Pembatalan PON VI mengakibatkan penundaan penetapan tuan rumah PON VII. KONI Pusat mengadakan MUSORNAS pertama di Jakarta tetapi belum berhasil menetapkan kota mana yang akan menjadi tuan rumah PON VII. Baru pada sidang KONI paripurna pertama pada tanggal 26 - 29 Februari 1968 ditetapkan Banjarmasin sebagai kota penyelenggara PON VII.
Akan tetapi Kalimantan Selatan tidak sanggup memikul tugas berat tersebut. Didahului oleh berbagai pertimbangan dan perhitungan yang timbul pada perundingan antara KONI Pusat dan Direktorat Jendral Olahraga pilihan akhirnya dijatuhkan kepada Surabaya.
Dalam PON kali ini, tradisi pawai bendera PON diganti menjadi pawai obor api PON. Hal ini mengikuti tradisi obor api Olimpiade. Adapun api yang terpilih untuk PON VII berasal dari desa Larangan Tokol, Tlanakan, Pamekasan yang terletak di Pulau Madura. Ada pun atlet yang membawa obor api dalam upacara pembukaan PON VII adalah J. H. Serhalawan yakni atlet berjasa dari Jawa Timur.[1]