Nesebar atau Mesembria kuno adalah kota di Laut Hitam, Bulgaria, yang terletak di sebuah semenanjung kecil. Pada 72 SM, kota ini ditaklukkan oleh Romawi dan menjadi bagian permanen Kekaisaran Romawi, mempertahankan tembok pertahanan dan bangunan publiknya. Kota ini terus mencetak koin sendiri dan menjadi pusat perdagangan dan budaya penting. Setelah pengakuan Kristen sebagai agama resmi, banyak gereja dan infrastruktur baru dibangun, termasuk gereja St. Sophia. Nesebar masuk ke wilayah Bulgaria pada tahun 812 oleh Khan Krum dan tetap menjadi wilayah penting di bawah Tsar Simeon Agung. Pada abad ke-12 dan ke-13, kota ini menjalin perdagangan aktif dengan Mediterania, Adriatik, dan kerajaan utara Donau. Banyak gereja bersejarah dibangun, termasuk Santo Stefanus dan Santo Yohanes Pembaptis. Dari 1201 hingga 1263, Nesebar kembali menjadi bagian Bulgaria dan tetap berperan penting dalam politik Bulgaria dan Bizantium. Gereja-gereja lain seperti St. Paraskeva, St. Todor, dan St. Malaikat Agung Gabriel dan St. Malaikat Agung Michael dibangun mengikuti gaya arsitekturTarnovo. Kota ini menjalin hubungan dengan Konstantinopel, Venesia, Genoa, Pisa, Ancona, dan Dubrovnik. Pada masa Tsar Ivan Alexander, Nesebar mencapai kemakmuran, banyak biara dan gereja baru didirikan, dan kota ini menjadi pusat pendidikan religius. Dahulu terdapat sekitar 40 gereja, yaitu saat ini 23 gereja masih bertahan, sehingga kota ini dijuluki "Ravenna Bulgaria". Pada 1366, Nesebar ditaklukkan oleh ksatria Savoya dan kemudian diserahkan ke Bizantium. Kota ini akhirnya jatuh ke tangan Ottoman pada 1453, bersamaan dengan Konstantinopel.[2]