Nyadran Gunung Silurah adalah tradisi adat tahunan yang dilaksanakan oleh masyarakat Desa Silurah, Kecamatan Wonotunggal, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Berlangsung selama dua hari, kegiatan ini merupakan bentuk syukur dan permohonan keselamatan kepada Tuhan, sekaligus ajang pelestarian budaya dan penjagaan ekologi setempat.[1]
Sejarah
Nyadran Gunung Silurah diperkirakan telah ada sejak sekitar 500 tahun lalu, bermula sebagai respons terhadap bencana dan wabah yang melanda desa.[1] Menurut cerita lokal, pemimpin adat mendapat petunjuk dalam mimpi untuk menyelenggarakan ritual tahunan pada malam JumatKliwon di bulan Jumadil Awal. Pertama kali diadakan sebagai bentuk tolak bala dan rasa syukur karena hasil panen, tradisi ini kini terus diwariskan secara turun-temurun.[2]
Satu fase ritual menyebutkan jika upacara tidak diselenggarakan, desa pernah mengalami pagebluk—hal ini menjadi pengingat bagi warga akan pentingnya menjaga kelangsungan Nyadran.[3] Pada 2024, tradisi ini secara resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia oleh Kemendikbudristek, menguatkan posisinya sebagai budaya lokal yang berharga.[4]
Pelaksanaan
Ritual Nyadran Gunung Silurah biasanya dimulai pada malam Jumat Kliwon di bulan Jumadil Awal (Jawa). Hari pertama diawali dengan tasyakuran, yaitu kirab hasil bumi oleh warga desa sambil memanjatkan doa di seluruh penjuru wilayah sebagai ungkapan syukur dan permohonan perlindungan.[3] Warga mengenakan pakaian adat dan melantunkan doa bersama dalam prosesi yang akulturatif antara budaya dan spiritualitas Islam.[butuh rujukan]
Keesokan paginya, warga berkumpul di lereng Gunung Ranggakusumo, lokasi yang dianggap sakral, untuk melakukan prosesi utama. Sesepuh desa memimpin penyembelihan kambing kendit, yakni kambing berwarna hitam dengan lingkar putih di dada, sebagai simbol tolak bala dan pemeliharaan hubungan manusia–alam.[2] Setiap tujuh tahun sekali, yang disembelih adalah kebo bule, sapi berbulu putih, menandai momen siklus adat khusus.[butuh rujukan]
Dilanjutkan dengan pendistribusian sesaji—angkatannya antara lain air enam rupa, degan hijau, kembang tujuh rupa, dan tumpeng hitam-putih—yang diletakkan pada beberapa titik ritual. Prosesi dilengkapi dengan doa bersama, pelepasan burung, penanaman pohon, penyebaran benih ikan, pertunjukan wayang kulit dan ronggeng, serta festival jajanan kampung sebagai ungkapan rasa syukur serta upaya menjaga ikatan sosial.[5] Ritual ini juga berfungsi sebagai refleksi nilai ekologis, yaitu warga menghindari penggunaan plastik, menjaga lingkungan sekitar hutan, dan menegaskan keselarasan hidup manusia dengan alam.[butuh rujukan]
Upaya pelestarian
Pelestarian tradisi Nyadran Gunung Silurah dilakukan secara aktif oleh masyarakat Desa Silurah bekerja sama dengan pemerintah Kabupaten Batang. Tradisi ini kini tidak hanya difokuskan sebagai ritual adat, tetapi juga dikembangkan sebagai atraksi budaya dan wisata religi yang menarik minat pengunjung dari berbagai daerah.[6]
Sejak tahun 2020, ritual ini rutin didokumentasikan oleh media lokal dan nasional serta dipromosikan melalui platform digital. Pemerintah daerah juga memberikan dukungan berupa fasilitasi kegiatan budaya, pelibatan seniman lokal, serta penyusunan kalender budaya tahunan.[butuh rujukan]