Biografi
Tahun-tahun awal
Novatus Rugambwa lahir pada 8 Oktober 1957, di Bukoba, Teritorial Tanganyika, anak kedua dari pasangan Benedict dan Leocadia Rwechungura. Ia belajar di SD Katolik Nyakatare, Bukoba dari 1964 sampai 1968 dan kemudian Seminari Persiapan Rutabo sampai 1971. Ia meneruskan pendidikan di Seminari Minor Santa Maria, Rubya dari 1972 sampai 1975 dan Seminari Minor Itaga, Tabora dari 1976 sampai 1977. Ia kemudian menjalani setahun memenuhi penugasan militer yang diwajibkan bagi lulusan SMA. Ia belajar filsafat dari 1979 sampai 1981 di Seminari Mayor Regional Ntungamo dan kemudian menerima gelar sarjana dalam bidang teologi di Universitas Kepausan Urbanus, Roma dari 1982 sampai 1984. Ia mengahar di Seminari Santa Maria , Rubya selama dua tahun sambil membantu penugasan pastoral di Paroki Nshamba. Pada 5 Januari 1986, ia ditahbiskan menjadi deakon. Ia ditahbiskan menjadi imam pada 6 Juli 1986 untuk Keuskupan Bukoba, dan kemudian menjabat selama setahun sebagai sisten imam Paroki Nshamba. Dari 1987 sampai 1991, ia mempersiapkan karir diplomatik di Akademi Gerejawi Kepausan sesambil juga menerima gelar doktor dalam hukum kanon di Universitas Kepausan Urbanus.[1][2]
Karir diplomatik
Rugambwa masuk penugasan diplomatik Takhta Suci pada 1 Juli 1991, dan menjabat dalam misi diplomatik kepausan di Panama (1991–94), Republik Kongo (1994–97), Pakistan (1997–2000), Selandia Baru (2000–04), dan Indonesia (2004–07).[1][3] Ia diangkat menjadi sekretaris tingkat rendah Dewan Kepausan untuk Pelayanan Pastoral Migran dan Pengungsi pada 28 Juni 2007.
Pada 6 Februari 2010, ia diangkat menjadi uskup agung tituler Tagaria dan Nunsius Apostolik untuk São Tomé dan Príncipe.[4] Ia juga diangkat menjadi Nunsius Apostolik untuk Angola pada 20 Februari 2010.[5] Ia menerima penahbisan episkopal pada 18 Maret 2010 oleh Kardinal Tarcisio Bertone sebagai penahbis utama didampingi oleh Uskup Pier Giorgio Micchiardi dan Nestorius Timanywa.[6]
Paus Fransiskus mengangkatnya menjadi Nunsius Apostolik untuk Honduras pada 5 Maret 2015.[7]
pada 29 Maret 2019, Paus Fransiskus mengangkatnya menjadi Nunsius Apostolik untuk Selandia Baru dan Delegasi Apostolik untuk negara-negara Samudra Pasifik.[8][9] Pada 25 Mei, ia diberi penugasan Nunsius Apostolik untuk Fiji dan Palau.[10] Pada 30 November, ia diberi penugasan tambahan sebagai Nunsius Apostolik untuk Kepulauan Marshall, Kiribati, Nauru, dan Tonga.[11] Pada 17 April 2020, ia diangkat juga menjadi Nunsius Apostolik untuk Samoa.[12] Pada 2 Februari 2021, Rugambwa diangkat menjadi Nunsius Apostolik untuk Kepulauan Cook, sebuah jabatan yang telah lowong sejak 2018.[13] Pada 30 Maret, ia diangkat menjadi Nunsius Apostolik untuk Mikronesia.[14]
Penyakit dan kematian
Pada 29 Oktober 2023, Rugambwa menderita strok berat di Selandia Baru. Setelah singgah di rumah sakit dan beberapa rehabilitasi disana,[15][16][17] ia datang ke Roma pada Maret 2024 untuk meneruskan rehabilitasinya di fasilitas Katolik disana.[18]
Pada 27 Juli 2024, ia mengundurkan diri dari jabatannya sebagai nunsius untuk Selandia Baru dan delegasi untuk Samudra Pasifik.[19][20]
Rugambwa meninggal di Rumah Sakit Gemelli di Roma pada 16 September 2025, dalam usia 67 tahun.[21][22] Kardinal Parolin memimpin misa pemakamannya di Basilika Santo Petrus pada 25 September 2025.[23]