Karier bermusik
Nano mulai mencipta lagu sejak tahun 1963 sampai akhir hayatnya dengan kumpulan hampir duaratus album.[1] Tahun 1964, Ia bergabung dengan kelompok Ganda Mekar pimpinan Mang Koko, tetapi beberapa tahun kemudian mendirikan kelompok sendiri yang diberi nama Gentra Madya (1972). Banyak menciptakan lagu karawitan Sunda, di awal masih memperlihatkan pengaruh gurunya, Mang Koko, tetapi kemudian mulai memperlihatkan cirinya sendiri.
Pada 1976, Ia menyusun buku kawih untuk bahan pelajaran di sekolah menengah dengan judul Haleuang Tandang.
Dalam pergelaran yang disebut prakpilingkung (keprak[5], kacapi[6], suling[7], angklung[8]), Nano mempunyai komposisi Sunda dan Belanda sekaligus mengkritik berbagai ketidakberesan dalam masyarakat. Ia juga mentertawakan diri sendiri karena sering terjebak dalam situasi yang lucu.[3]
Pada 1979, Nano mengikuti Festival Komponis Muda Indonesia I yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta dan membawakan komposisinya Sang Kuriang. Selanjutnya, Nano menggelar pertunjukan karawitan Gending Sangkuriang di Festival Komponis Muda yang diselenggarakan di Taman Ismail Marzuki.
Selain itu, Nano membuat komposisi Umbul-Umbul yang ditayangkan pada televisi nasional dengan membawa 75 orang dan memainkan 15 ragam komposisi musik Sunda.[1]
Prestasi
Pada 1980, salah satu karyanya berjudul Karawitan Gending Sangkuriang disertakan di Festival Musik Internasional di Taiwan.
Pada 1981 hingga 1982, Nano mendapat beasiswa dari The Japan Foundation untuk belajar selama setahun di Tokyo National University of Fine Arts and Music, Universitas Kesenian Tokyo, untuk mempelajari perbandingan tangga nada Sunda dan Jepang, terutama antara alam musik Kecapi dan Koto. Selain itu, Ia juga belajar meniup Sakuhachi dan memetik Shamisen, yang kemudian membuat kolaborasi alat-alat itu pada ciptaannya dan membuat beberapa lagu karawitan Sunda yang berbahasa Jepang, diantaranya Katakana Hiragana Uta, Ueno Koen dan D'enshano Uta.[1]
Pada 1990, Ia diundang oleh departemen musik Universitas Santa Cruz untuk mengajar dan membuat pergelaran dalam Spring Performance.
Pada Oktober 1999, di Jepang, Ia memainkan lagu ciptaannya yang berjudul “Hiroshima“, yang dibuat khusus untuk memenuhi permintaan Wali Kota Hiroshima yang mengenalnya sebagai pencipta lagu.
Popularitasnya semakin menanjak setelah album-album rekaman kasetnya banyak diminati oleh masyarakat, diantaranya Kalangkang (Bayangan, 1989), lewat suara Nining Meida yang sekaligus mengorbitkan nama penyanyi itu, Kalangkang dalam versi pop Sunda yang dipopulerkan Detty Kurnia meraih penghargaan BASF Award (1989), dan setahun kemudian meraih penghargaan HDX Award yang terjual 2 juta kopi.[2]
Tiga tahun kemudian Cinta Ketok Magic (1992), melalui suara penyanyi dangdut Evie Tamala meledak di pasaran sehingga mendapat HDX Award tingkat Nasional. Meskipun lagu-lagu ciptaannya berjenis karawitan, tetapi dengan cepat memperoleh penggemar di seluruh Indonesia, bukan hanya dari kalangan orang Sunda saja, apalagi setelah lagu-lagu itu dijadikan pop Sunda. Selain itu, Ia juga membuat lagu untuk Gending Karesmen bersama Wahyu Wibisana, Rahmatullah Ading Affandie, dan lainnya. Gending Karesmen ciptaannya antara lain Deugdeug Pati Jaya Perang, Raja Kecit, 1 Syawal di Alam Kubur, Perang, dan sebagainya.
Pada 1988, Ia diminta oleh kelompok kesenian Jepang Min on impresario, untuk mengadakan pertunjukan kesenian Sunda di berbagai kota seluruh Jepang selama 40 hari dengan 22 kali pertunjukan. Selain itu, Nano juga berkunjung ke Hongkong, Philipina, Belanda, Australia, Amerika Serikat, dan sebagainya untuk mengadakan pertunjukan.[9]