Ouro Preto yang berarti "emas hitam" dibentuk dan berkembang setelah penemuan emas di wilayah tersebut sekitar tahun 1698, dan kota ini dinamai demikian karena warna emas hitam yang ditemukan di daerah itu. Lebih dari satu abad sebelum Demam Emas melanda Australia atau Amerika Serikat, Minas Gerais sudah jauh lebih berkembang. Hingga akhir abad ke-18, tambang-tambang di Minas Gerais menghasilkan sekitar separuh produksi emas dunia. Banyak pihak menyebut Ouro Preto sebagai "mahkota permata" dari negara bagian Minas Gerais, sebuah bekas wilayah pertambangan emas yang sering kali terabaikan. Pada pertengahan abad ke-18, kota ini berada pada posisi strategis untuk menjadi salah satu pusat dunia dalam hal populasi dan kekayaan, dengan jumlah penduduk sekitar 110.000 jiwa, dibandingkan dengan 50.000 jiwa di New York dan 20.000 jiwa di Rio de Janeiro pada masa yang sama[2][3]
Sejarah Ouro Preto mencerminkan perkembangan Brasil secara lebih luas. Kota ini mencapai puncak kejayaannya selama Ciclo do Ouro, ketika menjadi pusat Inconfidência Mineira, sebuah gerakan separatis yang dipimpin oleh Tiradentes sebagai respons terhadap pajak emas yang tinggi dari Kerajaan Portugis. Kekayaan wilayah tersebut menghasilkan pembangunan gereja-gereja megah, tetapi juga menarik berbagai upaya kriminal, termasuk serangan oleh bandit yang dipimpin oleh Vira-saia terhadap pedagangternak yang membawa emas menuju Portugal. Untuk mengurangi ancaman ini, dibangunlah Estrada Real atau Jalan Raya Kerajaan, yang menghubungkan Ouro Preto dengan Paraty dan Rio de Janeiro. Kota ini juga mempertahankan jejak budaya Afrika yang kuat, terlihat melalui praktik Capoeira, Congados, dan sinkretismeagama, yang diwariskan dari para budak kulit hitam yang bekerja di pertambangan. Chico Rei menjadi tokoh penting dalam sejarah lokal, setelah membeli kebebasannya dan menjadi pemilik tambang emasnya sendiri, yang dikenal sebagai Mina do Chico Rei. Penurunan produksi emas pada akhir abad ke-18 menyebabkan sebagian besar penduduk meninggalkan kota. Migrasi ini membantu melestarikan pusat sejarah Ouro Preto, yang kini menjadi salah satu contoh arsitektur Barok terbesar di dunia dan diakui sebagai Situs Warisan Dunia sejak 1980. Karya-karya seniman seperti Aleijadinho dan Master Ataíde menjadi bagian penting dari warisan budaya kota ini. Ouro Preto juga menjadi inspirasi bagi penyair dan seniman, serta menjadi bagian dari legenda dan cerita lokal yang terus diwariskan dari generasi ke generasi. Kota ini muncul dalam puisiTomás Antônio Gonzaga dan karya seni seperti kanvas Guignard.[4]
Keaslian
Bangunan-bangunan keagamaan dan sipil di Ouro Preto, beserta karya seni yang terkait dengannya, masih mempertahankan bentuk, desain, material, dan ciri khas lingkungannya. Pertumbuhan kota yang dikendalikan dan pembatasan ukuran pembangunan baru telah menjaga tampilan lanskap perkotaan abad ke-18 dan ke-19, sehingga sebagian besar wilayah bersejarah tetap utuh. Penyesuaian pada bangunan hunian dan komersial memang terjadi, tetapi tampilan bersejarahnya tetap dipertahankan. Upaya pelestarian yang dilakukan pemerintah federal dan didukung pemerintah daerah, melalui aturan perencanaan kota serta proyek konservasi dan restorasi yang berkelanjutan, telah berhasil menjaga keaslian warisan budaya ini.[5]