Navicula adalah grup musik asal Bali. Grup musik ini beranggotakan Gede Robi Supriyanto (Gede Robi) di vokal dan gitar, Dadang Pranoto (Dankie) di gitar, Supriatmoko (Palel Atmoko) di drum dan Krishnanda Adipurba (Khrisna) di bass. Band ini terkenal dengan warna musik grunge yang dipengaruhi kebudayaan Bali. Navicula juga menggunakan ragam musik seperti folk rock, rock psikedelis, funk, blues dan punk.[1] Karena seringnya berkecimpung di dunia aktivisme sosial dan lingkungan mereka dijuluki "the Green Grunge Gentlemen".[2][3][4]
Sebelumnya posisi bas diisi oleh Made Indra Dwi Putra yang meninggal pada 26 Maret2018.[5] Dan penabuh drum Gembull Rai memutuskan hengkang pada tahun 2017.[6]
Etimologi
Nama Navicula diambil dari nama sejenis ganggang emas bersel satu yang juga bernama navicula, kata ini juga berarti "kapal kecil" dalam Bahasa Latin.[7]
Sejarah
Navicula dibentuk pada tahun 1996, dengan formasi Robi di vokal, Dankie di gitar, Made di bass dan Gembul di drum. Saat itu para personil grup musik ini masih duduk di bangku SMA bahkan Made masih berusia 13 tahun saat band berdiri.[8] Menurut Robi ia mendapat nama untuk band ini saat berada di kelas biologi.[7]
Navicula pernah menjalin kerjasama bersama Sony-BMG untuk album mereka yang bertajuk "Alkemis".[4] Namun pada album berikutnya "Beautiful Rebel" (2007) mereka memutuskan memproduksi album tersebut secara independen.[4]
Dalam bidang aktivisme sosial, Navicula terlibat dalam gerakan "Bali Tolak Reklamasi" bersama musisi-musisi asal Bali lainnya seperti SID, Nostress dan The Bullhead yang memprotes koreksi Perpres 51 tahun 2014 yang disetujui Presiden Yudhoyono mengenai perizinan reklamasi di Tanjung Benoa.[17][18][19] Navicula bersama musisi-musisi Indonesia lainnya juga ikut andil dalam gerakan Koalisi Nasional Tolak RUU Permusikan atau #KNTLRUUPP yang menolak rancangan undang-undang permusikan Indonesia yang kontroversial. Bentuk protes ini dijalani dengan dirilisnya lagu berjudul "Dagelan Penipu Rakyat".[20]
Pada 26 Maret 2018, salah satu personilnya Made Indra meninggal dunia karena kecelakaan bersama calon istrinya, Afriani Dewi yang meninggal di lokasi kejadian. Made meninggal setelah mengalami cedera parah dan sempat dirawat di RSUP Sanglah, Bali.[5] Posisinya kemudian digantikan oleh Krishnanda Adipurba.[21] Pada 26 Maret 2019, tepat setahun setelah Made meninggal diadakan konser bertajuk "Tribute to Made Indra" yang diadakan di Taman Baca Kesiman, Bali.[22]