Babak I
Dalam adegan kilas balik, Abah dan Emak pertama kali bertemu saat demonstrasi mahasiswa, ketika Emak mengobati Abah yang terluka dalam aksi tersebut. Mereka kemudian menikah dan memiliki anak bernama Euis ("Janji").
Beberapa tahun kemudian, Euis memasuki jenjang sekolah menengah pertama, sedangkan adiknya Ara masih di sekolah dasar. Pada ulang tahun Euis ketiga belas, kediaman mereka disita akibat Abah ditipu oleh Fajar, kakak Emak. Keluarga mereka memutuskan untuk pindah ke rumah Kakek yang berada di Kampung Cinangneng. Sesampainya di kampung tersebut, mereka disambut oleh para warga, yakni Romli, Ceu Salmah, Ceu Kokom, Cici, Angelica, Asep Bisep, Telmi Yahya, Dede, dan Teh Nurita. Euis menganggap keputusan mereka untuk pindah tidak adil dan merasa bahwa Abah tidak mempertimbangkan suaranya ("Semua Percuma"). Hari pertama di sekolah baru, Euis disambut oleh teman-teman sekelas ("Good Vibes Only"). Namun, hari tersebut tidak berakhir baik karena Euis mengalami menstruasi untuk pertama kalinya.
Abah yang lelah mencari pekerjaan baru, akhirnya memutuskan untuk melamar menjadi kuli bangunan pada Tante Pressier. Pada saat yang sama, Emak memutuskan untuk memulai usaha berjualan opak, dibantu pinjaman uang Ceu Salmah ("Pintu Kesempatan"). Ketika makan malam, Emak mengetahui bahwa ia sedang mengandung anak ketiga. Ia merasa tidak yakin karena waktunya tidak tepat ("Rencana Bukan Bencana"). Namun, Abah meyakinkan Emak kembali.
Euis nekat pergi ke kota seorang diri untuk mengikuti lomba tari bersama teman-temannya dari sekolah lama ("Waktunya Membuktikan"). Namun, setibanya di kota, ia mendapati posisinya di grup tarinya telah digantikan oleh orang lain. Setibanya di rumah, Abah meluapkan kemarahannya kepada Euis. Namun, Emak berusaha meredakan situasi dan menyampaikan bahwa Euis juga memerlukan waktu untuk beradaptasi ("Karena Kita Bersama"). Ara mencoba menghibur Euis yang bersedih dengan cerita yang ia tulis mengenai pohon cemara. Mereka masuk dalam imajinasi Ara ("Indah Apa Adanya").
Euis membawa opak buatan Emak untuk dijual di sekolah. Ia kemudian dibantu oleh teman-teman sekelasnya untuk berjualan ("Opak Party"). Karena siswa dilarang berjualan di lingkungan sekolah, Bu Guru Neneng meminta para murid untuk mengakui siapa yang menjadi dalangnya. Rindu, Ima, Deni, dan Andi secara sukarela mengaku bahwa merekalah yang berjualan. Peristiwa tersebut membuat Euis menyadari makna persahabatan yang sesungguhnya ("Tempat Hatiku Berada").
Babak II
Setibanya di rumah, Euis dan Ara melihat Tante Pressier sedang berbincang dengan Abah dan Emak mengenai rencana penjualan rumah mereka. Karena telah merasa betah dengan lingkungan barunya, Euis dan Ara berusaha mencari cara untuk menggagalkan rencana tersebut ("Jual/Bertahan"). Mereka kemudian mengambil sertifikat rumah dari tangan Abah. Abah merasa geram atas tindakan perbuatan mereka dan mulai diliputi kebingungan serta merasa kehilangan arah dalam memperjuangkan yang terbaik bagi keluarganya ("Tak Sendiri"). Abah mengajak Euis untuk berbicara dan menumpahkan perasaan hatinya ("Pelukku Sementara, Hatiku Selamanya").
Ulang tahun Euis yang keempat belas dirayakan bersama warga kampung. Namun, di tengah perayaan, air ketuban Emak pecah sehingga ia harus melahirkan di rumah dengan bantuan para warga. Beberapa waktu kemudian, keluarga mereka mengadakan pertunjukan bertajuk Musikal Keluarga Cemara dan mengundang warga kampung serta teman-teman mereka ("Cemara Bahagia"). Mereka mengumumkan bahwa rencana untuk menjual rumah dibatalkan dan mereka tetap tinggal di Kampung Cinangneng.