Muhammad Tok Wan Haria (15 November 1932 - 30 Januari 2025) atau lebih dikenal dengan nama umum Muhammad TWH adalah seorang tokoh perjuangan pers di Sumatera Utara. Ia telah menjadi wartawan senior yang juga kolumnis dan penulis buku sejak dirinya masih di bangku perkuliahan. Ia merupakan pendiri Museum Perjuangan Pers Sumut yang menjadi museum pers pertama di Indonesia. Dirinya dilakoni sebagai wartawan tiga zaman di Aceh dan Medan, bersama dengan Mohammad Said dan Ani Idrus.[1]
Latar belakang
Dilahirkan pada tanggal 15 November 1932, anak dari Abdurrahman TWH, seorang tokoh pejuang kemerdekaan di Geureudong Pase, Aceh Utara.[2] Sejak kecil, TWH sudah akrab dengan dunia komunikasi lantaran melihat sosok sang ayah yang merupakan salah satu Kepala Penerangan Tentara Resimen Divisi X sekaligus juga seorang wartawan di Media Seruan Kita. Ketika ia masih menjadi siswa Sekolah Menengah Islam (SMI) di Lhokseumawe, TWH ikut berjuang dan bergabung dalam Tentara Pelajar Indonesia ( TPI). Pada awal perang kemerdekaan, seluruh pelajar harus memilih antara Tentara Republik Indonesia atau Tentara Pelajar Islam (TPI). Ia ditugaskan untuk penerimaan berita maupun foto, serta memberikan informasi kepada masyarakat mengenai kondisi Indonesia pada era kemerdekaan melalui siaran radio.[3]
Setelah Agresi Militer Belanda berakhir, TWH pindah ke Medan pada tahun 1950. Kemudian, ia melanjutkan pendidikan di SMP Josua dan kemudian masuk ke SMA Tagore. Ia menamatkan sekolah menengahnya dan melanjutkan studi hingga meraih gelar di Akademi Pers Indonesia (API) Medan. Pada saat TWH berusia 22 tahun, ia bekerja di Harian Mimbar Umum (Nama awal ketika terbit pada 6 November 1945, 'Mimbar Oemoem') pada tahun 1954. Ia menjabat sebagai redaktur olahraga hingga kemudian menjadi wakil pimpinan redaksi. Saat bekerja, ia suka menyimpan foto-foto dan mengoleksi berbagai dokumentasi serta arsip terutama terkait sejarah perjuangan bangsa di rumahnya. Kesukaan mengoleksi dan menyimpan dokumentasi itu kemudian dia tularkan di kantornya. Ketika menjadi wakil pemimpin redaksi, ia sering menugaskan pegawainya untuk mencari koleksi lain untuk mengisi perpustakaannya.[4]
Di Mimbar Umum, ia sering ditugaskan untuk menghadiri liputan bahkan acara internasional. TWH pernah memimpin rombongan wartawan Indonesia sebanyak 20 orang yang meliput Pesta Olahraga Ganefo Asia di Kamboja. Selanjutnya pada 1970 menjadi Wakil Tim Manager Regu Sepakbola Pardedetex melakukan perjalanan keliling Asia, mulai dari Malaysia, Thailand, Hongkong, Jepang (Tokyo, Osaka, Kobe, Hiroshima), dan Taiwan.[5]
Pada tahun 1971, TWH dipercayakan untuk meliput Kejuaraan Dunia Bowling di Singapura. Kemudian pada 1975, ia juga menghadiri SEA Games di Kuala Lumpur, Malaysia. Ia diundang untuk meliput Kejuaraan Dunia Bowling di Bangkok pada tahun 1979. Selanjutnya, ia lulus seleksi menjadi tim regu bowling dari Indonesia ke Manila, Filipina.
Tidak hanya sampai disitu, dia juga pada 1982 beliau melakukan kunjungan Jurnalistik ke Mesir (Cairo, Ismailyah, El Aris, dan Rafah). Selanjutnya pada tahun 1983 melakukan kunjungan ke Amerika Serikat, dalam rangka mengikuti serta melihat dari dekat pelantikan Presiden Ronald Reagen periode ke 2. Kemudian pada1988 menghadiri temu sastrawan nusantara di Serawak Malaysia atas undangan panitia setempat.
Selanjutnya, pada tahun 1985 melanjutkan ke Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Medan dan mendapat gelar Sarjana.
Saat menginjak usia 88 tahun, TWH mewakafkan rumah pribadi dan koleksi berharganya nya untuk dijadikan sebagai bangunan bersejarah yang diberi nama Museum Perjuangan Pers Sumatera Utara yang berada di Jalan Sei Alas No.6, Sei Sikambing D, Kecamatan Medan Petisah, Kota Medan.[6]
Kematian
Muhammad TWH tutup usia pada 30 Januari 2025 di rumah sakit Royal Prima dikarenakan penyakit strok.[7] Ia meninggal pada usia 92 tahun dan meninggalkan 5 orang anak dan 11 orang cucu. Mufti Mutawatir TWH yang merupakan cucu dari Muhammad TWH menceritakan kenangannya bersama kakek semasa hidup, hingga diberi amanah untuk menjaga Museum Perjuangan Pers miliknya.
Penghargaan
TWH mendapat Penghargaan Kepeloporan Pers atas perannya sebagai Tokoh Pers Tiga Jaman yang diserahkan oleh JokoWidodo dan Panitia Pusat HPN 2023 di Gedung GSG Pancing, bertepatan dengan perayaan Hari Pers Nasional 2023. TWH mendapatkan Press Card Number One atau Kartu Pers Nomor Satu yang diberikan kepada wartawan profesional dengan kompetensi dan integritas tinggi.[8]
Karya
Terhitung ada 27 buku yang telah diterbitkannya sejak tahun 1986 yang berjudul Pertarungan di Front Barat Medan Area dan yang terbaru berjudul Sejarah Pers dan Pendidikan Dasar Perfilman/Sinetron (2013).[9]
Pertarungan di Front Barat Medan Area (1986)
Teknik Menulis (1989)
Perjuangan dan Pembangunan Labuhan Batu (1998)
Perjuangan Rakyat Sumatera Utara Dalam Gambar (1991)
Sejarah Teater dan Film di Sumut (1992)
Api Berkobar di Kampung Masjid (1995)
Mengenal Para Gubernur Sumut (1947-1998)
Perlawanan Pers Sumut dalam Gerakan PKI (1997)
Belanda Gagal Rebut Pangkalan Berandan (1997)
Peristiwa Sejarah di Sumatera Utara (2011)
Jepang Rebut Malaya dan Duduki Sumatera (2012)
Ketuhanan YME (Pancasila, Pendalaman, dan Penghayatannya (2013)
Sejarah Pers dan Pendidikan Dasar Perfilman/Sinetron (2013)