Nozawana (野沢菜, Brassica rapa var. hakabura) adalah sayuran daun Jepang dari keluarga brassica, sejenis daun lobak. Ini merupakan tanaman dua tahunan yang sering dijadikan acar dan telah dibudidayakan di wilayah Shin'etsu, terutama di desa Nozawaonsen, Distrik Shimotakai, Prefektur Nagano. Nozawana termasuk spesies yang sama dengan lobak umum dan merupakan salah satu varietas daun mustard Jepang.
Juga dikenal sebagai shinshūna (信州菜), sayuran ini dihitung sebagai salah satu dari tiga sayuran acar utama Jepang, bersama takana dan hiroshimana. Setelah Perang Dunia II, budidayanya meluas ke seluruh negeri, dari Hokkaido hingga Kumamoto.
Latar belakang
Nozawana adalah bagian dari keluarga lobak. Saat ini, nozawana dianggap sebagai varietas berbeda yang diturunkan dari lobak (var. hakabura, daun lobak), dan digunakan sebagai sayuran acar tradisional yang dibudidayakan di daerah tersebut (inekokina, haburona, narusawana, chōzenna).[1] Baik lobak putih maupun lobak ungu (lobak Suwa beni, lobak Hososhima, dll.) dianggap memiliki hubungan kekerabatan yang dekat.[2]
Menurut tradisi, antara tahun 1751 dan 1764 tanaman ini dibawa dari pegunungan Kyoto ke desa Nozawaonsen oleh kepala kuil BuddhaKenmeiji, yang tinggal di Nozawa. Sejak itu tanaman tersebut dibudidayakan di daerah itu dan karenanya disebut "Nozawana" (na berarti sayuran dalam bahasa Jepang).[3] Juga dikenal sebagai shinshuuna (信州菜), nozawana merupakan salah satu dari tiga sayuran acar utama Jepang, bersama takana dan hiroshimana.[4]
Lobak di Jepang secara umum dibagi menjadi dua varietas besar: varietas Asia (misalnya bomdong) yang datang melalui Tiongkok dan umum di Jepang bagian barat, serta varietas Eropa (Brassica rapa) yang datang melalui Siberia, banyak ditemui di daerah pegunungan Jepang timur dan memiliki ketahanan dingin yang sangat baik.[5]
Acar nozawana adalah salah satu makanan lokal paling khas di Prefektur Nagano. Nozawana juga digunakan dalam onigiri.[6] Sebelum era Taishō (1912–1926), penduduk setempat menyebut tanaman itu sebagai lobak. Para pemain ski dari kota yang mengunjungi resor ski lokal sangat terkesan dengan lobak acar tersebut hingga mereka menjulukinya “Nozawanazuke”.[4] Sesudah itu, nama Nozawana dan Nozawana acar menyebar ke seluruh negeri. Setelah Perang Dunia II, tanaman ini mulai dibudidayakan secara nasional, dari Hokkaido hingga Kumamoto.[4]
Daunnya berukuran sekitar 60–90 sentimeter. Jika dibiarkan melewati musim dingin tanpa dipanen, tanaman akan menumbuhkan bunga kanola berwarna kuning pada musim semi.[2]