Abu al-Husain Ahmad bin Abdullah bin Muhammad bin Isma'il (Arab: أَبُو ٱلْحُسَيْن أَحْمَد ٱبْن عَبْد ٱللَّٰه ٱبْن مُحَمَّد ٱبْن إسْماعِيل, romanized:Abū al-Ḥusayn Aḥmad ibn ʿAbd Allāh ibn Muḥammad ibn Ismāʿīlcode: ar is deprecated ; sekitar 790–840), yang umum dikenal sebagai Muhammad al-Taqi (Arab: مُحَمَّد ٱلْتَقِيّ, romanized:Muḥammad al-Taqī, har.'Muhammad yang Saleh'code: ar is deprecated ), adalah Imam Ismailiyah kesembilan yang menggantikan ayahnya, Ahmad al-Wafi (meninggal 828).
Seperti ayahnya, ia terutama tinggal di Salamiyah, dan Abdullah bin Maymun al-Qaddah, kepala pendakwah, terus bertindak sebagai hijab ('penutup') baginya. Dikenal dengan gelar Sahib al-Rasa'il ('penguasa surat-surat'), al-Taqi disebut telah menyusun bersama para pengikutnya sebuah karya ensiklopedis berjudul Ensiklopedia Ikhwan al-Safa (Rasa'il Ikhwan al-Safa). Ia meninggal pada 840 di Salamiyah dan digantikan oleh putranya, al-Husain.
Biografi
Ahmad bin Abdullah lahir pada 174 H/790 M.[1] Ia menggantikan ayahnya sebagai pemimpin kedua dakwah Ismailiyah dan, seperti ayahnya, hidup sebagai seorang pedagang di Salamiyah, Suriah.[2][3] Hujjah-nya adalah Abdullah bin Maymun al-Qaddah, kepala da'i, yang terus bertindak sebagai hijab ('penutup') baginya.[4][1][5] Al-Taqi kemungkinan hidup pada akhir abad kedua dan awal abad ketiga Hijriah.[6] Ia memiliki reputasi sebagai sosok yang sangat berilmu.[7]
Al-Taqi dikenal sebagai pedagang Hasyimiyah terkemuka, sehingga banyak orang datang ke kediamannya.[1][8][7] Hal ini menimbulkan kecurigaan gubernur Suriah, yang kemudian melaporkannya kepada khalifah Abbasiyah al-Ma'mun (memerintah 813–833). Sang khalifah memerintahkan penangkapan al-Taqi, tetapi ia telah lebih dahulu meninggalkan Salamiyah selama beberapa tahun.[1][8] Selain menyebarkan ajarannya melalui para da'i, al-Taqi juga aktif terlibat dalam persoalan sosial dan filsafat pada masanya.[9]
Menurut cendekiawan Arab abad ke-10 Ibnu al-Nadim (meninggal 995), al-Taqi mengirim da'i al-Husain al-Ahwazi ke wilayah sekitar Kufah.[2][10] Tokoh tersebut kemudian berhasil mengislamkan Hamdan Qarmat dan mendirikan sekte "Qarmatiyah" di Irak.[11][10] Penulis anti-Ismailiyah Akhu Muhsin (meninggal 965) mengklaim bahwa al-Taqi mengarahkan da'i Abu Abdallah al-Shi'i ke Maghrib pada 279 H/892–893 M dan dengan demikian meletakkan dasar bagi kekuasaan Fatimiyah di sana.[2]
Literatur sektarian mengaitkan kepadanya penerbitan Ensiklopedia Ikhwan al-Safa (Rasa'il Ikhwan al-Safa'), yang membuatnya dikenal dengan gelar Sahib al-Rasa'il ('penguasa surat-surat').[12][13][14] Beberapa sumber Ismailiyah bahkan melaporkan bahwa penyusunan Rasa'il mungkin sudah dimulai sejak masa Imam Ja'far al-Sadiq sendiri dan diteruskan oleh tiga penerus Imam tersembunyinya.[14] Judul tersebut menggambarkan karya itu sebagai hasil kelompok "Ikhwan al-Safa" atau "Persaudaraan Kemurnian", sebuah perkumpulan yang berkembang di Basra dan membahas sastra, agama, filsafat, serta ilmu pengetahuan.[7][15] Dalam karya tersebut, kebijaksanaan pra-Islam seperti filsafat Helenistik dan astrologi Babilonia dipadukan dengan gagasan-gagasan Ismailiyah.[9]
Risalah-risalah itu disusun secara rahasia di dalam sebuah gua, dan setelah jumlah salinannya cukup banyak, semuanya ditempatkan secara serentak di masjid-masjid utama wilayah Abbasiyah.[9][15][14] Dalam risalah ke-44 terdapat sebuah pernyataan mengenai Yesus (Isa) yang dianggap unik dalam literatur Islam.[16] Penerbitan Rasa'il memicu kegelisahan terhadap Ismailiyah; karena itu, al-Taqi mengambil langkah berjaga-jaga dengan terus berpindah-pindah antara Daylam, Kufah, dan Askar Mukram — kampung halaman ayahnya — selalu dengan menyamar sebagai seorang pedagang.[17][2]
Menurut tradisi Ismailiyah, khalifah al-Ma'mun sangat ingin mengetahui sumber Rasa'il Ikhwan al-Safa dan mengumpulkan sekelompok cendekiawan untuk membahas teks tersebut; seorang wakil al-Taqi yang populer disebut Da'i al-Tirmidhi ikut serta dalam diskusi itu.[9][8] Al-Ma'mun berpura-pura telah sepenuhnya menerima doktrin Ismailiyah dan menyatakan keinginannya untuk bertemu dengan al-Taqi. Ia berkata, "Aku adalah pecinta setia Imam [al-Taqi]. Aku memiliki keinginan untuk menyerahkan kekhalifahanku kepada Imam ketika aku melihatnya dan akan melayaninya dengan sepenuh hati".[8] Namun, al-Tirmidhi meragukan ketulusan permintaan tersebut dan, demi melindungi al-Taqi, ia mengatakan bahwa dirinya sendirilah sang Imam.[9] Al-Ma'mun segera memerintahkan pemenggalan kepala al-Tirmidhi.[18][19][9]
Al-Taqi dilaporkan meninggal pada 225 H/840 M di Salamiyah setelah mewariskan jabatan Imamah kepada putranya, al-Husain yang bergelar Abdullah al-Radi.[20][13][17] Putranya yang lain, Muhammad Abu'l-Shalaghlagh yang bergelar Sa'id al-Khayr, memiliki keturunan yang tinggal di Salamiyah dan dibunuh oleh kaum Qarmatiyah pada 290 H/902 M.[20]
Rahim, Habibeh (2004). "Taqi Muhammad". Dalam Jestice, Phyllis G. (ed.). Holy People of the World: A Cross-Cultural Encyclopedia. Bloomsbury Academic. ISBN978-1-57607-355-1.