Jl. Jend. Ahmad Yani, Ngupasan, Kec. Gondomanan, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55122
Jenis
Galeri Lukisan Istana Presiden
Koleksi penting
lukisan karya Basuki Abdullah, Soedjojono, Affandi, Dullah, dan masih banyak lagi.
Ukuran koleksi
494 lukisan cat minyak, akrilik ,kaca, batik, pastel, dan cat air
Museum Istana Kepresidenan Yogyakarta adalah sebuah museum yang terletak di Jalan Ahmad Yani, Ngupasan, Gondomanan, Kota Yogyakarta.[1] Museum ini berada di ujung selatan kawasan pariwisata terkenal Malioboro dan di seberang Museum Benteng Vredeburg. Penduduk lokal menyebut museum ini dengan nama Gedung Agung.[2] Di dalamnya terdapat beberapa bangunan yaitu gedung utama sebagai tempat pelantikan Gubernur dan Wakil Gubernur DIY serta acara resmi lainnya. Selain itu, terdapat juga beberapa wisma sebagai tempat penginapan tamu-tamu penting antara lain Wisma Negara, Wisma Sawojajar, Wisma Indraprasta, dan Wisma Saptapratala. Museum terbuka untuk umum pada hari Senin sampai Kamis. Pengunjung memasuki museum melalui pintu utara Gedung Agung lalu melewati pos pemeriksaan keamanan. Tidak terdapat pungutan biaya masuk, hanya saja pengunjung perlu melakukan reservasi terlebih dahulu.
Gedung Agung
Beranda depan Gedung Agung
Gedung Agung memiliki gaya arsitektur indis ditandai dengan keberadaan pilar-pilar pada bagian beranda dan pintu-pintu yang berukuran masif. Fasad bangunan menghadap ke arah timur. Pada bagian depan Gedung Agung terdapat sebuah taman berbentuk lingkaran yang dihias dengan berbagai macam koleksi bersejarah seperti arca dan dagoba. Pada bagian dalam Gedung Agung terdapat banyak koleksi barang seni yang bernilai sangat tinggi seperti lukisan karya Basuki Abdullah, Soedjojono, Affandi, Dullah, dan masih banyak lagi. Setiap ruangan pada Gedung Agung memiliki fungsinya masing-masing. Ruangan Garuda berfungsi sebagai tempat menyambut tamu-tamu negara dan melantik Gubernur beserta Wakil Gubernur Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Perubahan Fungsi
Selama masa revolusi Gedung Agung berfungsi sebagai pusat pemerintahan. Pada masa kemerdekaan, sebagai kantor dan kediaman resmi Presiden Republik Indonesia, sekaligus persinggahan/menginap tamu-tamu negara, baik yang secara resmi datang untuk kepentingan kenegaraan maupun secara tidak resmi melakukan kunjungan ke objek-objek wisata di Yogyakarta. Sejak tanggal 17 April 1988, Istana Kepresidenan Yogyakarta juga digunakan untuk penyelenggaraan Upacara Parade Senja pada Setiap Tanggal 17 dan sejak tanggal 17 Agustus 1991, secara resmi Istana Yogyakarta digunakan sebagai tempat memperingati Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan untuk Daerah Istimewa Yogyakarta [3].
Kompleks Seni Sono
Pada tanggal 20 September 1995, Kompleks Seni Sono seluas 5.600 m2, terletak di sebelah selatan, awal mulanya milik Departemen Penerangan, kini menjadi bagian dari Istana Kepresidenan Yogyakarta. Kompleks Seni Sono mulai dipugar pada tahun 1995 dan terdiri atas gedung auditorium, gedung tempat penyimpanan koleksi benda-benda seni, gedung pameran dan perkantoran. Auditorium ini semula adalah gedung Seni Sono yang dibangun pada 1915 dan diperuntukkan sebagai tempat pertunjukkan kesenian terpilih yang berkaitan dengan acara kenegaraan. Gedung yang diperuntukan sebagai tempat penyimpanan koleksi benda-benda seni semula adalah bangunan kuno yang dibangun Belanda pada 1911 dan terakhir digunakan sebagai kantor PWI/Antara. Bangunan yang diperuntukkan untuk gedung pameran dan perkantoran semula adalah bangunan kantor Departemen Penerangan.
Gedung Senisono yang dulunya dipakai sebagai ruang berkesenian, sekarang menjadi Museum Istana, koleksi benda seni dari Presiden RI ditampilkan, mulai dari Presiden Soekarno yang meliputi lukisan, patung, kriya, keramik, maupun berbagai cenderamata kepresidenan. Museum ini diresmikan kembali oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 2014, bersamaan dengan diresmikanya Museum Balai Kirti pada 18 Oktober 2014 yang ada di Istana Kepresidenan Bogor[4]
Koleksi lukisan pada Istana Kepresidenan Yogyakarta sebanyak 494 lukisan dengan 435 lukisan tercatat sebagai Barang Milik Negara (BMN) yang tersebar di seluruh kawasan istana. Lukisan tersebut antara lain lukisan dengan bahan dasar cat minyak, kaca, batik pastel, cat air, dan akrilik. Tema lukisan antara lain pemandangan alam, objek (still life), potret, figur manusia, abstrak, sejarah, lokalitas, kaligrafi, dan kebangsaan.