Nageia wallichiana adalah jenis tumbuhan runjung dari famili Podocarpaceae yang dapat tumbuh hingga sekitar 10–54 meter. Spesies ini tersebar luas di Brunei, Kamboja, Tiongkok, India, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Thailand, dan Vietnam, menjadikannya anggota dengan persebaran terluas di antara tujuh spesies dalam genus Nageia. Bila wilayah daratan Tiongkok dan Jepang tidak dihitung, pola persebarannya hampir sepenuhnya mewakili jangkauan genus tersebut, dengan batas barat mencapai India dan batas timur hingga Pulau Normanby. Rentang persebarannya yang sangat luas ini menjadikannya salah satu tumbuhan runjung dengan distribusi terbesar, sebanding dengan cakupan Dacrycarpus imbricatus dan Podocarpus neriifolius.[2]
Deskripsi
Pohon ini merupakan konifer tegak yang dapat mencapai tinggi sekitar 50 meter, dengan batang silindris dan getah bening yang sangat tipis. Kulit luarnya awalnya halus dengan pola bintik coklat dan putih, sedangkan kulit dewasa tampak keras, bersisik, dan berwarna coklat gelap hingga kemerahan, yang mudah mengelupas menjadi kepingan tipis. Bagian dalam kulitnya berwarna merah muda hingga kemerahan, setebal sekitar 5–6 mm, dan memiliki tekstur sedikit berserat. Kayunya beraroma khas, berwarna abu-abu, cukup padat, dan secara anatomis sangat halus dengan banyak sinar kayu dan garis pertumbuhan tahunan yang kurang jelas.[3][4] Mahkotanya dapat berbentuk kerucut atau cenderung bulat tidak beraturan. Daunnya tersusun berhadapan, kadang-kadang berhadapan silang, dan jarang berseling pada bagian ujung ranting. Ukuran daun umumnya 3–7 inci panjangnya dan 0,75–2 inci lebarnya, dengan tangkai daun sepanjang 5–10 mm yang terpilin sekitar 90 derajat di bagian dasar. Bentuk daun berkisar dari elips sempit hingga bulat telur-lanset, dengan ujung runcing atau tumpul, dan tekstur tebal seperti kulit. Daun meruncing pada kedua ujungnya dan memiliki banyak tulang daun memanjang, berwarna hijau gelap mengilap, dengan stomata yang tampak di kedua permukaan, terutama di bagian bawah.[5] Struktur pembawa serbuk sari muncul di ketiak daun, berada pada tangkai sepanjang 4–10 mm, dan biasanya tersusun dalam kelompok berisi sekitar 7–10 unit. Kerucut serbuk sarinya memanjang hingga berbentuk silinder ketika matang dan memiliki dua kantung serbuk sari. Sementara itu, kerucut biji juga tumbuh di ketiak daun pada tangkai yang relatif panjang, dengan beberapa daun pelindung yang rontok di bagian pangkalnya. Daun pelindung tersebut menyatu dengan tonjolan hijau yang kemudian berkembang menjadi wadah berwarna merah atau ungu. Di ujung wadah ini terbentuk biji berbentuk bulat telur berukuran sekitar 1 inci, yang terlindungi oleh epimatium hijau yang kemudian berubah menjadi struktur berdaging ungu saat matang. Musim berbuah berlangsung antara Januari dan Februari.[6]
Persebaran
Nageia wallichiana merupakan spesies dengan persebaran paling luas dalam genus Nageia dan dianggap sebagai salah satu tumbuhan runjung yang paling murni berhabitat tropis. Spesies ini tumbuh di hutan primer yang rapat, termasuk hutan tropis berdaun lebar, hutan campuran, serta hutan cemara di wilayah sub-pegunungan hingga pegunungan. Persebarannya mencakup berbagai kawasan di Asia, seperti provinsi Yunnan di Tiongkok, wilayah Indocina, serta Malaysia. Di India, spesies ini dijumpai di Assam, Kepulauan Andaman dan Nicobar, serta pegunungan Nilgiri dan Palani di Kerala. Selain itu, berbagai survei flora di Asia Tenggara mencatat keberadaannya di Kamboja, Laos, Vietnam, Tiongkok barat daya, Malaysia, wilayah Raja Ampat dan Maluku Utara di Indonesia, Thailand, serta Kalimantan.[7][8][9]
↑Farjon, Filer, A, D (2013). An Atlas of the World's Conifers: An Analysis of their Distribution, Biogeography, Diversity and Conservation Status. Brill, Leiden. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
↑Farjon, A (2010). A Handbook of the World's Conifers 2 vols.(2nd Ed.). Leidon-Boston: Brill.
↑Bourdillon, T. F (1908). The Forest Trees of Travancore. Trivandrum: The Travancore government press.
↑Sidiyasa, K. 2001. Tree diversity in the rain forest of Kalimantan. In: Hillegers, P.J.M. and De Iongh, H.H. (eds) The Balance Between Biodiversity Conservation and Sustainable Use of Tropical Rain Forests. Tropenbos International, Wageningen, pp: 69-78.