Wahyu Wibisana (19 Januari 1935–13 Oktober 2014) adalah salah satu sastrawan Sunda[1].[2] Selain menjadi sastrawan dan tokoh budayawan, Wahyu juga adalah seorang guru yang telah pensiun. Riwayat pendidikannya lulusan dari IKIP Bandung. Wahyu banyak melahirkan karya, baik berupa tulisan maupun karya seni. Tulisannya berupa karya sastra berupa puisi, cerita pendek, esai, dan buku-buku bahasa Sunda. Dari sisi seni, Wahyu juga telah meghasilkan karya berupa gending karesmen. Karya gending karesmen yang cukup terkenal yaitu Si Kabayan jeung Raja Jimbul. Ketika berusia 19 tahun, sajak-sajak karya Wahyu sudah dimuat di majalah Soneta Sunda. Selain itu, sajak-sajaknya juga banyak diaransemen menjadi sebuah lagu atau kawih oleh Mang Koko. Hasilnya bisa didengarkan, seperti “Samoja”, Bungur Jalan ka Cianjur”,”Di Langit Bandung, Bulan keur Mayung".[1] Wahyu Wibisana meninggal pada tanggal 13 Oktober 2014, dan dimakamkan di Cisayong, Tasikmalaya.[1] Untuk mengenang jasa Wahyu Wibisana dalam mengembangkan budaya dan sastraSunda, Universitas Padjadjaran membuat sebuah pagelaran yang berjudul "Ti Cisayong ka Cisayong".[1][2]
Karya Sastra
Wahyu Wibisana sangat aktif menulis karya sastra, utamanya beliau sangat berdedikasi dalam pengembangan karya sastraSunda. Beberapa karyanya ada yang diberi judul Anaking Jimat Awaking yang diterbitkan tahun 2002 oleh PT. Kiblat.[3] Ada juga karya sastra yang Ia tulis dalam bentuk naskah drama, yang diberi judul Geber-Geber Hihid Aing yang diterbitkan oleh PT. Pustaka Sunda pada tahun 2010.[4] Wahyu Wibisana sangat totalitas dalam mengembangkan bahasa Sunda melalui karya sastra dan pendidikan. Hal ini dibuktikan dari penyususan cerita pantunMundinglaya Dikusumah yang dikhususkan untuk bacaan anak-anak.[5] Hal ini, mungkin karena latar belakang Wahyu adalah seorang pendidik (guru).[1] Buku tersebut diterbitkan PT. Rahmat Cijulang pada tahun 1982.[5] Selain karya sastra, Wahyu juga dipercaya untuk menyusun buku pelajaranbahasa Sunda untuk siswaSD kerja sama dengan Geger Sunten tahun 1995[6] dan buku Ngamumule Basa Sunda tahun 2011 yang diterbitkan oleh PT. Kiblat.[7] Karya-karya lainnya yaitu, Dua Utusan (1956), Wangsit Siliwangi (1964), Tonggérét Banén (1967), Tukang Asahan (1978), Urang Naon di Cinaon (Kumpulan Sajak-1992), Riring-Riring Ciawaking (1999), dan lain-lain.[8]
Gending Karesmen
Selain aktif di dunia menuliskarya sastra, Wahyu Wibisana juga aktif menggarap Gending karesmen. Garapan Gending karesmen adalah gabungan dari beberapa unsur kesenian. salah satu kesenian tersebut adalah senisastra. Dalam pementasannya senisastra berfungsi sebagai media melagukan narasi dari naskah yang berupa cerita dan lakon, atau biasa disebut prosa liris.[9] Karya gending karesemen yang terkenal yaitu "Mundinglaya Saba Langit", "Galunggung Ngadeg Tumenggung", dan "Si Kabayan jeun Raja Jimbul".[10][4]
Sajak-sajak karya Wahyu Wibisana sering diaransemen menjadi sebuah lagu atau kawih oleh Mang Koko.[10]Mang Koko adalah tokoh besar senimanJawa Barat, yang telah menghasilkan ribuan kawih Sunda. Wahyu Wibisana pernah bekerja sama dengan Mang Koko dalam menulis lirik lagu. Hasilnya adalah sebagai berikut:[10]