Pada zaman kolonialisme Belanda di Indonesia, orang-orang dari Indonesia Timur, seperti Minahasa, Maluku, dan Flores, dianggap sebagai martial race (bangsa petarung) seperti beberapa orang Afrika (Belanda Hitam) sehingga disukai oleh pemerintah kolonial Belanda untuk dipekerjakan menjadi tentara dalam Koninklijke Nederlandsch Indische Leger.[3] Hal ini dapat dibuktikan dengan representasi yang lebih besar dalam keanggotaannya dibandingkan jumlah populasinya di Hindia Belanda. Pada tahun tahun 1916 personel KNIL asal Jawa sebanyak 17.854, sementara orang Manado 5.000 dan Ambon 4.000 orang.[4] Sedangkan pada tahun 1929, junlah serdadu KNIL berupa orang Jawa 16.873, orang Eropa 8.008, orang Ambon (Maluku) 4.314, orang Manado 5.600, orang sunda 1.787, orang Timor 1.406. Beberapa kelompok kecil lainnya berupa orang Madura 141, orang Bugis 108, orang Melayu 234, orang Aceh 96, dan orang Tionghoa 1.[5]
Stereotip perilaku
Orang Indonesia Timur dikenal dengan sifatnya yang tegas, pemberani, bersuara lantang, dan terkadang dikenal temperamental.[6][7] Selain sifat diatas, orang Timur juga memiliki sifat kekeluargaan dan setia kawan. Tak heran jika di wilayah perkotaan (khususnya di Pulau Jawa) sering ditemui orang Timur yang hidup secara berkelompok.[8]