Riwayat Hidup
Kehidupan awal
Sudjojono lahir di Kisaran, Sumatera Utara dari keluarga transmigran asal Pulau Jawa. Ia lahir dengan nama Sudjijono Sindudarmo, yang secara arti ialah Sudjojono anak Sindu.[4] Kedua orang tuanya adalah buruh kontrak dari Pulau Jawa yang dipekerjakan di Sumatera pada awal abad ke-20.[5] Ayahnya bernama Sindudarmo adalah buruh perkebunan tembakau di Kisaran, sementara ibunya bernama Marijem adalah buruh perkebunan karet di Deli.[5]
Masa sekolah
Saat berada di sekolah menengah pertama tahun 1928, dia memutuskan mengubah namanya, dengan menghilangkan huruf "i" dalam namanya karena sulit untuk dilafalkan dengan lidahnya.[5] Selain itu, nama belakang Sindudarmo juga diubah menjadi inisial "S" dan ditempatkan di depan.[5] Sejak saat itu, namanya menjadi S. Sudjojono.
Ia lalu dijadikan anak angkat oleh seorang guru HIS, Joedhokoesoemo. Oleh bapak angkat inilah, Djon (nama panggilannya) diajak ke Jakarta (waktu itu masih bernama Batavia) pada 1925. Ia menamatkan HIS di Jakarta, lalu melanjutkan SMP di Cimahi, dan menyelesaikan sekolah guru di Taman Guru, Perguruan Taman Siswa, Yogyakarta. Di Yogyakarta itulah ia sempat belajar montir sebelum belajar melukis kepada RM Pirngadi selama beberapa bulan. Sewaktu di Jakarta, ia belajar kepada pelukis Jepang, Chioyi Yazaki.
Karier guru
Ia sempat menjadi guru di Taman Siswa seusai lulus dari Taman Guru di perguruan yang didirikan oleh Ki Hajar Dewantara itu. Ia ditugaskan oleh Ki Hajar Dewantara untuk membuka sekolah baru di Rogojampi, Banyuwangi, tahun 1931.
Pelukis
Namun ia kemudian memutuskan untuk menjadi pelukis. Pada tahun 1937, ia ikut pameran bersama pelukis Eropa di Bataviasche Kunstkring, Jakarta. Inilah awal namanya dikenal sebagai pelukis.
Pada 23 Oktober 1938 ia menjadi pionir mendirikan Persatuan Ahli Gambar Indonesia (Persagi).[3] Oleh karena itu, masa itu disebut sebagai tonggak awal seni lukis modern berciri Indonesia. Ia sempat menjabat sebagai sekretaris dan juru bicara Persagi.
Pada tahun 1946 ia mendirikan SIM (Seniman Muda Indonesia) bersama Trisno Sumardjo, Abdul Salam, Sunindyo, Subidio, dan Basuki Resobowo.[3] Selain sebagai pelukis, ia juga dikenal sebagai salah satu kritikus seni rupa pertama di Indonesia.
Lukisannya punya ciri khas kasar, goresan dan sapuan bagai dituang begitu saja ke kanvas. Objek lukisannya lebih menonjol kepada kondisi faktual bangsa Indonesia yang diekspresikan secara jujur apa adanya. Contohnya pada lukisan "Di Depan Kelambu Terbuka" yang melukiskan perempuan yang duduk di atas ranjang dengan kelambu yang terbuka. Perempuan tersebut dikisahkan adalah seorang bernama Adhesi. Soedjojono mengatakan bahwa dia adalah pelacur di wilayah Pasar Senen, Jakarta yang dicoba untuk dientaskannya. Soedjojono sempat hidup berdua selama beberapa waktu, meskipun akhirnya Adhesi kembali lagi ke dunia yang dijalani sebelumnya.[3]
Pandangan Politik
Sebagai seorang kritikus seni rupa, ia dianggap memiliki jiwa nasionalis. Djon sering mengecam Basoeki Abdoellah sebagai tidak nasionalistis karena hanya melukis keindahan Indonesia sekadar untuk memenuhi selera pasar turis. Dua pelukis ini pun kemudian dianggap sebagai musuh bebuyutan.
Sengketa ini mencair ketika Ciputra, pengusaha penyuka seni rupa, mempertemukan Djon, Basoeki Abdoellah, dan Affandi dalam pameran bersama di Pasar Seni Ancol, Jakarta.
Pada masa Orde Lama, ia pernah ikut dalam Lekra dan bahkan Partai Komunis Indonesia serta sempat menjadi wakil partai di parlemen. Di akhir hidupnya dia masih mengkritisi dunia politik, salah satunya tentang pemerintahan Orde Baru.
Pameran
- Pameran bersama pelukis Eropa di Batavia (1937)
- Fukuoka Art Museum (Jepang, 1980)
- Festival of Indonesia (USA, 1990–1992)
- Gate Foundation (Amsterdam Belanda, 1993)
- Singapore Art Museum (Singapura, 1994)
- Center for Strategic and International Studies (Jakarta Indonesia, 1996)
- ASEAN Masterworks (Kuala Lumpur Malaysia, 1997–1998)
- Pameran Sketsa dan Peluncuran Buku "Hidup Mengalun Dendang" di Bentara Budaya Jakarta, 6-13 Juni 2017