Gelanggang Pacuan Kuda Pulomas adalah sebuah gelanggang pacuan kuda yang pernah ada di Pulo GadungJakarta Timur, Indonesia. Pacuan kuda ini beroperasi sejak tahun 1971 hingga penutupannya di tahun 2016. Arena pacuan kuda ini sekarang sudah digantikan oleh Jakarta International Equestrian Park.
Sejarah
Gelanggang Pacuan Kuda Pulomas dikembangkan pada akhir tahun 1960-an di bawah Gubernur Jakarta pada masa itu Ali Sadikin sebagai bagian dari proyek modernisasi kota Jakarta. Proyek ini menempati sekitar 86 hektar lahan milik Yayasan Perumahan Pulo Mas sebagai salah satu bagian proyek besar kota satelit Jakarta. Pemerintah provinsi Jakarta memulai pembangunan arena pacuan kuda ini, yang diresmikan oleh Ali Sadikin pada 21 April 1970 dan dibuka untuk umum pada bulan Agustus tahun 1971.[1] Gubernur Ali Sadikin juga bermitra dengan Alex Kawilarang, perwira TNI dan pendiri cikal bakal Kopassus, untuk menjabat sebagai wakil manajer umum Djakarta Racing Management, badan pengelola pacuan kuda tersebut.[2]
Proyek ini memiliki kaitan dengan hubungan bilateral Indonesia dengan Australia. Menurut laporan tahun 1971 di majalah mingguan The Bulletin, proyek tersebut menelan biaya sekitar 10 juta dolar Australia dan dibiayai melalui Djakarta Racing Club Investments Ltd., sebuah perusahaan patungan Australia-Indonesia yang dipimpin oleh pengusaha asal Melbourne, Ron Dabscheck, dengan dukungan pelatih kuda ternama Australia Bart Cummings dan investor lainnya. Perusahaan tersebut memiliki kontrak 15 tahun untuk mengelola lintasan, menyediakan 600 kuda (200 di antaranya telah diterbangkan dari Victoria, Australia), joki, pelatih, penangan, dan manajer.[3]
Pacuan Kuda Pulomas dilaporkan mengalami kerugian berturut-turut, yang menyebabkan Djakarta Racing Club Investments Ltd. menarik investasinya pada pertengahan tahun 1970-an. Awalnya, Gubernur Ali Sadikin mengusulkan pemberian subsidi bulanan sebesar 12 juta rupiah, tetapi dianggap tidak cukup untuk memenuhi untuk biaya operasional. Pada tahun 1979, PT Amirin Ria ikut mengelola lapangan pacuan kuda Pulomas dan membangun "arena ketangkasan" di lantai dua gedung tersebut.[4] Akan tetapi, pengelolaan PT Amirin Ria harus dihentikan pada tahun 1981, ketika pemerintah Indonesia sepenuhnya melarang perjudian di seluruh negeri.[5]
Pacuan Kuda Pulomas menjadi tempat penyelenggaraan berbagai pacuan kuda terkenal dan mengalami masa keemasannya pada tahun 1990-an. Pacuan kuda ini juga menjadi saksi kemenangan tiga pemenang Tiga Mahkota Indonesia, yakni Mystere (1978), Manik Trisula (2002), dan Djohar Manik (2014).[6][7]
Pada awal tahun 2010-an, beberapa bagian fasilitas tempat tersebut nampak terbengkalai dan tidak terawat, ditambah lagi dengan banjir yang rawan terjadi di daerah tersebut, terutama pada tahun 2007.[8][9]
Pada tahun 2016, Pacuan Kuda Pulomas dan area sekitarnya dimasukkan dalam rencana pembangunan kembali perkotaan Jakarta bersama dengan Kalijodo, Penjaringan, dan Bukit Duri. Proyek ini bertujuan untuk merevitalisasi lokasi tersebut sebagai bagian dari pembangunan arena berkuda untuk Asian Games 2018. Proyek ini membutuhkan pembersihan sebagian lintasan pacuan kuda beserta permukiman di sekitar arena. Akibatnya, para penduduk yang tinggal di sana yang merupakan atlet, pelatih, dan pemilik kuda harus segera dipindahkan ke rusun di Pulo Gebang. Langkah ini menuai banyak kritik mulai dari penduduk setempat hingga PORDASI.[10] Meskipun demikian, arena pacuan kuda ditutup pada pertengahan tahun 2016.[11]
Kontroversi
Perjudian
Salah satu kebijakan Gubernur Ali Sadikin yang terkenal kontroversial, terutama di kalangan umat Muslim, yakni mengizinkan perjudian di kota Jakarta dengan memungut pajaknya untuk pembangunan kota Salah satu 'tempat aman perjudian' tersebut termasuk Pacuan Kuda Pulomas.[12] Pada masa pembangunannya, proyek ini dinilai sensitif secara politik karena hubungannya dengan perjudian.[3]
Setelah larangan perjudian nasional pada tahun 1981, taruhan di Pacuan Kuda Pulomas tidak lagi diizinkan secara resmi.[13] Meskipun begitu, praktik kegiatan perjudian diam-diam terus berlanjut.[14]
References
↑Bimantara, Johannes Galuh (August 27, 2018). "Kisah Pulau di Tengah Kota". Kompas. kompas.id. Diakses tanggal 2025-10-21.
↑Sadikin, Ali; Hadimadja, Ramadhan Karta Hadimadja (1992). Bang Ali demi Jakarta (1966-1977): memoar. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. hlm.534.
↑"Pulo Mas, Ketangkasan Atau Apa?". Tempo. 21 April 1979 – via Pusat Data dan Analisa Tempo (2020). Cerita Pacuan Kuda Pulo Mas, Tempo Doeloe dan Sekarang. Jakarta: TEMPO Publishing, pp. 24–30.
↑"Pelaksanaan Penertiban Perjudian". Peraturan Pemerintah (PP)per. Vol.9. Pemerintah Pusat Indonesia. JDIH BPK. Diakses tanggal 2025-10-29.