Artikel ini terisolasi dan sulit untuk dicari, artinya hanya artikel-artikel sejenis dan tertentu saja yang terhubung dengan halaman ini. Bantulah menambah pranala ke artikel ini dari artikel dengan topik yang lebih besar.
Djohar Manik (lahir pada tanggal 22 September 2010) merupakan kuda pacu Indonesia yang menjadi juara ketiga Indonesian Triple Crown pada tahun 2014 (1978 dimenangkan oleh Mystere, 2002 dimenangkan oleh Manik Trisula, 2014 dimenangkan oleh Djohar Manik, 2025 dimenangkan oleh King Argentin. Dia dikenal sebagai kuda pacu yang sangat hebat, menang 37 kali dari 41 pacuan yang dia ikuti.
Latar belakang
Djohar Manik adalah kuda betina berwarna cokelat dengan tanda putih di dahi yang dibesarkan di Indonesia oleh Lala Stable. Ia lahir di Boyolali pada 22 September 2010.[2][3]
Ayahnya adalah Tuscaloosa, anak dari Haayil, dan ibunya adalah Mini Satria, anak dari Liberty. Ia merupakan keturunan Northern Dancer melalui ayahnya, seekor kuda asal Selandia Baru. Munawir (pemilik Djohar Manik) mengambil nama Djohar Manik dari nama protagonis dalam literatur sastra Melayu Jauhar Manikam yang merupakan seorang putri dari Timur Tengah. Dalam sebuah wawancara, ia dikatakan telah membeli Mini Satria, induk Djohar Manik, dari Munir Prawoto, pemilik kandang kuda dari Boyolali.[3] Tidak lama setelah kelahirannya, kepemilikannya dialihkan ke Tombo Ati Stable. Djohar Manik dimiliki bersama oleh Aragon dan Tombo Ati Stable. [4]
Karier pacu
Pada Maret 2013, Djohar Manik melakukan debutnya di Sirkuit Pulomas, Jakarta Timur. Pada awal musim balap 2014, selama balapan Jateng Derby, dia melarikan diri dari gerbang start dan berlari langsung menuju kandangnya, menghindari penangkapan dan memaksanya mundur dari balapan. Dia membuktikan dirinya dengan memenangkan balapan berikutnya di A.E. Kawilarang Memorial Cup. Ia kemudian berhasil memenangkan ketiga balapan dalam seri Indonesian Triple Crown, menjadi kuda ketiga yang meraih gelar pemenang Indonesian Triple Crown.
Selain kemenangannya di Indonesian Derby, Djohar Manik juga dikenal telah memenangkan tiga gelar Star of Stars (2015, 2017, 2018) dan dua gelar Super Sprint (2014, 2016). Pada Pekan Olahraga Nasional (PON XIX) 2016 di Jawa Barat, ia berkompetisi bersama joki-nya, Jendri Turangan, dan meraih medali emas setelah finis pertama di Sirkuit Balap Legokjawa, Pangandaran.
Pada Paku Alam Cup 2018, joki seniornya, Jendri Turangan mengalami cedera sebelum acara tersebut, dan kemudian digantikan oleh Angel Manarisip. Pada tahun yang sama, kontingen Jawa Tengah, di mana ia menjadi perwakilan, keluar sebagai pemenang overall Piala Presiden (Piala Presiden) dalam Kejurnas Series 2 2018.
Masa pensiun dan kematian
Djohar Manik pensiun dari dunia pacuan kuda pada tahun 2019.
Pada tahun 2024, tahun yang sangat sulit dan menyedihkan bagi Munawir dan keluarganya. Djohar Manik harus meninggalkan dunia pacuan kuda selamanya. Djohar Manik mati karena laminitis yaitu peradangan jaringan tanduk kuku yang disebabkan oleh gangguan sirkulasi darah. Pada waktu itu Djohar Manik sedang mengandung seekor anak kuda oleh seorang kuda pejantan yang bernama Leonardo Eclipse.
Silsilah
Silsilah dari Djohar Manik, lahir pada bulan September 22, 2010 Boyolali, Indonesia[2]