Kehidupan awal
Arswendo lahir dengan nama Sarwendo di Surakarta, Jawa Tengah, pada tanggal 26 November 1948.[1] Ia mengganti nama depannya menjadi Arswendo dan menambahkan nama bapaknya, Atmowiloto, di belakang.[1] Setelah lulus SMA, Arswendo kuliah di fakultas bahasa dan sastra IKIP Solo, tetapi tidak tamat. Tahun 1979, ia mengikuti International Writing Program di Universitas Iowa.[4][5]
Ia pernah memimpin Bengkel Sastra Pusat Kesenian Jawa Tengah di Solo (1972), wartawan Kompas dan pemimpin redaksi Hai, Monitor, dan Senang. Kakaknya, Satmowi Atmowiloto, adalah seorang kartunis.[1]
Karier
Setelah berhenti kuliah, Arswendo bekerja serabutan, sempat bekerja di pabrik bihun dan pabrik susu. Ia juga pernah menjadi penjaga sepeda dan menjadi pemungut bola. Tahun 1971, ia menerbitkan cerita pendek pertamanya yang berjudul Sleko di majalah Bahari. Sejak 1972, ia menjadi pemimpin bengkel sastra Pusat Kesenian Jawa Tengah di Solo. Tahun 1974, ia menjadi konsultan rumah penerbit Subentra Citra Media.[5] Pada tahun 1970-an, Arswendo menulis Keluarga Cemara, cerita populer tentang keluarga kecil yang hidup jauh dari ibu kota. Cerita ini kelak diadaptasi menjadi sinetron dan film.[5][6][7]
Pada tahun 1980-an, Arswendo menulis novel yang diadaptasi dari film Serangan Fajar dan Pengkhianatan G30S/PKI.[8] Tahun 1986, Arswendo menjadi pemimpin redaksi majalah Monitor. Tahun 1988, ia bergabung dengan dewan redaksi majalah Senang.[5] Monitor awalnya merupakan surat kabar, kemudian diubah oleh Arswendo menjadi tabloid yang mengulas film, televisi, dan hiburan.[9] Dalam satu edisi tahun 1990, Tempo menyebut Arswendo sebagai "penulis Indonesia yang paling produktif".[8]
Kontroversi
Pada tanggal 15 Oktober 1990,[10] Monitor merilis tabel nama berjudul "Ini Dia: 50 Tokoh yang Dikagumi Pembaca". Dari 50 tokoh yang ada dalam daftar itu, Arswendo menempati peringkat ke-10, di atas Muhammad (ke-11). Peringkat ini menuai kritik dari para tokoh Muslim (kecuali Abdurrahman Wahid yang berpendapat bahwa Monitor punya hak terbit[11]). Massa yang marah berdatangan ke kantor Monitor pada 17 Oktober, dua hari setelah daftarnya dirilis.[10]
Arswendo meminta maaf secara terbuka melalui siaran televisi pada tanggal 19 Oktober. Ia meminta maaf karena menerbitkan hasil jajak pendapat "tanpa penyuntingan". Tabloid Monitor juga merilis permohonan maaf di berbagai surat kabar di seluruh Indonesia.[10] Keesokan harinya, unjuk rasa pecah di Jakarta dan Bandung. Staf Monitor mulai menyelamatkan arsip dan dokumen tabloid pada malam tanggal 21 Oktober. Monitor edisi 22 Oktober memuat pernyataan maaf.[10] Pada 22 Oktober, sejumlah kelompok pemuda Muslim berunjuk rasa di jalanan dan merusak kantor Monitor.[10] Monitor, tabloid yang peredarannya mencapai 470.000–720.000 eksemplar saat itu,[13] berhenti terbit setelah izinnya dicabut pada 23 Oktober oleh Menteri Penerangan Harmoko (pemegang saham Monitor)[10] dan Arswendo diberhentikan oleh Gramedia.[8] Pers menjuluki Arswendo sebagai "Salman Rushdie-nya Indonesia".[13][14]
Arswendo secara resmi ditahan polisi pada tanggal 26 Oktober 1990. Namun, ia mengatakan dalam satu wawancara bahwa ia masih bebas sebelum vonis hakim dan "dijebloskan ke sel cuma sehari saat wartawan mau wawancara".[10] Pada April 1991, Arswendo dituduh melakukan subversi dan dihukum lima tahun penjara.[13] Pengadilan menyatakan Arswendo seharusnya menyunting hasil kuis untuk mencegah provokasi terhadap pembaca yang masih muda. Persidangan Arswendo menjadi salah satu persidangan yang paling ketat pengamanannya dalam sejarah Indonesia. Tempo menulis sekitar 1.000 personel dikerahkan untuk mengamankan jalannya sidang.[10]
Di penjara, Arswendo menulis sejumlah karya sastra, cerita bernada absurd, dan anekdot humor.[5] Salah satu tulisan yang dibuatnya di penjara, Menghitung Hari, bercerita tentang kehidupan di penjara dan diterbitkan tahun 1993. Pada tahun 1995, Menghitung Hari diangkat menjadi sinetron di SCTV yang kelak memenangi penghargaan film terbaik di Festival Sinetron Indonesia 1995. Atas keberhasilan sinetron ini, kegiatan syukuran diadakan di dalam penjara.[9] Arswendo menulis kurang lebih 20 buku di tahanan, rata-rata memakai nama samaran.[15] Arswendo dibebaskan pada bulan Agustus 1993.[13]
Pasca-penjara
Arswendo kembali menggeluti sastra dan jurnalisme setelah bebas dari penjara. Ia menjadi pemimpin redaksi tabloid Bintang Indonesia selama tiga tahun, kemudian mendirikan perusahaan medianya sendiri, PT Atmo Bismo Sangotrah, pada tahun 1998. Perusahaan ini memayungi beberapa media cetak, termasuk tabloid anak Bianglala, Ina (lalu berganti nama menjadi Ino), dan Pro-TV. Dua tabloid ditutup karena Arswendo tidak sejalan dengan mitranya; hanya Ino yang bertahan.[10]