]
Modernisasi yang Dipimpin Negara: Pahlavisme mendorong gagasan bahwa hanya monarki yang kuat yang dapat bertindak sebagai agen utama perubahan sosial-ekonomi dan membawa Iran menuju "Peradaban Besar".[11]
Sekularisme: Meskipun tidak secara terang-terangan antiagama, ideologi ini berusaha meminggirkan kekuasaan politik ulama dengan mempromosikan negara sebagai satu-satunya sumber hukum dan pedoman sosial.[12]
Referensi
↑Pullapilly 1980, hlm.117: "Modernization was pervasive in the ideology of the state in the Middle East, whether it be Arab Socialism, Pahlavism, or Ataturk's Etatism."
Shakibi, Zhand (2018). "The Rastakhiz Party and Pahlavism: the beginnings of state anti-Westernism in Iran". British Journal of Middle Eastern Studies. 45 (2): 251–268. JSTOR48541228.
Shakibi, Zhand (2013). "Pahlavīsm: The Ideologization of Monarchy in Iran". Politics, Religion & Ideology. 14 (1): 114–135. doi:10.1080/21567689.2012.751911.
Grigor, Talinn (2004). "Recultivating "Good Taste": The Early Pahlavi Modernists and Their Society for National Heritage". Iranian Studies. 37 (1): 17–45. JSTOR4311590.